Rabu, 03 Juni 2026

Aroma Zingiber

Rasa rempah di lidah akan berkurang, tapi rasa pedih di hati sulit menghilang


Bibirku menguarkan segaris senyum saat menunggu giliran turun dari bemo.
"Ini, Pak." Kuberikan uang lima ribuan pada sopir bemo untuk ongkos dari Wonocolo ke Bungurasih. Segera kuajak kakiku naik jembatan penyeberangan agar aku bisa sampai di tempat bus antar kota menunggu. Lumayan juga jalan yang harus kutempuh hingga menghasilkan butiran peluh yang membasahi beberapa bagian tubuh.

Akhirnya duduk juga, ucapku dalam hati saat mendapatkan tempat duduk favoritku di belakang sopir bus patas. Biasanya kalau hari Sabtu selalu penuh dengan pekerja pulang kampung. Salah satunya aku. Si anak rantau. Senang bisa menatap wajah-wajah lelah yang menguras energi untuk keluarga di rumah. Betapa bahagia saat bisa membingkai senyum keluarga yang telah menanti.

Lelah menatap sosok-sosok penumpang, kupejamkan netraku. Seiring melajunya kendaraan yang akan membawa ragaku ke tujuan selama dua jam ke depan. Dinginnya suhu pendingin membuatku terlelap hampir satu jam lebih. Meski setiap 15 menit, mataku terbuka dan menatap jalanan. Lalu terlelap lagi.

Hingga akhirnya indra penglihatanku benar-benar terbuka saat sebuah aroma minuman menusuk-nusuk penciumanku. Saat pertama mencium aroma ini, kubuka sedikit mata, melirik penumpang sebelahku. Ternyata bukan dia. Aroma khas minuman semakin menyayat. Tak sabar, kubuka lebar pandanganku. Mencoba mencari aroma itu dari penumpang yang duduk dekat pintu. Bukan juga.

Aku pura-pura berdiri sejenak, menoleh ke belakang. Rupanya di sini. Terlihat seorang bapak berusia 60 tahunan sedang memegang tumbler. Dia menuangkan minuman berwarna kuning kecoklatan ke gelas kecil. Lalu meminumnya. Jantungku seolah berhenti melihat pemandangan di depanku. Bapak yang sedang minum memandangku heran, tapi memberiku senyum khas orang tua. Senyum bijak dan ramah.

Aku mengangguk dan kembali duduk. Menatap jendela yang memberikan pemandangan hamparan sawah. Pelan tapi pasti, mataku mulai berkaca-kaca. Mengingat saat-saat indah itu.

***

Aku turun dari ojek, membawa kaki untuk menapaki jalan yang agak menanjak. Melewati kebun singkong di kanan, sedangkan sebelah kiri jagung yang mulai berbuah. Bibirku tersenyum saat rumah Ibu telah tampak. Kutambah kecepatan jalanku agar segera sampai. Menahan rindu seminggu untuk Ibu. Kini saatnya untuk bertemu melepas rindu.

Langkahku terhenti di halaman saat aku menoleh ke kanan, ada seorang lelaki sedang menyiram tanaman di kebun. Kuhampiri lelaki yang telah membesarkan aku. Lelaki yang selalu memotivasi aku dengan kalimat kamu pasti bisa. Telaten sekali dia merawat tanaman. Usai menyiram, dia jongkok di depan tanaman.

"Assalamualaikum, Pak."

Senyumnya merekah saat menatapku yang telah berdiri di depannya. Kuraih tangannya dan menciumnya.

"Waalaikumsalam, Nduk. Eh, tangan Bapak kotor," ucapmu sambil mengelus kepalaku yang tertutup hijab.

"Kenapa Bapak jongkok di situ?"

"Ini lho, Bapak mau ambil jahe. Tanahnya kan keras karena lama nggak hujan. Jadi bapak sirami dulu biar mudah," jawabmu. Tanganmu pun bergerak lagi untuk menggali jahe.

"Rum, kamu ingat nggak nama latinnya jahe?"

"Kalau nggak salah Zingiber Officinale, Pak."

"Pinter anak Bapak."

"Bapak ngetes Arum, ya."

"Ayo ke dalam. Ibumu pasti sudah menunggu. Tahu kamu mau datang, semalam pasti nggak bisa tidur. Lucu ibumu itu," tutur Bapak.

"Ibuku kan istrimu, Pak," jawabku.
Kami sama-sama tergelak.

"Eh, anak Ibu sudah datang." 
Segera kucium wanita yang telah melahirkanku, tidak lupa memeluknya erat. Menyalurkan rindu yang telah menunggu. Juga, mengisi energi lagi.

"Kamu bersih-bersih dulu, Rum."

Aku menganggukkan kepala dan pergi ke kamar. Tak lama, kami bertiga berkumpul di ruang makan. Rinai hujan mengiringi malam saat kami bercanda ria.

"Rum, hujan begini enaknya makan dan minum yang hangat. Singkong sudah ada. Minumnya paling enak apa?" Bapak melihat ke arahku.

"Teh hangat atau susu coklat, Pak."
Jari telunjuk Bapak bergerak ke kanan dan kiri.

"Bukan, Rum. Ini paling enak." Bapak menunjukkan segelas air berwarna kecoklatan dan mengendusnya. Matanya terpejam menikmati aroma minuman yang ada di depan hidung.

"Ihh, baunya, Pak. Arum nggak suka baunya. Bikin mual." Kupencet hidung agar baunya tidak terserap ke penciumanku. Namun, masih saja ada yang menyusup masuk. Mual menyerangku.

