Senin, 25 November 2024

Menjelang Magrib


Ting! Mendengar bunyi notifikasi, otomatis tanganku merogoh saku celana dan membuka ponsel.

Dewi
[Ra, nggak ada orang di rumah. Nanti kamu masuk aja, pagarnya nggak aku kunci. Aku masih ke minimart. Jangan lupa nyalakan lampu teras]

Aku membaca pesan dari Dewi, temanku, si empunya rumah. Segera saja aku membuka pintu pagar, melangkah ke teras dan mencari tombol lampu.

"Gelap banget? Mana sepi juga. Sudah tahu sore, kenapa lampunya nggak langsung dinyalakan sekalian sama Si Dewi?" gerutuku saat sudah menyalakan lampu. 

Aku sedikit takut melihat rumah Dewi yang begini luas, sepi, ditambah lagi ada pohon beringin besar dekat taman yang membuat bulu kudukku makin meremang. Belum lagi sekarang menjelang magrib. Duduk di kursi kayu, aku membuka ponsel ingin membaca novel online.

Akan tetapi, tiba-tiba saja terdengar suara gamelan di ruang depan dekat taman. Ruang itu adalah tempat biasanya Dewi, aku, dan teman-teman ibunya berlatih karawitan. Karena penasaran, aku berjalan menuju sumber suara di sebelah kanan teras.

Kakiku berhenti saat melihat ada bayangan seorang perempuan berkonde dengan baju kebaya motif bunga warna biru masuk ke ruang karawitan. 

"Katanya belum ada yang datang, tapi lampu depan ruangan sudah menyala. Sepertinya pelatih karawitan juga sudah datang," gumamku. 

Berdiri di depan ruang karawitan yang terlihat remang, karena hanya lampu depan yang terang. Di antara keremangan, aku melihat perempuan berkebaya ada di dalam, sedang memainkan salah satu gamelan. Tanganku bergerak ingin membuka pintu saat terdengar suara Dewi.

"Ra! Kamu ngapain berdiri di situ!" teriak Dewi mendekati dan menarik kuat tanganku yang sudah memegang handle pintu. Aku hampir terjengkal oleh tarikan Dewi.
 
Aku berusaha melepas, tapi tak mampu karena Dewi mencengkram begitu kuat. Tanganku dilepas saat sudah tiba di teras. Aku menatap Dewi bingung.

"Aku tadi mau masuk ruangan karena melihat pelatih karawitan sudah datang," ucapku pelan.

"Ra, ruang karawitan ada di sebelah kanan kita. Kamu tadi berdiri di depan pohon beringin besar samping pos sekuriti," gusar Dewi.

Aku menoleh pohon beringin yang dikatakan Dewi, terlihat perempuan berkebaya berdiri di depannya dan menyeringai seram padaku. 

Deg. Jantungku berdegup tidak beraturan.




Minggu, 24 November 2024

Setetes Air Ujang

                                     by.me

Di sebuah kamar yang masih benderang, diiringi musik malam, alunan suara merdu jangkrik saling bersahutan. Seorang bocah lelaki terlihat asyik bermain bersama sang kakek yang sedang membujuk agar mau tidur.


"Adek, sudah malam. Ayo tidur," bujuk si kakek. Bocah yang dipanggil Adek hanya menyunggingkan senyum, tapi jemarinya masih memegang mainan sambil menirukan suara mirip mobil. Kakek mengusap penuh kasih sayang pada cucunya.


"Adek belum mengantuk, Kek," rajuk si cucu. 

"Bagaimana kalau Kakek mendongeng?" bujuk kakek lagi. Adek menatap sorot mata  lembut sang kakek sambil berpikir, akhirnya dia menganggukkan kepala. Kakek pun menuntun Adek ke tempat tidur,  membaringkannya, dan akan menyelimuti tubuh cucunya. Namun, mendapat penolakan karena bocah kecil itu bersikukuh ingin duduk. Kakek tersenyum lembut sembari mengusap rambut legam cucunya.


Kemudian, dari bibir kakek mengalirlah sebuah cerita ….

*  *  *  

Di sebuah desa yang sejuk dan damai, bernama Desa Pucuk. Tersebutlah seorang bocah bernama Ujang, dia hidup bersama seorang nenek yang biasa dipanggil penduduk setempat dengan Nenek Uti. Ibunya telah meninggal saat Ujang baru berumur setahun. Hampir lima tahun Ujang diasuh sang nenek karena bapaknya yang bernama Kang Dadang harus bekerja di ibukota kerajaan.


