MEMBACA DISAAT YANG TEPAT
Membaca…siapa yang suka membaca? Semua orang pasti membaca saat ini, mulai membaca pesan masuk ke hp ataupun di sosial media. Namun yang dimaksudkan bukan membaca pesan yang masuk tetapi membaca buku, baik itu buku asli atau buku elektronik.
Tingkat membaca di Indonesia mungkin lebih rendah dibandingkan dengan Negara lain, apalagi dengan adanya telepon genggam yang semakin modern dan bisa mendapatkan apapun darinya. Mencari bacaan apapun ada, tinggal mencari aplikasinya lalu di instal di telepon genggam. Selesai, maka bisa langsung membaca. Tetapi, anak-anak sekarang yang banyak dilihat adalah video-video juga permainan2. Memang bagus juga buat anak tetapi tidak bagus untuk mata, karena radiasi dari cahaya telepon genggam akan mengakibatkan efek yang kurang baik untuk jangka panjang kesehatan mata.
Saya sendiri sekarang lebih suka membaca lewat telepon genggam, karena praktis. Bisa dibawa kemana saja, tidak takut bukunya kusut. Karena saya ini tidak suka melihat buku kusut walau buku sering dibaca tapi tetap harus bagus. Pernah saat masih sekolah dasar buku pelajaran saya dipinjam teman untuk dicatat, karena dahulu saya suka sekali kalau buku pelajaran ada catatan tambahan hasil penjelasan guru di sekolah. Saat buku dikembalikan dalam keadaan kusut, sebenarnya pingin marah lihat buku kusut. Tapi hasilnya saya hanya diam. Kemudian pernah juga bapak saya membaca buku saya, saat mau menutup buku salah satu kertas dilipat untuk menandai halaman terakhir yang dibaca. Saya langsung berkata, “Pak, jangan dilipat nanti bukunya jelek. Dikasih kertas saja untuk menandai yang terkahir.” Bapak saya hanya geleng-geleng kepala (hehehehe).
Dari membaca saya mempunyai banyak pengalaman lucu, karena itu saya pingin berbagi mengenai yang lucu-lucu dari membaca. Siapa tahu yang membaca bisa mengingat kejadian yang dialami saat kecil dari pengalaman membaca.
Pengalaman-pengalaman lucu membaca saat kecil menuju remaja yang paling saya ingat adalah
1. BUKU dI DALAM BUKU
Sebenarnya yang nomor 1 mau saya kasih judul mengelabui ibu, tapi kok tidak baik. Jadi pake judul buku di dalam buku saja. Alasan mengapa akan saya beri judul Mengelabui ibu ( jangan ditiru ya hehehe) karena jam 19.00 adalah saat saya untuk belajar, dan selalu ditunggu ibu. Saat itu buku yang akan saya baca adalah Pancasila. Saya membaca dengan tenang, tetapi tahukah anda bahwa di dalam buku ada buku. Maksudnya, dari luar memang buku pelajaran Pancasila, tetapi di dalamnya adalah buku serial detektif Lima Sekawan. Maklum, penasaran dengan petualangan yang dialami lima bocah bersahabat ini dan cara mereka memecahkan kasus-kasus. Suatu saat saya pingin membahas tentang buku-buku tante Enid Blyton ini. Buku-bukunya membuat saya berimajinasi ada ditempat petualangan tersebut ( hehehe)
2. MEMBACA DALAM GELAP
Kalau sudah masuk jam 21.00 saatnya saya sudah harus tidur (saat masih sekolah). Naiklah saya ketempat tidur, lampu dimatikan ibu karena saya tidak bisa tidur dengan lampu terang benderang. Saat itu masih sekolah dasar juga. Begitu lampu dimatikan petualangan saya mulai, langsung mengeluarkan korek api gas dan buku detektif Lima Sekawan yang saya simpan dibawah bantal. Dan mulailah melanjutkan bacaan petualangan yang membuat saya deg-degan dengan aksi 5 bocah ini. Membaca sampai mata sudah tidak mampu menahan kantuk, satu lagi yang membuat tidak tahan adalah tangan sudah merasakan panas korek api gas. Yang harus menahan lama, harus dinyalakan lagi. Menunggu korek agak dingin, baru dinyalakan lagi. Itu berlangsung sekitar 2 jam. Melatih kesabaran dalam membaca dan menahan panas korek. Melatih sabar juga untuk menghadapi kehidupan.