"Kamu ini seperti ibumu. Nggak suka jahe. Padahal ini bagus lho buat kesehatan, Rum. Manfaatnya banyak banget."

"Tapi aku nggak suka, Pak." Aku menggelengkan kepala sambil tetap menutup hidung. 

"Rum … Rum. Kamu kan sering masuk angin. Nah, salah satunya, ini juga bisa mengurangi perut kembung lho." Bapak menerangkan lagi dan mencoba merayuku. Aku tetap menggeleng kuat.

Usaha keras Bapak membujukku agar menyukai jahe tidak membuahkan hasil. Hingga bunyi kentung yang dipukul sepuluh kali membuat kami pergi ke kamar masing-masing. Terlelap bersama suara jangkrik mengiringi.

Paginya, aku bangun dengan badan kurang enak. Pusing dan sedikit mual. Air pun menjadi dingin ketika menyentuh kulitku. Badanku sedikit panas. Aku bangkit dari tidur, berjalan menuju Ibu yang ada di dapur.

"Kamu kenapa Rum? Wajahmu kok pucat?" Ibu menghampiri dan memegang keningku.
"Badanmu anget, Rum. Pakkk!!" Ibu berteriak memanggil Bapak yang tergopoh-gopoh datang.

"Apa, Bu? Pagi-pagi kok teriak. Mau saingan sama ayam berkokok." 

"Bapak masih bisa bercanda. Ini lho anakmu sakit. Badannya anget."

Bapak pun berbalik meninggalkan Ibu juga aku. Kemudian kembali lagi dengan membawa sebuah gelas yang berisi minuman beraroma yang tidak aku suka.

"Nduk, kamu minum ini dulu. Pertolongan pertama sebelum ke dokter," bujuk Bapak.

"Arum tidak mau!" Segera aku pergi dari dapur. Bergegas menuju kamar dan membaringkan tubuhku. Kucoba memejamkan mata lagi, siapa tahu saat bangun nanti aku sudah sehat.
Namun, ketika aku bangun, aku masih mual. Demamku pun masih belum pergi.

"Rum, kamu sudah bangun?" Suara Bapak memanggilku. Pintu kamarku terbuka sedikit. Terlihat Bapak melongok ke dalam.

"Iya, Pak," sahutku lemah.
Bapak menghampiriku. Di tangannya ada minuman yang masih beruap.

"Rum, minumlah. Ini sudah bapak campur madu dan jeruk nipis sedikit biar aroma jahenya sedikit berkurang. Bapak ingin anak Bapak sehat. Bapak sedih kalau kamu sakit, Nduk." Wajah Bapak mengungkapkan ekspresi sedih yang mendalam.

"Minum sedikit dulu ya, Nduk. Mumpung masih anget. Biar badanmu berkeringat. Biar racun-racun di tubuh keluar bersama keringat."

Aku menatap usaha merayu Bapak.
"Atau … mau dibelikan permen Yupi kesukaanmu? Setelah minum jahe terus langsung makan Yupi. Jadinya jahe rasa Yupi."

Senyumku merekah mendengar Bapak membujukku dengan Yupi. Kuanggukkan kepala. Bapak pun membawa minuman jahe, lalu menyuapi aku dengan sendok kecil hingga tak tersisa.

"Sekarang, Arum tidur lagi. Insya Allah nanti bangun sudah segar."

Kubawa mataku terpejam setelah mengisi perutku dengan sarapan dan minuman hangat dari Bapak.
Beberapa saat setelah tertidur, tangan Ibu yang memegang kening membuatku terbangun.

"Alhamdulillah, badanmu sudah berkeringat. Perutmu masih mual, Rum?"
Kugelengkan kepala, lalu pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka.

"Alhamdulillah, anak Bapak sudah sehat." Bapak memberiku senyum paling manisnya.

"Makasih ya, Pak," ucapku sambil memeluk Bapak.

"Pak, Arum jadi suka jahe. Enak rasanya."
Bapak membelai kepalaku dan mengecupnya.
"Minuman tradisional itu sehat, Rum. Cobalah untuk menikmati kekayaan rempah negara kita," ucap Bapak saat itu

***

'Pak, ini sudah 3 tahun. Tapi ingatan tentangmu masih menyelimutiku. 
I miss you, Pak,' lirihku dalam sanubariku. Lelehan air mata membasahi sudut mata. Segera kuusap. Malu kalau dilihat orang, apalagi di bus. 

Perjalanan pulang kampung selalu mambangkitkan kenangan tentangmu. Bahkan dalam aroma khas minuman rempah ini, selalu hadir senyummu. Senyummu ketika merayuku, senyum merekahmu saat aku berhasil suka dengannya. Senyum seorang lelaki yang selalu membersamaiku dari kecil hingga engkau pergi kembali ke Sang Pencipta.

Kepergianmu tidak berarti aku melupakanmu, tapi kenangan bersamamu selalu hadir saat-saat tertentu. Kuembuskan napas, melepas kepergianmu. Namun, rindu itu masih melekat di kalbu.
Aroma jahe yang menguarkan rindu untukmu. Rindu yang tak pernah usai.











Kamis, 12 Februari 2026

Pertembungan

                          Foto: by me


"Bu, tokonya dibuka sekarang? Sudah jam delapan." Pertanyaan ini kuberikan pada Ibu yang masih berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan. Aku bersiap membantu Ibu untuk membuka toko serba ada sebelum berangkat kuliah. Inilah rutinitas pagiku.

"Oke, Bim, buka saja! Ibu membersihkan dapur sebentar!" teriak Ibu.