Ujang adalah anak yang pintar dan rajin, setiap hari dia bangun pagi, membantu sang nenek untuk menyiapkan makanan yang akan dijual di warung. Walaupun perawakan Ujang kecil, tetapi dia sangat cekatan. Mondar-mandir dari dapur ke warung yang ada di depan rumah, mengambilkan yang dibutuhkan nenek. Ujang tidak pernah mengeluh capek, semuanya dijalani dengan gembira.


Nenek sangat bangga pada cucu satu-satunya yang selalu tersenyum, rajin, dan patuh. Dia selalu berkata, Ujang bantu apalagi, Nek. Banyak teman-temannya yang ingin mengajak Ujang bermain, tetapi selalu ditolak. Dia akan mengatakan sedang membantu nenek.


Pengunjung warung pun terkagum dan iba dengan sosok kecilnya. Keadaan yang membuat Ujang menjadi pekerja keras dan jujur dalam menghadapi hidup. Terkadang, Ujang pun ikut meladeni pembeli saat sedang ramai. 


Hingga di suatu siang yang panas, saat warung sepi dan sang nenek sedang salat. Ujang menjaga warung sendirian, terlihatlah seorang kakek menghampiri warung.


"Assalamualaikum," salam seorang tua berambut putih dengan setelan putih dan juga bersorban putih. Wajahnya bersih disertai mata yang begitu bening.


"Wa'alaikumsalam. Silakan masuk, Kek. Kakek mau minum apa?" tanya Ujang dengan ramah.


Sang Kakek terpesona dengan keramahan Ujang. Dia tersenyum dan berjongkok di depan Ujang. Tangannya mengusap rambut dan pipinya. Perlakuan sang kakek membuat Ujang mundur gentar karena tidak mengenal kakek berbaju putih. Si kakek menatap mata bulat Ujang.


"Ada yang Ujang bisa bantu, Kek?" tanya Ujang lagi, walau suaranya agak bergetar takut. Dia melihat keringat bercucuran di wajah bersih sang kakek.


"Kamu tidak perlu takut cucuku. Kakek hanya ingin minum, tetapi tidak membawa uang," ujar si kakek dengan suara lembut. 


Ujang mengangguk dan tanpa mengeluarkan suara, dia segera mengambil segelas air putih dan mengulurkan pada kakek.


"Silakan, Kek." 

Lalu Ujang berbalik mengambil kendi lagi, siapa tahu kakek masih kehausan.


"Alhamdulillah, segar sekali airnya. Terima kasih. Ujang di sini dengan siapa?"


Kakek menatap dengan wajah bijak, sementara Ujang masih memegang kendi di tangan.


"Ujang tinggal bersama Nenek Uti, Bapak bekerja di kota. Ujang membantu Nenek menjaga warung." Ujang menjelaskan pada kakek yang menatapnya kagum. 


"Kakek rumahnya di mana?" tanya Ujang

"Rumah Kakek jauh sekali." Kakek sekali lagi mengusap kepala Ujang. 


Tiba-tiba, terdengar suara nenek dari dapur.

"Ujang! Kamu bicara dengan siapa?" 

Ujang pun menoleh.


"Dengan Kakek, Nek," sahut Ujang. 

Nenek berjalan menghampiri cucunya dengan terheran, karena tidak ada siapa pun.


"Mana? Kakek siapa? Kamu mimpi, ya?" gurau Nenek. Ujang kebingungan karena kakek berbaju putih telah lenyap, gelas yang tadi dipegang pun sudah kembali ke tempat semula.

'*  *  *  

"Lalu, kakek yang menghilang pergi kemana, Kek?" tanya Adek yang mendengarkan cerita kakek dengan antusias. Kakek hanya menyunggingkan senyum menatap sang cucu sambil melanjutkan cerita.

*  *  *

Menjelang pagi, saat cakrawala merona dengan indah, terdengar ketukan di sebuah rumah sederhana. Nenek yang sedang sibuk di dapur segera beranjak untuk membuka pintu. Tampaklah seorang prajurit yang gagah disertai senyum ramah.


"Permisi, Nek. Apakah benar ini rumah Ujang?" tanya sang prajurit.


Nenek mengangguk karena masih terkejut melihat sosok prajurit gagah yang berdiri di depan rumah kecilnya.


