Rabu, 03 Juni 2026

Aroma Zingiber

Rasa rempah di lidah akan berkurang, tapi rasa pedih di hati sulit menghilang


Bibirku menguarkan segaris senyum saat menunggu giliran turun dari bemo.
"Ini, Pak." Kuberikan uang lima ribuan pada sopir bemo untuk ongkos dari Wonocolo ke Bungurasih. Segera kuajak kakiku naik jembatan penyeberangan agar aku bisa sampai di tempat bus antar kota menunggu. Lumayan juga jalan yang harus kutempuh hingga menghasilkan butiran peluh yang membasahi beberapa bagian tubuh.

Akhirnya duduk juga, ucapku dalam hati saat mendapatkan tempat duduk favoritku di belakang sopir bus patas. Biasanya kalau hari Sabtu selalu penuh dengan pekerja pulang kampung. Salah satunya aku. Si anak rantau. Senang bisa menatap wajah-wajah lelah yang menguras energi untuk keluarga di rumah. Betapa bahagia saat bisa membingkai senyum keluarga yang telah menanti.

Lelah menatap sosok-sosok penumpang, kupejamkan netraku. Seiring melajunya kendaraan yang akan membawa ragaku ke tujuan selama dua jam ke depan. Dinginnya suhu pendingin membuatku terlelap hampir satu jam lebih. Meski setiap 15 menit, mataku terbuka dan menatap jalanan. Lalu terlelap lagi.

Hingga akhirnya indra penglihatanku benar-benar terbuka saat sebuah aroma minuman menusuk-nusuk penciumanku. Saat pertama mencium aroma ini, kubuka sedikit mata, melirik penumpang sebelahku. Ternyata bukan dia. Aroma khas minuman semakin menyayat. Tak sabar, kubuka lebar pandanganku. Mencoba mencari aroma itu dari penumpang yang duduk dekat pintu. Bukan juga.

Aku pura-pura berdiri sejenak, menoleh ke belakang. Rupanya di sini. Terlihat seorang bapak berusia 60 tahunan sedang memegang tumbler. Dia menuangkan minuman berwarna kuning kecoklatan ke gelas kecil. Lalu meminumnya. Jantungku seolah berhenti melihat pemandangan di depanku. Bapak yang sedang minum memandangku heran, tapi memberiku senyum khas orang tua. Senyum bijak dan ramah.

Aku mengangguk dan kembali duduk. Menatap jendela yang memberikan pemandangan hamparan sawah. Pelan tapi pasti, mataku mulai berkaca-kaca. Mengingat saat-saat indah itu.

***

Aku turun dari ojek, membawa kaki untuk menapaki jalan yang agak menanjak. Melewati kebun singkong di kanan, sedangkan sebelah kiri jagung yang mulai berbuah. Bibirku tersenyum saat rumah Ibu telah tampak. Kutambah kecepatan jalanku agar segera sampai. Menahan rindu seminggu untuk Ibu. Kini saatnya untuk bertemu melepas rindu.

Langkahku terhenti di halaman saat aku menoleh ke kanan, ada seorang lelaki sedang menyiram tanaman di kebun. Kuhampiri lelaki yang telah membesarkan aku. Lelaki yang selalu memotivasi aku dengan kalimat kamu pasti bisa. Telaten sekali dia merawat tanaman. Usai menyiram, dia jongkok di depan tanaman.

"Assalamualaikum, Pak."

Senyumnya merekah saat menatapku yang telah berdiri di depannya. Kuraih tangannya dan menciumnya.

"Waalaikumsalam, Nduk. Eh, tangan Bapak kotor," ucapmu sambil mengelus kepalaku yang tertutup hijab.

"Kenapa Bapak jongkok di situ?"

"Ini lho, Bapak mau ambil jahe. Tanahnya kan keras karena lama nggak hujan. Jadi bapak sirami dulu biar mudah," jawabmu. Tanganmu pun bergerak lagi untuk menggali jahe.

"Rum, kamu ingat nggak nama latinnya jahe?"

"Kalau nggak salah Zingiber Officinale, Pak."

"Pinter anak Bapak."

"Bapak ngetes Arum, ya."

"Ayo ke dalam. Ibumu pasti sudah menunggu. Tahu kamu mau datang, semalam pasti nggak bisa tidur. Lucu ibumu itu," tutur Bapak.

"Ibuku kan istrimu, Pak," jawabku.
Kami sama-sama tergelak.

"Eh, anak Ibu sudah datang." 
Segera kucium wanita yang telah melahirkanku, tidak lupa memeluknya erat. Menyalurkan rindu yang telah menunggu. Juga, mengisi energi lagi.

"Kamu bersih-bersih dulu, Rum."

Aku menganggukkan kepala dan pergi ke kamar. Tak lama, kami bertiga berkumpul di ruang makan. Rinai hujan mengiringi malam saat kami bercanda ria.

"Rum, hujan begini enaknya makan dan minum yang hangat. Singkong sudah ada. Minumnya paling enak apa?" Bapak melihat ke arahku.

"Teh hangat atau susu coklat, Pak."
Jari telunjuk Bapak bergerak ke kanan dan kiri.

"Bukan, Rum. Ini paling enak." Bapak menunjukkan segelas air berwarna kecoklatan dan mengendusnya. Matanya terpejam menikmati aroma minuman yang ada di depan hidung.