Bergegas aku membuka pintu toko yang masih terkunci, lalu merapikan dagangan Ibu sambil bersenandung lirih. Jalanan depan toko Ibu sudah ramai berseliweran kendaraan dan orang-orang yang mulai beraktivitas.

Di depan rumah sekaligus toko, ada beberapa mahasiswa sedang berdiri menantikan bus antar kota. Bus yang biasa melintasi jalanan di sini adalah jurusan Malang. Banyak temanku yang kuliah dan rela setiap hari pulang pergi Kediri-Malang karena dekat, tapi jauh kalau menurutku. Karena perjalanan yang harus ditempuh kurang lebih 4 jam. Cukup melelahkan harus di bus 8 jam. 
Teman-temanku bilang sekalian healing. Bahkan, banyak juga teman-temanku yang menggunakan motor, padahal jalannya berliku-liku. Belum lagi harus bertemu dengan bus, truk, mobil, dan kendaraan lainnya. Sudah capek membayangkannya 

"Mas, beli air mineralnya!" Suara imut manja seorang gadis mengagetkan kesibukan dan anganku. Saat aku menatap si pemilik suara, sontak hatiku berdegup kencang hingga kutepuk dadaku pelan. 

"Tuhan, manis dan imut sekali gadis ini!" batinku berteriak. Jariku mencubit kulit tangan, ternyata sakit dan ternyata lagi, aku tidak sedang bermimpi. 
"Ini kenyataan, Bima," tegur batinku sambil meraih pesanan si gadis.

"I-ini, Mbak." Aku mengulurkan air mineral botol dengan sedikit gemetar. Rupanya gadis imut itu menyadari kegugupanku.

"Mas, jangan grogi, dong," goda gadis manis berambut panjang itu.
Aku tersipu malu.

"Tuhan, aku ingin mengenalnya," batinku berteriak lagi.

"Namaku Galuh." Gadis yang mengaku bernama Galuh itu mengulurkan tangan padaku yang membuatku sekali lagi terkesima.
"Begitu cepat Tuhan menjawab permintaanku." Aku membatin lagi.
Dalam kegugupan, aku hanya mampu menatap jemari lentik itu. 

"Ihh … Mas-nya nggak mau kenalan. Ya sudah, aku pergi saja." Suara gadis bernama Galuh terdengar kesal, lalu dia menghilang seiring datangnya bus jurusan Malang.

Aku hanya diam menatap kepergian gadis langsing berambut panjang yang telah membuka hariku dengan indah 

"Apakah dia kuliah di Malang? Jelas saja, dia naik bus Malang. Kamu jangan menjadi bodoh, Bim," gumamku. Aku tenggelam dalam bayangan Galuh yang menari indah dalam pikiran dan lamunan.

"Galuh. Namanya Galuh," ucapku lirih sambil menatap kosong jemari yang dihinggapi penyesalan karena tidak menyalami gadis yang telah mengulurkan jemarinya untuk mengawali sebuah perkenalan..

"Bima! Bima!" Sebuah cubitan keras dan menyakitkan kurasakan di lengan. Kuusap sakitnya yang masih terasa dan melihat siapa pelakunya. Ternyata Ibu.

Pandanganku masih tertuju pada jalanan yang semakin riuh. Seperti riuhnya Galuh dalam pikiranku.
"Semoga Tuhan memberiku kesempatan bisa berjumpa lagi dengannya," doaku dalam hati.

"Apa yang kamu lamunkan Bimaku Sayang?" Ibu menggugah kembali pikiranku.
"Nggak apa-apa, Bu. Pagi-pagi begini, paling enak minum yang manis biar hariku semakin manis," ucapku tanpa sadar. Sekilas wajah manis itu muncul kembali.
"Kamu nyindir atau apa, Bim? Tiap pagi Ibu buatkan teh hangat, apa kamu melupakannya?" ucap Ibu gemas sambil mengulurkan tangan ke arah telingaku.
Aku pun lekas menjauh dari Ibu, menghindari cubitan sayangnya.
* * *

Hari ini, semangatku sangat menggebu untuk membantu Ibu. Tanpa bertanya lagi, aku segera membuka toko dan menata dagangan ibu.

"Semoga, hari ini bisa bertemu dia lagi," harapku dalam hati. Jantungku sudah berdenyut saat mengingat paras manis Galuh.

"Semoga bisa ketemu dia lagi, ya, Bim." Ibu mengungkapkan keinginan terpendamku.
Kulayangkan pandang ke wajah cantik Ibu.

"Ketemu dia siapa, Bu?" 
"Bukankah kemarin ada gadis manis bernama Galuh beli air mineral. Kamu diam saja saat dia ngajak kamu salaman," ucap Ibu.

Mataku mengerjap mendengar ucapan Ibu yang rupanya tahu urutan kejadian kemarin. Namun kubiarkan saja Ibu, aku kembali membersihkan depan toko yang terlihat kotor.
"Memang Ibu mengintip?" tuduhku.
"Ibu punya banyak mata di sini. Hati-hati kamu," desis Ibu sambil tidak lupa melakukan hobinya, menjewer telingaku.

"Sakit, Bu. Nggak heran telinga Bima tambah panjang karena sering dijewer Ibu." Aku mengusap telingaku yang mungkin sudah memerah. Ibu akan melanjutkan ucapan, tetapi terhenti oleh suara yang sudah kunantikan.

"Wah, Mas-nya rajin membantu Ibu, ya!" 