"Nek, kami mendapat tugas dari Baginda untuk membawa Nenek dan Ujang ke istana," ucap prajurit. 

Nenek termangu mendengar tugas yang diemban. 


Ada apa ini? batin Nenek Uti.


“A-a-apa salah kami? Mengapa harus ke istana?” Tanya Nenek gugup. Sementara prajurit suruhan hanya tersenyum misterius.


Meskipun hati Nenek Uti dilanda kegundahan, dia dan Ujang tetap berangkat ke istana. Karena rasa ingin tahu lebih besar daripada rasa takutnya. Nenek tidak takut karena merasa tidak berbuat salah. 


Setibanya di depan Baginda, Ujang sangat terkejut melihat raut muka yang sangat dikenalnya. Namun, dia segera membungkuk,  memberi hormat.


"Kakek. Ampun, Baginda." Ujang tergagap. Bingung harus memanggil apa pada seseorang yang sedang duduk di singgasana.


'*  *  *

"Kek, kakek yang diberi Ujang minum berarti seorang raja? Membantu orang lain tidak boleh pilih-pilih, ya, Kek. Siapa pun yang membutuhkan harus dibantu, selama kita mampu." 


"Cerdas sekali, Cucuku," puji Kakek sambil menyentil hidung cucunya.


"Kek, doakan Adek, biar bisa menjadi anak yang saleh, patuh pada orang tua, jujur, dan suka membantu orang lain, ya," tegas Adek bersemangat.


"Alhamdulillah, tentu saja Kakek akan selalu mendoakan yang terbaik. Cucu kakek memang sangat pintar, sudah memahami inti cerita ini. Sekarang, waktunya tidur." Kakek menyelimuti tubuh sang cucu seraya berbaring di samping dan memeluk tubuh mungilnya dengan penuh kasih.


*  *  *








Perjalanan Lelakiku

                                by.me
Kupandangi rumah kecil yang telah aku tempati beberapa bulan ini, letaknya berada di kebun belakang tempat tinggal adikku. Kebun lumayan luas dengan bermacam tumbuhan. Ada manggis, mangga, rambutan, nangka, singkong, dan beberapa tanaman lainnya. Rumah khusus yang dibangun karena keberadaanku, sangat mendadak karena tidak ada lagi yang mau mengurusku. 

Takada lagi istri atau mantan istri yang dulu menemani. Anak-anakku pun tak ada yang mau melihatku. Bahkan ada yang tidak mengenali karena aku tinggalkan mereka semenjak bayi. Sekarang, hanya sendiri ditemani sepi. Pada akhirnya, adik-adikku yang dengan berat hati mau memberi tempat.

Masa laluku yang kelam, banyak menyakiti orang dan membuat banyak kaum hawa menitikkan air mata karena ulahku. Banyak jiwa tersakiti karena aku, begitu pun dengan orang tuaku. Segala permintaan harus terwujudkan. Egois, itulah aku. Mungkin, ini adalah perjalanan yang harus aku terima dan jalani setelah melalui masa muda dengan menebarkan banyak luka.

Orang-orang yang dahulu mengenalku, kini seolah tak peduli atau bahkan mungkin takut. Bisa jadi malah jijik. Badanku yang jarang mandi dan berbau tidak enak membuat siapa pun enggan mendekat. Namun, aku mengabaikan tatapan-tatapan menusuk itu. Buat apa? Biarkan saja mereka membenciku. Inilah aku dengan kondisiku.

* * *
Siang itu, aku menatap masakan sayur lodeh rebung yang dihidangkan bersama lauk ikan pindang dan tempe. Adik bungsuku yang selalu memasakkan setiap hari buatku. Aku meraih pindang, menikmatinya dengan sedikit nasi. 

Aku memuntahkan kembali makanan yang menurutku tidak enak. Lidahku merasakan hambar. Kucecerkan sayur lodeh ke lantai rumah. 
Aku tidak suka sayur lodeh ini, tidak enak, umpatku dalam hati. Memang tidak ada lodeh lain selain rebung?

Adik perempuanku yang baru saja masuk ke rumah, matanya memerah penuh amarah, sorot tajam menatap. Bibirnya mulai menguarkan nyanyian rock, menurut telingaku.