"Ihh, baunya, Pak. Arum nggak suka baunya. Bikin mual." Kupencet hidung agar baunya tidak terserap ke penciumanku. Namun, masih saja ada yang menyusup masuk. Mual menyerangku.

"Kamu ini seperti ibumu. Nggak suka jahe. Padahal ini bagus lho buat kesehatan, Rum. Manfaatnya banyak banget."

"Tapi aku nggak suka, Pak." Aku menggelengkan kepala sambil tetap menutup hidung. 

"Rum … Rum. Kamu kan sering masuk angin. Nah, salah satunya, ini juga bisa mengurangi perut kembung lho." Bapak menerangkan lagi dan mencoba merayuku. Aku tetap menggeleng kuat.

Usaha keras Bapak membujukku agar menyukai jahe tidak membuahkan hasil. Hingga bunyi kentung yang dipukul sepuluh kali membuat kami pergi ke kamar masing-masing. Terlelap bersama suara jangkrik mengiringi.

Paginya, aku bangun dengan badan kurang enak. Pusing dan sedikit mual. Air pun menjadi dingin ketika menyentuh kulitku. Badanku sedikit panas. Aku bangkit dari tidur, berjalan menuju Ibu yang ada di dapur.

"Kamu kenapa Rum? Wajahmu kok pucat?" Ibu menghampiri dan memegang keningku.
"Badanmu anget, Rum. Pakkk!!" Ibu berteriak memanggil Bapak yang tergopoh-gopoh datang.

"Apa, Bu? Pagi-pagi kok teriak. Mau saingan sama ayam berkokok." 

"Bapak masih bisa bercanda. Ini lho anakmu sakit. Badannya anget."

Bapak pun berbalik meninggalkan Ibu juga aku. Kemudian kembali lagi dengan membawa sebuah gelas yang berisi minuman beraroma yang tidak aku suka.

"Nduk, kamu minum ini dulu. Pertolongan pertama sebelum ke dokter," bujuk Bapak.

"Arum tidak mau!" Segera aku pergi dari dapur. Bergegas menuju kamar dan membaringkan tubuhku. Kucoba memejamkan mata lagi, siapa tahu saat bangun nanti aku sudah sehat.
Namun, ketika aku bangun, aku masih mual. Demamku pun masih belum pergi.

"Rum, kamu sudah bangun?" Suara Bapak memanggilku. Pintu kamarku terbuka sedikit. Terlihat Bapak melongok ke dalam.

"Iya, Pak," sahutku lemah.
Bapak menghampiriku. Di tangannya ada minuman yang masih beruap.

"Rum, minumlah. Ini sudah bapak campur madu dan jeruk nipis sedikit biar aroma jahenya sedikit berkurang. Bapak ingin anak Bapak sehat. Bapak sedih kalau kamu sakit, Nduk." Wajah Bapak mengungkapkan ekspresi sedih yang mendalam.

"Minum sedikit dulu ya, Nduk. Mumpung masih anget. Biar badanmu berkeringat. Biar racun-racun di tubuh keluar bersama keringat."

Aku menatap usaha merayu Bapak.
"Atau … mau dibelikan permen Yupi kesukaanmu? Setelah minum jahe terus langsung makan Yupi. Jadinya jahe rasa Yupi."

Senyumku merekah mendengar Bapak membujukku dengan Yupi. Kuanggukkan kepala. Bapak pun membawa minuman jahe, lalu menyuapi aku dengan sendok kecil hingga tak tersisa.

"Sekarang, Arum tidur lagi. Insya Allah nanti bangun sudah segar."

Kubawa mataku terpejam setelah mengisi perutku dengan sarapan dan minuman hangat dari Bapak.
Beberapa saat setelah tertidur, tangan Ibu yang memegang kening membuatku terbangun.

"Alhamdulillah, badanmu sudah berkeringat. Perutmu masih mual, Rum?"
Kugelengkan kepala, lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.

"Alhamdulillah, anak Bapak sudah sehat." Bapak memberiku senyum paling manisnya.

"Makasih ya, Pak," ucapku sambil memeluk Bapak.

"Pak, Arum jadi suka jahe. Enak rasanya."
Bapak membelai kepalaku dan mengecupnya.
"Minuman tradisional itu sehat, Rum. Cobalah untuk menikmati kekayaan rempah negara kita," ucap Bapak saat itu

***

'Pak, ini sudah 3 tahun. Tapi ingatan tentangmu masih menyelimutiku. 
I miss you, Pak,' lirihku dalam sanubariku. Lelehan air mata membasahi sudut mata. Segera kuusap. Malu kalau dilihat orang, apalagi di bus. 

Perjalanan pulang kampung selalu mambangkitkan kenangan tentangmu. Bahkan dalam aroma khas minuman rempah ini, selalu hadir senyummu. Senyummu ketika merayuku, senyum merekahmu saat aku berhasil suka dengannya. Senyum seorang lelaki yang selalu membersamaiku dari kecil hingga engkau pergi kembali ke Sang Pencipta.

Kepergianmu tidak berarti aku melupakanmu, tapi kenangan bersamamu selalu hadir saat-saat tertentu. Kuembuskan napas, melepas kepergianmu. Namun, rindu itu masih melekat di kalbu.
Aroma jahe yang menguarkan rindu untukmu. Rindu yang tak pernah usai.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aroma Zingiber

Rasa rempah di lidah akan berkurang, tapi rasa pedih di hati sulit menghilang Bibirku menguarkan segaris senyum saat menunggu gi...