"Suara ini …." Aku menoleh ke sumber suara. 
Berdirilah seorang gadis manis dengan senyum yang membuatnya makin menawan. 
"Rambut sebahu tergerai indah dengan setelan baju sederhana. Tuhan, cantik sekali ciptaan-Mu," teriakku dalam hati lagi.
Bola mataku menatap keindahan di depan mata, enggan berpaling.

"Mas-nya dari kemarin bengong melulu," cetus Galuh mengagetkanku.

"Galuh, anakku Bima itu pendiam dan malu-maluin," seloroh Ibu yang diiringi tawa renyah Ibu dan Galuh.

Sementara aku segera menghampiri Ibu dan berdiri di sampingnya. Tanganku pun terulur pada Galuh.
"Aku Bima, kuliah semester akhir jurusan komputer," ucapku pelan. Rasa maluku telah kusingkirkan dengan rasa ingin mengenalnya lebih jauh.
Mungkin sekarang parasku sudah memerah, menahan malu atas kenekatanku berkenalan dengan seorang gadis. Ini adalah sejarah baru seorang Bima. Ibu paling tahu untuk memancing keberanianku keluar dari sarangnya karena aku merasakan usapan lembut Ibu di punggung.

Semenjak momen aku melupakan rasa malu, hubungan Galuh dan aku makin akrab. Apalagi setelah bertukar nomor telepon, dunia seolah hanya milik kami berdua. Pagi, siang hingga menjelang terlelap pun ponsel akan bersanding dengan indah di telinga kami.
Hingga pernah suatu saat, ponselku disembunyikan Ibu karena begitu kesalnya dengan aku yang diselimuti kabut asmara hingga selalu membawa ponsel kemana-mana. Seharian itu, aku kebingungan mencari ponsel yang raib. Komunikasi ke Galuh pun terhenti. Duniaku seolah kosong, hampa karena tidak bisa konek ke Galuh.
Sorenya, Galuh mampir ke rumah untuk mencari tahu keberadaanku yang hilang sehari. Di situlah, kami berdua disidang Ibu dan Bapak. Ibu mengeluarkan unek-uneknya.
Katanya, boleh saja kami jatuh cinta, tapi jangan melupakan orang sekitar. Memangnya dunia ini milik kalian berdua, ada Ibu dan Bapak di sini. Ibu cemburu. Beliau juga mengakui kalau menyembunyikan ponselku. 

Aku geli sekaligus merasa terharu menyadari Ibu yang melahirkanku ternyata cemburu. Spontan aku memeluk Ibu dan meminta maaf atas kekhilafanku. Sementara Bapak hanya mengangguk-angguk saja menatap kami.
* * *
Ibu dan Galuh puas sekali menertawakan aku. Mereka saat ini sedang mengolokku saat mengenang aku dan Galuh pertama kali bertemu.

"Bu, lihat, wajah Mas Bima merah seperti buah tomat dan seperti inilah ketika dia berkata namaku Bima," olok Galuh.

"Tapi, kamu juga ingat 'kan, Sayang, saat ponselku hilang. Terus kita disidang ibuku yang cemburu," balasku sambil menatap Ibu yang sekarang melotot ke arahku.
Galuh tidak bernyali untuk membalas ucapanku karena sudah menyangkut Ibu mertua.
"Kalau Ibu nggak menyidang, kalian tidak akan cepat menikah juga 'kan," cetus Ibu.

Kami pun tergelak mengingat masa awal perkenalan hingga menikah. Momen lucu yang menjadi bagian dari kenangan indah hidup. Aku menoleh ke Galuh yang telah menjadi pendamping hidupku. Wanita cantik yang menjadi makin cantik karena memutuskan berhijab setelah menikah. Tidak memedulikan Ibu yang menatap, kuusap pipi halus dan putih istriku.

"Yang penting, kamu sekarang sudah jadi istriku, Galuh Sayang," ucapku lirih.
"Demi menjadi istriku, kamu rela kursus masak sebulan sebelum kita menikah. Terima kasih, Sayang," ungkapku lagi.

Sekarang aku yang puas karena bisa membuat istriku terdiam dan pipinya merona. Kuraih jemari rampingnya yang kini telah bertengger cincin pernikahan kami. Ibu geleng-geleng kepala melihat aku yang semakin berani menunjukkan keromantisan setelah menikah.

Dari jendela dapurku, kutatap senja yang hendak menyelimuti bumi. Senja yang berdampingan dengan mendung tampak memesona insan bumi. Seperti hidupku bersama Galuh yang masih akan menempuh perjalanan panjang. Akan kutempuh perjalanan dengan beragam rasa kehidupan bersamanya.

Aku tersenyum, meresapi rasa manis cinta yang dianugerahkan Tuhan. Ternyata sangat manis saat sudah menemukan orang yang tepat di saat yang tepat pula. Tuhan akan selalu menepati janjinya untuk mempertemukan dengan belahan jiwa terbaik. Tuhan tahu yang terbaik untuk hamba-Nya dan tahu apa yang dibutuhkan. Itulah yang aku yakini selama ini.
Terima kasih, Tuhan atas anugerah terindah-Mu.



* Pertembungan menurut KBBI adalah pertemuan, perjumpaan.

Wingko

                                 Foto: by me

Gambar apakah di atas? Makanan iya, tapi apakah itu? Seperti tempe mendol (tempe yang dihaluskan, dibumbu, dikepal, lalu digoreng), juga bukan. Duh, enaknya membayangkan tempe mendol? Bakwan jagung atau dadar jagung juga bukan. Lalu, apa itu?
Sahabat, gambar di atas adalah sebuah makanan khas yang terkenal di salah satu daerah, yaitu Kota Tuban. Makanan ini terkenal dengan rasa manis dan gurih. Enak bagi saya dan penyuka jenis makanan ini.
Nama makanan ini adalah wingko. Makanan khas yang terbuat dari tepung ketan, kelapa muda yang diparut, dan tidak lupa gula sebagai pemanis.
Dari sebuah ketidaksengajaan karena membeli satu kelapa utuh untuk bahan urap-urap, akhirnya dari yang tersisa terciptalah sebuah rasa enak di indera perasa. 
Hari itu, Ibu memintaku untuk mengantar ke pasar. Maklum, bahan-bahan sayur yang biasanya beli di tukang sayur langganan lagi kosong alias tukang sayurnya lagi libur. Akhirnya lah, Ibu mengajak ke pasar. Sayur mayur dan perbumbuan sudah terbeli hingga bahan terakhir, yaitu kelapa yang belum didapat.
Kami pun beranjak ke penjual kelapa. Ibu memilih satu kelapa agak muda untuk urap-urap dan minta diparutkan juga. Setelah mendapatkan semua kebutuhan, kami pun pulang ke rumah.
Setibanya di rumah, Ibu melanjutkan acara memasak urap-urap.
"Bu, kelapanya mau dimasak semua?" tanyaku.
Ibuku menggeleng sambil menjawab, "Bumbu urap ini kamu goreng dulu."
Ibu memintaku untuk melanjutkan menggoreng bumbu urap, sementara beliau melanjutkan mengolah sisa kelapa parut yang masih banyak. Aku hanya melihat yang dikerjakan Ibu sambil bertanya-tanya.
"Ibu mau bikin apa?" tanyaku memecah keheningan di antara kami.
"Itu bumbu urapnya sudah matang kamu sisihkan dulu. Sekarang kamu lanjutkan goreng ini, di penggorengan satunya. Tanpa minyak." Ibu tidak menjawab pertanyaanku, tapi langsung memberi perintah.
Aku hanya mengangguk dengan tangan yang otomatis bergerak seperti yang diucapkan Ibu. Aku meletakkan penggorengan di atas kompor dengan api kecil. Lalu meletakkan kelapa parut yang oleh Ibu sudah dibentuk bulat di atas penggorengan yang telah hangat.
"Bu, apa ini wingko?" tebakku.
Ibu tersenyum manis sambil berucap, "Betul anakku sayang. Daripada kelapanya disimpan di kulkas, lebih baik dibikin wingko saja. Mumpung ada sisa tepung ketan."
Aku hanya mengangguk-angguk. 
.                         Foto: by me

Sahabat, foto di atas adalah penampakan wingko yang rasanya enak banget (bagi saya). Rasanya manis dan gurih. Hanya dengan campuran kelapa muda parut, tepung ketan, gula, sedikit vanili, dan sedikit garam, lalu dibentuk bulat ... jadilah makanan yang lezat dan nikmat.
Ayuk dicoba di rumah. Mudah dibikin, enak pula dirasa.
Akan tetapi, jangan sering-sering makan yang manis-manis, ya. Makan apa saja boleh, asal jangan berlebihan (seperti yang diajarkan Rosulullah saw).


#makanankhas #wingko #khasTuban #gurih #KotaTuban

Senin, 25 November 2024

Menjelang Magrib


Ting! Mendengar bunyi notifikasi, otomatis tanganku merogoh saku celana dan membuka ponsel.

Dewi
[Ra, nggak ada orang di rumah. Nanti kamu masuk aja, pagarnya nggak aku kunci. Aku masih ke minimart. Jangan lupa nyalakan lampu teras]

Aku membaca pesan dari Dewi, temanku, si empunya rumah. Segera saja aku membuka pintu pagar, melangkah ke teras dan mencari tombol lampu.

"Gelap banget? Mana sepi juga. Sudah tahu sore, kenapa lampunya nggak langsung dinyalakan sekalian sama Si Dewi?" gerutuku saat sudah menyalakan lampu. 

Aku sedikit takut melihat rumah Dewi yang begini luas, sepi, ditambah lagi ada pohon beringin besar dekat taman yang membuat bulu kudukku makin meremang. Belum lagi sekarang menjelang magrib. Duduk di kursi kayu, aku membuka ponsel ingin membaca novel online.

Akan tetapi, tiba-tiba saja terdengar suara gamelan di ruang depan dekat taman. Ruang itu adalah tempat biasanya Dewi, aku, dan teman-teman ibunya berlatih karawitan. Karena penasaran, aku berjalan menuju sumber suara di sebelah kanan teras.

Kakiku berhenti saat melihat ada bayangan seorang perempuan berkonde dengan baju kebaya motif bunga warna biru masuk ke ruang karawitan. 

"Katanya belum ada yang datang, tapi lampu depan ruangan sudah menyala. Sepertinya pelatih karawitan juga sudah datang," gumamku. 

Berdiri di depan ruang karawitan yang terlihat remang, karena hanya lampu depan yang terang. Di antara keremangan, aku melihat perempuan berkebaya ada di dalam, sedang memainkan salah satu gamelan. Tanganku bergerak ingin membuka pintu saat terdengar suara Dewi.

"Ra! Kamu ngapain berdiri di situ!" teriak Dewi mendekati dan menarik kuat tanganku yang sudah memegang handle pintu. Aku hampir terjengkal oleh tarikan Dewi.
 
Aku berusaha melepas, tapi tak mampu karena Dewi mencengkram begitu kuat. Tanganku dilepas saat sudah tiba di teras. Aku menatap Dewi bingung.

"Aku tadi mau masuk ruangan karena melihat pelatih karawitan sudah datang," ucapku pelan.

"Ra, ruang karawitan ada di sebelah kanan kita. Kamu tadi berdiri di depan pohon beringin besar samping pos sekuriti," gusar Dewi.

Aku menoleh pohon beringin yang dikatakan Dewi, terlihat perempuan berkebaya berdiri di depannya dan menyeringai seram padaku. 

Deg. Jantungku berdegup tidak beraturan.




Minggu, 24 November 2024

Setetes Air Ujang

                                     by.me

Di sebuah kamar yang masih benderang, diiringi musik malam, alunan suara merdu jangkrik saling bersahutan. Seorang bocah lelaki terlihat asyik bermain bersama sang kakek yang sedang membujuk agar mau tidur.


"Adek, sudah malam. Ayo tidur," bujuk si kakek. Bocah yang dipanggil Adek hanya menyunggingkan senyum, tapi jemarinya masih memegang mainan sambil menirukan suara mirip mobil. Kakek mengusap penuh kasih sayang pada cucunya.


"Adek belum mengantuk, Kek," rajuk si cucu. 

"Bagaimana kalau Kakek mendongeng?" bujuk kakek lagi. Adek menatap sorot mata  lembut sang kakek sambil berpikir, akhirnya dia menganggukkan kepala. Kakek pun menuntun Adek ke tempat tidur,  membaringkannya, dan akan menyelimuti tubuh cucunya. Namun, mendapat penolakan karena bocah kecil itu bersikukuh ingin duduk. Kakek tersenyum lembut sembari mengusap rambut legam cucunya.


Kemudian, dari bibir kakek mengalirlah sebuah cerita ….

*  *  *  

Di sebuah desa yang sejuk dan damai, bernama Desa Pucuk. Tersebutlah seorang bocah bernama Ujang, dia hidup bersama seorang nenek yang biasa dipanggil penduduk setempat dengan Nenek Uti. Ibunya telah meninggal saat Ujang baru berumur setahun. Hampir lima tahun Ujang diasuh sang nenek karena bapaknya yang bernama Kang Dadang harus bekerja di ibukota kerajaan.


Ujang adalah anak yang pintar dan rajin, setiap hari dia bangun pagi, membantu sang nenek untuk menyiapkan makanan yang akan dijual di warung. Walaupun perawakan Ujang kecil, tetapi dia sangat cekatan. Mondar-mandir dari dapur ke warung yang ada di depan rumah, mengambilkan yang dibutuhkan nenek. Ujang tidak pernah mengeluh capek, semuanya dijalani dengan gembira.


Nenek sangat bangga pada cucu satu-satunya yang selalu tersenyum, rajin, dan patuh. Dia selalu berkata, Ujang bantu apalagi, Nek. Banyak teman-temannya yang ingin mengajak Ujang bermain, tetapi selalu ditolak. Dia akan mengatakan sedang membantu nenek.


Pengunjung warung pun terkagum dan iba dengan sosok kecilnya. Keadaan yang membuat Ujang menjadi pekerja keras dan jujur dalam menghadapi hidup. Terkadang, Ujang pun ikut meladeni pembeli saat sedang ramai. 


Hingga di suatu siang yang panas, saat warung sepi dan sang nenek sedang salat. Ujang menjaga warung sendirian, terlihatlah seorang kakek menghampiri warung.


"Assalamualaikum," salam seorang tua berambut putih dengan setelan putih dan juga bersorban putih. Wajahnya bersih disertai mata yang begitu bening.


"Wa'alaikumsalam. Silakan masuk, Kek. Kakek mau minum apa?" tanya Ujang dengan ramah.


Sang Kakek terpesona dengan keramahan Ujang. Dia tersenyum dan berjongkok di depan Ujang. Tangannya mengusap rambut dan pipinya. Perlakuan sang kakek membuat Ujang mundur gentar karena tidak mengenal kakek berbaju putih. Si kakek menatap mata bulat Ujang.


"Ada yang Ujang bisa bantu, Kek?" tanya Ujang lagi, walau suaranya agak bergetar takut. Dia melihat keringat bercucuran di wajah bersih sang kakek.


"Kamu tidak perlu takut cucuku. Kakek hanya ingin minum, tetapi tidak membawa uang," ujar si kakek dengan suara lembut. 


Ujang mengangguk dan tanpa mengeluarkan suara, dia segera mengambil segelas air putih dan mengulurkan pada kakek.


"Silakan, Kek." 

Lalu Ujang berbalik mengambil kendi lagi, siapa tahu kakek masih kehausan.


"Alhamdulillah, segar sekali airnya. Terima kasih. Ujang di sini dengan siapa?"


Kakek menatap dengan wajah bijak, sementara Ujang masih memegang kendi di tangan.


"Ujang tinggal bersama Nenek Uti, Bapak bekerja di kota. Ujang membantu Nenek menjaga warung." Ujang menjelaskan pada kakek yang menatapnya kagum. 


"Kakek rumahnya di mana?" tanya Ujang

"Rumah Kakek jauh sekali." Kakek sekali lagi mengusap kepala Ujang. 


Tiba-tiba, terdengar suara nenek dari dapur.

"Ujang! Kamu bicara dengan siapa?" 

Ujang pun menoleh.


"Dengan Kakek, Nek," sahut Ujang. 

Nenek berjalan menghampiri cucunya dengan terheran, karena tidak ada siapa pun.


"Mana? Kakek siapa? Kamu mimpi, ya?" gurau Nenek. Ujang kebingungan karena kakek berbaju putih telah lenyap, gelas yang tadi dipegang pun sudah kembali ke tempat semula.

'*  *  *  

"Lalu, kakek yang menghilang pergi kemana, Kek?" tanya Adek yang mendengarkan cerita kakek dengan antusias. Kakek hanya menyunggingkan senyum menatap sang cucu sambil melanjutkan cerita.

*  *  *

Menjelang pagi, saat cakrawala merona dengan indah, terdengar ketukan di sebuah rumah sederhana. Nenek yang sedang sibuk di dapur segera beranjak untuk membuka pintu. Tampaklah seorang prajurit yang gagah disertai senyum ramah.


"Permisi, Nek. Apakah benar ini rumah Ujang?" tanya sang prajurit.


Nenek mengangguk karena masih terkejut melihat sosok prajurit gagah yang berdiri di depan rumah kecilnya.


"Nek, kami mendapat tugas dari Baginda untuk membawa Nenek dan Ujang ke istana," ucap prajurit. 

Nenek termangu mendengar tugas yang diemban. 


Ada apa ini? batin Nenek Uti.


“A-a-apa salah kami? Mengapa harus ke istana?” Tanya Nenek gugup. Sementara prajurit suruhan hanya tersenyum misterius.


Meskipun hati Nenek Uti dilanda kegundahan, dia dan Ujang tetap berangkat ke istana. Karena rasa ingin tahu lebih besar daripada rasa takutnya. Nenek tidak takut karena merasa tidak berbuat salah. 


Setibanya di depan Baginda, Ujang sangat terkejut melihat raut muka yang sangat dikenalnya. Namun, dia segera membungkuk,  memberi hormat.


"Kakek. Ampun, Baginda." Ujang tergagap. Bingung harus memanggil apa pada seseorang yang sedang duduk di singgasana.


'*  *  *

"Kek, kakek yang diberi Ujang minum berarti seorang raja? Membantu orang lain tidak boleh pilih-pilih, ya, Kek. Siapa pun yang membutuhkan harus dibantu, selama kita mampu." 


"Cerdas sekali, Cucuku," puji Kakek sambil menyentil hidung cucunya.


"Kek, doakan Adek, biar bisa menjadi anak yang saleh, patuh pada orang tua, jujur, dan suka membantu orang lain, ya," tegas Adek bersemangat.


"Alhamdulillah, tentu saja Kakek akan selalu mendoakan yang terbaik. Cucu kakek memang sangat pintar, sudah memahami inti cerita ini. Sekarang, waktunya tidur." Kakek menyelimuti tubuh sang cucu seraya berbaring di samping dan memeluk tubuh mungilnya dengan penuh kasih.


*  *  *








Perjalanan Lelakiku

                                by.me
Kupandangi rumah kecil yang telah aku tempati beberapa bulan ini, letaknya berada di kebun belakang tempat tinggal adikku. Kebun lumayan luas dengan bermacam tumbuhan. Ada manggis, mangga, rambutan, nangka, singkong, dan beberapa tanaman lainnya. Rumah khusus yang dibangun karena keberadaanku, sangat mendadak karena tidak ada lagi yang mau mengurusku. 

Takada lagi istri atau mantan istri yang dulu menemani. Anak-anakku pun tak ada yang mau melihatku. Bahkan ada yang tidak mengenali karena aku tinggalkan mereka semenjak bayi. Sekarang, hanya sendiri ditemani sepi. Pada akhirnya, adik-adikku yang dengan berat hati mau memberi tempat.

Masa laluku yang kelam, banyak menyakiti orang dan membuat banyak kaum hawa menitikkan air mata karena ulahku. Banyak jiwa tersakiti karena aku, begitu pun dengan orang tuaku. Segala permintaan harus terwujudkan. Egois, itulah aku. Mungkin, ini adalah perjalanan yang harus aku terima dan jalani setelah melalui masa muda dengan menebarkan banyak luka.

Orang-orang yang dahulu mengenalku, kini seolah tak peduli atau bahkan mungkin takut. Bisa jadi malah jijik. Badanku yang jarang mandi dan berbau tidak enak membuat siapa pun enggan mendekat. Namun, aku mengabaikan tatapan-tatapan menusuk itu. Buat apa? Biarkan saja mereka membenciku. Inilah aku dengan kondisiku.

* * *
Siang itu, aku menatap masakan sayur lodeh rebung yang dihidangkan bersama lauk ikan pindang dan tempe. Adik bungsuku yang selalu memasakkan setiap hari buatku. Aku meraih pindang, menikmatinya dengan sedikit nasi. 

Aku memuntahkan kembali makanan yang menurutku tidak enak. Lidahku merasakan hambar. Kucecerkan sayur lodeh ke lantai rumah. 
Aku tidak suka sayur lodeh ini, tidak enak, umpatku dalam hati. Memang tidak ada lodeh lain selain rebung?

Adik perempuanku yang baru saja masuk ke rumah, matanya memerah penuh amarah, sorot tajam menatap. Bibirnya mulai menguarkan nyanyian rock, menurut telingaku.

"Tolong, ya, Mas! Aku memasak semua ini tidak gratis! Jerih payah suamiku bekerja! Enak saja kamu membuangnya seolah sampah! Aku dan anak-anakku pun makan ini! Apa maksudmu? Kalau Mas tidak terima dengan yang kami berikan, silakan mencari orang yang mau memberi Mas makan gratis," cecar Adikku emosi.