"Tolong, ya, Mas! Aku memasak semua ini tidak gratis! Jerih payah suamiku bekerja! Enak saja kamu membuangnya seolah sampah! Aku dan anak-anakku pun makan ini! Apa maksudmu? Kalau Mas tidak terima dengan yang kami berikan, silakan mencari orang yang mau memberi Mas makan gratis," cecar Adikku emosi.

Aku hanya membisu mendengarkan kemarahannya dan memandang kejengkelan adik perempuanku. Seringkali aku membuat marah orang-orang di sekitar, terutama keluarga. Sampai kapan aku terus begini. Adikku memandang jengah kebisuanku, dia segera berbalik keluar dari rumah. Membiarkan aku menatap lantai rumah yang kotor. 

Lodeh rebung yang tidak pernah kusuka semenjak muda. Bagaimana bisa aku makan sayur yang kalau sudah tua akan berubah menjadi dinding rumah alias gedek. Apa-an?

Tidak kupedulikan kemarahannya. Silakan saja kamu marah, sudah tahu dari dulu aku tidak suka rebung, masih saja dimasakkan itu. Kutatap adik bungsuku yang mungkin telah terpaksa menampung kakak lelakinya ini. Bibirku menyeringai, tidak peduli dengan kejengkelannya. 

Aku membawa kakiku melangkah keluar rumah. Saat melewati rumah adik bungsuku, terdengar isakan diselingi racauan.

"Keterlaluan dia, Mas. Aku sudah repot-repot memasak, tapi dia membuangnya di lantai. Tidak menghargai jerih payahmu sama sekali. Itu uang belanja 'kan hasil keringatmu. Kamu sudah bekerja keras untuk keluarga kita dan kakakku," keluh adikku terisak.

"Sudahlah, aku tidak apa. Aku ikhlas," ucap suami adikku dengan sabar.
"Tapi, Mas …." Adikku ingin melanjutkan lagi.
"Sudahlah …," hibur suaminya. Di akhir pembicaraan mereka, adikku masih terisak.

Kenapa juga aku mesti dengarkan mereka? Aku pun segera beralih, membawa kakiku yang berjalan agak pincang. Lidahku rasanya asam, ingin merasakan benda yang bisa mengeluarkan kepulan asap kalau dibakar. Sudah berapa hari aku tidak memanjakan bibirku dengan benda bernama rokok.
Mendingan aku ke rumah Slamet saja.

"Met! Slamet! Kamu di rumah?" teriakku saat di depan rumah kecil sederhana.

"Ada apa kamu teriak-teriak? Suamiku nggak di rumah!" Suara dan wajah istri Slamet seirama dalam satu kata 'sewot' saat tahu yang mencari suaminya adalah aku. Pandanganku menatap istri temanku yang sedang mencabut rumput di halaman. Tidak pernah sekalipun istri Slamet ini memperlihatkan raut muka ceria saat aku muncul. Sebenarnya, aku juga muak dan jengkel.

"Heh, Waginem! Wajahmu kalau sewot mirip sama rumput yang kamu cabuti," selorohku, langsung pergi tanpa melihat lagi bagaimana perubahan wajah Waginem. Namun, jika kulirik dari sudut mataku, raut mukanya malah makin memburuk.

Sekarang, aku mengalihkan tujuan ke rumah Boirin, temanku lainnya. Rumahnya nggak jauh dari Slamet. Hanya sekitar setengah kilo jaraknya. Kalau Boirin belum beristri, tapi biasanya si Emak judesnya minta ampun. Rumah sederhana yang ditempati Boirin terbuat dari bambu. Letaknya di tengah perkebunan yang selalu berganti tanaman. Kalau malam, sangat sunyi. Siang pun sepi.

"Rin! Boirin!" 

Halaman rumahnya hanya tampak ayam-ayam berkeliaran. Ada juga seekor kucing hitam peliharaan Boirin. Kucing itu sedang menikmati tidur siang di ranjang bambu yang biasanya dipakai Boirin dan aku berbincang. Aku mencoba memanggilnya lagi saat tidak ada tanda-tanda keberadaan temanku.

"Boirin! Kamu di mana!" Suaraku makin aku kencangkan. Kucing yang sedang dibuai mimpi pun terbangun olehku. Matanya dibuka dengan malas dan memandangku. Disaat aku masih saling menatap dengan kucing, tiba-tiba hidungku tersentuh oleh aroma khas makanan.

"Bukankah ini bau mi terkenal itu? Baunya seperti dari dalam rumah," gumamku.

Bau khas ini membawa rasa penasaranku untuk melangkah masuk ke rumah Boiri, tapi lewat samping rumah. Aku berjalan menelusuri jalan setapak kecil pinggir rumah, yang membatasi rumah Boirin dengan kebun jagungnya. Kakiku melangkah pelan, jangan sampai menginjak daun kering atau apa pun yang menimbulkan bunyi.

Saat mencapai dapur, aku mendengar suara.
"Rin, kamu jangan keseringan bergaul dengan lelaki itu. Badannya kotor, bau, tidak bekerja. Bisanya cuma meminta dan merepotkan orang. Kasihan Asih, dia sudah repot memasak untuk si kakak, tapi tanpa perasaan malah membuang makanan. Terkadang tidak dimakan. Padahal, kamu tahu sendiri suami Asih bekerja pagi sampai sore di sawah. Untuk menambah kebutuhan keluarga, suaminya terkadang ikut kerja di sawah orang lain," tutur Emak Boirin panjang lebar.

"Benarkah, Mak?" Boirin bertanya dalam nada tidak percaya.

"Tetangganya Asih pada cerita. Mereka mendengar dan melihat sendiri." 

"Mmm … kalau begitu, biar nanti Boirin yang ngomong ke Waji, Mak."

Kudengarkan mereka bercerita banyak tentangku. Sementara reaksiku hanya diam dan menyeringai.

"Memang kamu siapa, Rin? Mau ngatur aku? Berani-beraninya kamu mau kasih aku nasihat," gumamku sinis.

Aku pun beranjak pergi. Meninggalkan orang-orang yang tidak mau menerima kehadiranku. 

"Sudah cukup banyak aku menerima nasihat. Banyak pula garam yang sudah aku telan. Muak aku mendengarnya. Buat apa menasihati aku, nasihati saja diri kalian sendiri." Aku menggerutu sangat kesal. Kutendang kerikil tak bersalah yang membuat kakiku terpeleset.

"Mengapa kalian sukanya mengusik hidupku! Apakah kalian cukup nganggur?" geramku sambil mengusap pantat yang sedikit sakit karena membentur jalan berkerikil.

"Lagian ini jalan apa, sih, kok banyak kerikilnya? Apa yang kalian lihat, hah?" Aku berteriak di tengah racauanku pada anak sekolah yang melihatku terjatuh.

"Anak sekarang, lihat orang jatuh bukannya ditolong, malah dijadikan tontonan," omelku.

"Ka-ka-kami ingin menolong Bapak, tapi keduluan Bapak yang ngomel nggak jelas," ucap salah seorang bocah perempuan. Wajahnya terlihat gugup dan ketakutan. Dia segera menarik tangan temannya dan pergi meninggalkanku yang termangu dengan ucapan bocah tadi.

"Rupanya, masih ada yang berniat baik padaku," gumamku sambil memandang dua bocah yang telah menghilang. Ada rasa penyesalan dalam hati, mengapa aku harus berteriak pada anak kecil.

"Ah, sudahlah. Kenapa juga aku harus mikir mereka?"

Aku mengelak dari rasa bersalah. Kemudian, kembali menyusuri jalan, menikmati angin yang selalu menjadi sahabatku. Embusan angin mampu membawa pergi bermacam perasaan yang sering menggangguku. Jalanan yang kulewati telah ramai, kendaraan berseliweran. Langkahku berhenti saat aku mendengar suara yang sangat kukenal.

"Kang Waji!"

Di seberang jalan, aku melihat seorang gadis cantik. Sepertinya, aku pernah mengenalnya.

Siapa dia? Wajahnya kok mirip Murni, istri pertamaku yang sudah meninggal? batinku bertanya.

Untuk mengurangi rasa penasaran, aku pun menyeberang jalan. Terdengar sebuah teriakan peringatan, tapi aku taklagi mendengar.

* * *
"Kang Waji, maafkan Asih, ya," ucap seorang wanita yang menatapku dalam deraian air mata.

Aku mencoba membuka sedikit netra yang terasa berat. Terlihat seorang wanita menangis, tanpa sanggup mengingat siapa dia.

"Kamu siapa?" gumamku.

Buliran air semakin deras terurai dari mata lebar wanita itu. Tangan kiriku meraba kepalaku yang berbalut kain. Badanku terasa sakit semua. Pandanganku menatap ke atas, terlihat ada cairan menetes, selang, dan jarum yang disuntikkan di tangan.