3. TIDAK MENGEMBALIKAN BUKU
Masih ingat majalah Bobo, Ananda, komik Donal Bebek dan paman Gober kan. Ada teman sekolah saya yang mempunyai banyak majalah dan komik tersebut. Saat pulang sekolah saya diajak main ke rumahnya yang dekat sekolah kami. Kemudian teman saya menunjukkan koleksi majalah anak dan komik yang menumpuk di kamarnya, teman saya ini mempunyai orang tua yang berada sehingga dia bisa berlangganan majalah yang disukai. Alhamdulillah saya mempunyai teman seperti dia, yang membuat saya bisa membaca gratis. Teman saya bilang pinjam saja kalau mau baca, ya akhirnya saya sering meminjam majalah dan komiknya. Sampai akhirnya lupa untuk mengembalikannya. Jangan ditiru juga ya, kembalikan buku ke pemiliknya segera setelah membaca.
4. MEMBACAKAN DAN MEMBELI KORAN
Bapak saya juga suka membaca, jadi beliau sering membeli koran. Biasanya kalau hari minggu kami membaca koran berdampingan. Suatu saat saya berkata pada bapak bahwa ada berita tentang sesuatu, terus beliaunya berkata “Coba kamu bacakan beritanya” Akhirnya saya membacakan berita tersebut sampai selesai. Dan bapak sering meminta saya untuk membacakan berita-berita di koran disaat lain. Saya sangat menikmatinya. Mungkin itu juga jadi salah satu penyebab saya suka membaca. Dan saya anggap itu sebagai salah satu bentuk pelatihan pada anak untuk meningkatkan minat membaca. Dahulu saya juga sering minta ke bapak untuk dibelikan tabloid olahraga (namanya tabloid BOLA). Tapi hanya untuk even-even tertentu. Misalnya Piala Dunia. Karena saya juga menyukai dunia olahraga. Tetapi kalau sepak bola hanya menonton tidak untuk bermain. Sering membaca dan melihat sepakbola sampai saya hafal pemain2nya. Ibu saya juga pernah ngomel gara-gara keseringan nonton bola sampai pagi, yang membuat lingkaran hitam dimata. Bahkan pernah mau pingsan saat upacara sekolah hari Senin akibat nonton final Piala Dunia sampai pagi(hehehehe). Itulah dunia saya dan persepakbolaan.
5. DIBERI HADIAH SESEORANG
Saat itu saya duduk dibangku kelas 3 Sekolah Menengah Pertama (SMP), sekolah saya mengadakan perpisahan ke Yogjakarta. Pada malam hari setelah makan malam, teman-teman mengajak jalan-jalan ke Marlioboro dengan berjalan kaki. Pulang ke tempat menginap pun berjalan juga. Kami dijalan ngobrol dan bercanda bersama2, lalu ada teman cowok sekelas saya (cowok A)yang berjalan disamping saya dan tidak sengaja ngobrol tentang olahraga badminton karena saat itu ada even All England. Jadinya deh ngobrol ngalor ngidul tentang pemain ini itu. Padahal selama ini cowok yang ngajak ngobrol saya ini dikenal pendiam alias jarang ngomong. Baru kali itu saya dan dia berbicara. Suatu hari saat kelulusan sekolah, ada yang memberi saya bingkisan kado. “Ini ada titipan dari si A,”kata teman cowok sekelas (teman saya ini satu bangku dan rumahnya berdekatan dengan cowok A). Saya kaget “lho buat apa?” Temannya berkata “si A pindah sekolah ke Jakarta, ini kenang2an buat kamu. Katanya kamu diajak ngobrol nyambung.” Saya hanya terbengong mendengarnya
Itulah pengalaman-pengalaman yang paling membekas dan tak terlupakan dari dunia membaca saat saya masih kecil hingga remaja. Bagaimana dengan kalian?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar