Jumat, 22 November 2024

Lolipop Andi

                                Lovepik_com


"Bunda, Andi ingin permen lolipop seperti itu." Seorang bocah lelaki tampan jarinya menunjuk permen berbentuk telapak kaki. Seorang perempuan muda berjilbab hitam itu berjongkok dan mengusap pipi gembul bocah tampan di depannya.


"Jangan sekarang, Sayang. Kalau Bunda sudah mempunyai uang, nanti Bunda belikan," bujuk sang bunda.


Si bocah yang bernama Andi hanya mengangguk, tetapi matanya masih memandang permen lolipop.


Ya Allah, semoga aku bisa membelikan permen lolipop buat anakku, batin perempuan itu sembari menatap lelaki kecilnya. Sudah kesekian kalinya dia menolak keinginan anaknya. Dia segera menggandeng anaknya dan beranjak dari toko sebelah rumah.


Rahma yang akan berangkat kerja begitu terenyuh melihat dan mendengar perkataan Mbak Asih tetangganya. Hanya sebuah permen, tapi dia menunda permintaan si anak. Beruntung Mbak Asih punya anak yang tidak rewel dan penurut.


Dia menatap tubuh ringkih wanita yang baru saja melintas. Kasihan sekali Mbak Asih, janda beranak tiga, semenjak ditinggal pergi selamanya oleh sang suami, harus menghidupi ketiga anaknya sendiri. 


Semoga Allah selalu menguatkannya, batin Rahma.


Rahma masih saja memikirkan nasib Mbak Asih dan ketiga anaknya yang masih kecil. Bagaimana tetangganya itu tidak mampu membelikan sebuah permen lolipop yang harganya tidak sampai dua ribu. Tidak terasa matanya berkaca-kaca, Rahma teringat bagaimana dia dan kakaknya ditinggalkan Ayah saat berumur 3 tahun. Ibunya harus bekerja keras menghidupi kedua putrinya, hingga sekarang alhamdulillah sudah bisa membahagiakan sang ibu. Ibu tidak perlu lagi bekerja keras, sekarang jika ada jahitan tinggal meminta anak buahnya yang mengerjakan. 


"Apa yang kamu lamunkan, Rahma? Katanya mau berangkat kerja, tapi kok masih termangu di situ," tanya ibu. 


"Kasihan Mbak Asih, Bu. Tadi, Si Kecil ingin lolipop, tapi sama Mbak Asih masih dijanjikan," tutur Rahma, netranya berkaca-kaca.


"Apakah kamu teringat masa kecilmu saat ditinggal Ayah?" tanya ibu lagi. Rahma mengangguk.


"Sekarang kamu berangkat kerja saja. Nanti kita pikirkan sama-sama."

* * * 

"Andi, di mana Bunda dan Kakak? Kok main sendiri?" tanya Rahma sambil berjongkok di samping Andi yang sedang bermain air di depan rumahnya.


"Bunda sedang membuat kue dibantu Kakak. Kata Bunda, kuenya nanti mau dititipkan di warung-warung," tutur Andi dengan senyum polos dan mata yang selalu ceria. Rahma gemas dengan tingkah bocah di depannya.


"Andi, ini apa?" tanya Rahma sambil menunjukkan permen lolipop yang dia pegang. Mata Andi pun terbelalak dan berbinar.


"Kak Rahma, Andi mau. Tapi kata Bunda, nanti dibelikan kalau Bunda sudah punya uang. Sekarang uangnya buat bikin kue dulu," ucap Andi polos, tetapi netranya masih melirik permen di tangan tetangganya itu. 


Rahma yang sedang berjongkok agar menyamai tinggi Andi terharu, lalu mencubit pipi tembam bocah itu.


“Nanti biar Kak Rahma yang bilang Bunda. Ayo, ambil permennya kalau mau!”


Rahma segera berdiri dan berlari pelan. Andi pun mengejarnya. Mereka berdua berkejar-kejaran. Andi berusaha merebut permen di tangan Rahma, tapi belum berhasil. Dia berusaha keras sampai akhirnya Rahma lelah sendiri dan mengulurkan permen pada bocah lucu nan menggemaskan itu.


Andi segera memasukkan permen ke mulut dan menikmati permen yang sudah lama dia idamkan. Permen lolipop membuat hidup Andi semakin ceria, walau tidak demikian dengan yang dewasa.


“Makasih, Kak Rahma.”


Gadis manis itu mengangguk sambil mengelus kepala Andi.


“Andi, dapat dari mana lolipopnya? Bunda sudah bilang tunggu Bunda ada uang kalau mau permen.” Suara sang bunda membuat Andi mengeluarkan permen dari mulut.


“Mbak Asih, saya yang memberinya. Tolong jangan marahi Andi.”


“Eh, ada kamu Rahma. Maaf, Mbak gak lihat,” sapa Mbak Asih agak kikuk.


“Mbak, sebenarnya saya ada perlu. Sekarang ketemu di sini, lebih baik saya tanyakan saja. Mbak, apa Mbak Asih bisa menjahit?”


“Alhamdulillah sedikit-sedikit bisa.”


“Mbak, Ibu butuh penjahit. Kalau Mbak Asih mau bisa langsung kerja. Lagian tempat kerjanya dekat, Mbak Asih bisa mengawasi anak-anak.”


Mbak Asih termangu, tidak bisa berkata-kata. Netranya pun berkabut. Begitu cepat doanya dikabulkan Sang Maha Pemberi. Disaat dia memulai usaha kue, disaat bersamaan ada tawaran pekerjaan dari tetangga depan rumah. Memang Tuhan tidak pernah tidur. Selalu ada untuk hambanya.


Dia bertekad akan ambil pekerjaan itu, selama bisa menghasilkan uang dan halal. Demi masa depan ketiga buah hatinya. Tak terasa, bulir-bulir air mata mengalir di pipinya yang tirus. Alhamdulillah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aroma Zingiber

Rasa rempah di lidah akan berkurang, tapi rasa pedih di hati sulit menghilang Bibirku menguarkan segaris senyum saat menunggu gi...