Terakhir dalam ingatanku adalah seorang gadis cantik berbaju putih memanggilku. Lalu aku menyeberang jalan ingin menghampiri, tapi aku merasakan tubuhku dihantam suatu benda yang sangat keras dan sekarang aku berakhir di sini. 

Di sini, aku melihat wanita menangis beserta tubuhku berbaring di sebuah ruangan berwarna putih. Aku ingin memejamkan mata yang terasa berat. Saat mataku terpejam, terdengar sebuah alat berbunyi dan teriakan histeris wanita yang tadi mengaku bernama Asih. Kini, hanya kesunyian, kehampaan yang berteman denganku. Tidak ada lagi Slamet ataupun Boirin.

* * *


Jumat, 22 November 2024

Lolipop Andi

                                Lovepik_com


"Bunda, Andi ingin permen lolipop seperti itu." Seorang bocah lelaki tampan jarinya menunjuk permen berbentuk telapak kaki. Seorang perempuan muda berjilbab hitam itu berjongkok dan mengusap pipi gembul bocah tampan di depannya.


"Jangan sekarang, Sayang. Kalau Bunda sudah mempunyai uang, nanti Bunda belikan," bujuk sang bunda.


Si bocah yang bernama Andi hanya mengangguk, tetapi matanya masih memandang permen lolipop.


Ya Allah, semoga aku bisa membelikan permen lolipop buat anakku, batin perempuan itu sembari menatap lelaki kecilnya. Sudah kesekian kalinya dia menolak keinginan anaknya. Dia segera menggandeng anaknya dan beranjak dari toko sebelah rumah.


Rahma yang akan berangkat kerja begitu terenyuh melihat dan mendengar perkataan Mbak Asih tetangganya. Hanya sebuah permen, tapi dia menunda permintaan si anak. Beruntung Mbak Asih punya anak yang tidak rewel dan penurut.


Dia menatap tubuh ringkih wanita yang baru saja melintas. Kasihan sekali Mbak Asih, janda beranak tiga, semenjak ditinggal pergi selamanya oleh sang suami, harus menghidupi ketiga anaknya sendiri. 


Semoga Allah selalu menguatkannya, batin Rahma.


Rahma masih saja memikirkan nasib Mbak Asih dan ketiga anaknya yang masih kecil. Bagaimana tetangganya itu tidak mampu membelikan sebuah permen lolipop yang harganya tidak sampai dua ribu. Tidak terasa matanya berkaca-kaca, Rahma teringat bagaimana dia dan kakaknya ditinggalkan Ayah saat berumur 3 tahun. Ibunya harus bekerja keras menghidupi kedua putrinya, hingga sekarang alhamdulillah sudah bisa membahagiakan sang ibu. Ibu tidak perlu lagi bekerja keras, sekarang jika ada jahitan tinggal meminta anak buahnya yang mengerjakan. 


"Apa yang kamu lamunkan, Rahma? Katanya mau berangkat kerja, tapi kok masih termangu di situ," tanya ibu. 


"Kasihan Mbak Asih, Bu. Tadi, Si Kecil ingin lolipop, tapi sama Mbak Asih masih dijanjikan," tutur Rahma, netranya berkaca-kaca.


"Apakah kamu teringat masa kecilmu saat ditinggal Ayah?" tanya ibu lagi. Rahma mengangguk.


"Sekarang kamu berangkat kerja saja. Nanti kita pikirkan sama-sama."

* * * 

"Andi, di mana Bunda dan Kakak? Kok main sendiri?" tanya Rahma sambil berjongkok di samping Andi yang sedang bermain air di depan rumahnya.


"Bunda sedang membuat kue dibantu Kakak. Kata Bunda, kuenya nanti mau dititipkan di warung-warung," tutur Andi dengan senyum polos dan mata yang selalu ceria. Rahma gemas dengan tingkah bocah di depannya.


"Andi, ini apa?" tanya Rahma sambil menunjukkan permen lolipop yang dia pegang. Mata Andi pun terbelalak dan berbinar.


"Kak Rahma, Andi mau. Tapi kata Bunda, nanti dibelikan kalau Bunda sudah punya uang. Sekarang uangnya buat bikin kue dulu," ucap Andi polos, tetapi netranya masih melirik permen di tangan tetangganya itu. 


Rahma yang sedang berjongkok agar menyamai tinggi Andi terharu, lalu mencubit pipi tembam bocah itu.


“Nanti biar Kak Rahma yang bilang Bunda. Ayo, ambil permennya kalau mau!”


Rahma segera berdiri dan berlari pelan. Andi pun mengejarnya. Mereka berdua berkejar-kejaran. Andi berusaha merebut permen di tangan Rahma, tapi belum berhasil. Dia berusaha keras sampai akhirnya Rahma lelah sendiri dan mengulurkan permen pada bocah lucu nan menggemaskan itu.


Andi segera memasukkan permen ke mulut dan menikmati permen yang sudah lama dia idamkan. Permen lolipop membuat hidup Andi semakin ceria, walau tidak demikian dengan yang dewasa.


“Makasih, Kak Rahma.”


Gadis manis itu mengangguk sambil mengelus kepala Andi.


“Andi, dapat dari mana lolipopnya? Bunda sudah bilang tunggu Bunda ada uang kalau mau permen.” Suara sang bunda membuat Andi mengeluarkan permen dari mulut.


“Mbak Asih, saya yang memberinya. Tolong jangan marahi Andi.”


“Eh, ada kamu Rahma. Maaf, Mbak gak lihat,” sapa Mbak Asih agak kikuk.


“Mbak, sebenarnya saya ada perlu. Sekarang ketemu di sini, lebih baik saya tanyakan saja. Mbak, apa Mbak Asih bisa menjahit?”


“Alhamdulillah sedikit-sedikit bisa.”


“Mbak, Ibu butuh penjahit. Kalau Mbak Asih mau bisa langsung kerja. Lagian tempat kerjanya dekat, Mbak Asih bisa mengawasi anak-anak.”


Mbak Asih termangu, tidak bisa berkata-kata. Netranya pun berkabut. Begitu cepat doanya dikabulkan Sang Maha Pemberi. Disaat dia memulai usaha kue, disaat bersamaan ada tawaran pekerjaan dari tetangga depan rumah. Memang Tuhan tidak pernah tidur. Selalu ada untuk hambanya.


Dia bertekad akan ambil pekerjaan itu, selama bisa menghasilkan uang dan halal. Demi masa depan ketiga buah hatinya. Tak terasa, bulir-bulir air mata mengalir di pipinya yang tirus. Alhamdulillah.



Tertatih Tapi Tak Merintih

                                   by.me

Masih di sini …
Masih terseok-seok 
namun takkan terperosok

Walau pontang-panting,
namun takkan terbanting

Masih tertatih-tatih 
namun takkan merintih

***

Terus bergerak walau awan
mulai berarak
Takkan berhenti walau raga
terdesak

Biar kata orang gagal
takkan mundur walau hanya
sejengkal

#b124m

Puisi di atas adalah kalimat-kalimat indah yang terungkap dari pikiran saudara saya. Saya tertarik dengan aksara-aksaranya yang sederhana, lugas, dan menggelitik saya sebagai pembaca. 

Berawal dari status WA saya pertama kali tahu kalau saudara saya itu merangkai aksara dengan indah. Akhirnya, saya minta saja buat dimasukkan ke blog.

Bagaimana? Menarik, bukan? Menarik menurut saya.
Rangkaian kalimat sederhana, tapi bagi saya; dalam kesederhanaan ada keindahan yang tak kasat mata. Aksara-aksara tersebut, bagi saya memicu semangat dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup yang dihadapi.
Hidup itu indah, hidup itu sederhana, hidup itu bahagia ... tergantung dari manusia.

Bagaimanapun keadaan atau kondisi kita, harus selalu banyak bersyukur dan yakin bahwa akan ada jalan yang diberikan Allah Swt. Bahwa Sang Pencipta selalu membersamai langkah hamba-hambanya. Tidak pernah meninggalkan kita, tapi kitalah yang terkadang lupa pada-Nya dan meninggalkan-Nya. Lupa bahwa Tuhan tidak pernah pergi.

"Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan." (Surah Al-Insyirah:6)

Itulah yang dijanjikan Allah Swt. pada hamba-hambanya.

Puisi tidak akan pergi, selagi literasi masih melekat di hati.


Aroma Zingiber

Rasa rempah di lidah akan berkurang, tapi rasa pedih di hati sulit menghilang Bibirku menguarkan segaris senyum saat menunggu gi...