Aku hanya membisu mendengarkan kemarahannya dan memandang kejengkelan adik perempuanku. Seringkali aku membuat marah orang-orang di sekitar, terutama keluarga. Sampai kapan aku terus begini. Adikku memandang jengah kebisuanku, dia segera berbalik keluar dari rumah. Membiarkan aku menatap lantai rumah yang kotor. 

Lodeh rebung yang tidak pernah kusuka semenjak muda. Bagaimana bisa aku makan sayur yang kalau sudah tua akan berubah menjadi dinding rumah alias gedek. Apa-an?

Tidak kupedulikan kemarahannya. Silakan saja kamu marah, sudah tahu dari dulu aku tidak suka rebung, masih saja dimasakkan itu. Kutatap adik bungsuku yang mungkin telah terpaksa menampung kakak lelakinya ini. Bibirku menyeringai, tidak peduli dengan kejengkelannya. 

Aku membawa kakiku melangkah keluar rumah. Saat melewati rumah adik bungsuku, terdengar isakan diselingi racauan.

"Keterlaluan dia, Mas. Aku sudah repot-repot memasak, tapi dia membuangnya di lantai. Tidak menghargai jerih payahmu sama sekali. Itu uang belanja 'kan hasil keringatmu. Kamu sudah bekerja keras untuk keluarga kita dan kakakku," keluh adikku terisak.

"Sudahlah, aku tidak apa. Aku ikhlas," ucap suami adikku dengan sabar.
"Tapi, Mas …." Adikku ingin melanjutkan lagi.
"Sudahlah …," hibur suaminya. Di akhir pembicaraan mereka, adikku masih terisak.

Kenapa juga aku mesti dengarkan mereka? Aku pun segera beralih, membawa kakiku yang berjalan agak pincang. Lidahku rasanya asam, ingin merasakan benda yang bisa mengeluarkan kepulan asap kalau dibakar. Sudah berapa hari aku tidak memanjakan bibirku dengan benda bernama rokok.
Mendingan aku ke rumah Slamet saja.

"Met! Slamet! Kamu di rumah?" teriakku saat di depan rumah kecil sederhana.

"Ada apa kamu teriak-teriak? Suamiku nggak di rumah!" Suara dan wajah istri Slamet seirama dalam satu kata 'sewot' saat tahu yang mencari suaminya adalah aku. Pandanganku menatap istri temanku yang sedang mencabut rumput di halaman. Tidak pernah sekalipun istri Slamet ini memperlihatkan raut muka ceria saat aku muncul. Sebenarnya, aku juga muak dan jengkel.

"Heh, Waginem! Wajahmu kalau sewot mirip sama rumput yang kamu cabuti," selorohku, langsung pergi tanpa melihat lagi bagaimana perubahan wajah Waginem. Namun, jika kulirik dari sudut mataku, raut mukanya malah makin memburuk.

Sekarang, aku mengalihkan tujuan ke rumah Boirin, temanku lainnya. Rumahnya nggak jauh dari Slamet. Hanya sekitar setengah kilo jaraknya. Kalau Boirin belum beristri, tapi biasanya si Emak judesnya minta ampun. Rumah sederhana yang ditempati Boirin terbuat dari bambu. Letaknya di tengah perkebunan yang selalu berganti tanaman. Kalau malam, sangat sunyi. Siang pun sepi.

"Rin! Boirin!" 

Halaman rumahnya hanya tampak ayam-ayam berkeliaran. Ada juga seekor kucing hitam peliharaan Boirin. Kucing itu sedang menikmati tidur siang di ranjang bambu yang biasanya dipakai Boirin dan aku berbincang. Aku mencoba memanggilnya lagi saat tidak ada tanda-tanda keberadaan temanku.

"Boirin! Kamu di mana!" Suaraku makin aku kencangkan. Kucing yang sedang dibuai mimpi pun terbangun olehku. Matanya dibuka dengan malas dan memandangku. Disaat aku masih saling menatap dengan kucing, tiba-tiba hidungku tersentuh oleh aroma khas makanan.

"Bukankah ini bau mi terkenal itu? Baunya seperti dari dalam rumah," gumamku.

Bau khas ini membawa rasa penasaranku untuk melangkah masuk ke rumah Boiri, tapi lewat samping rumah. Aku berjalan menelusuri jalan setapak kecil pinggir rumah, yang membatasi rumah Boirin dengan kebun jagungnya. Kakiku melangkah pelan, jangan sampai menginjak daun kering atau apa pun yang menimbulkan bunyi.

Saat mencapai dapur, aku mendengar suara.
"Rin, kamu jangan keseringan bergaul dengan lelaki itu. Badannya kotor, bau, tidak bekerja. Bisanya cuma meminta dan merepotkan orang. Kasihan Asih, dia sudah repot memasak untuk si kakak, tapi tanpa perasaan malah membuang makanan. Terkadang tidak dimakan. Padahal, kamu tahu sendiri suami Asih bekerja pagi sampai sore di sawah. Untuk menambah kebutuhan keluarga, suaminya terkadang ikut kerja di sawah orang lain," tutur Emak Boirin panjang lebar.

"Benarkah, Mak?" Boirin bertanya dalam nada tidak percaya.

"Tetangganya Asih pada cerita. Mereka mendengar dan melihat sendiri." 

"Mmm … kalau begitu, biar nanti Boirin yang ngomong ke Waji, Mak."

Kudengarkan mereka bercerita banyak tentangku. Sementara reaksiku hanya diam dan menyeringai.

"Memang kamu siapa, Rin? Mau ngatur aku? Berani-beraninya kamu mau kasih aku nasihat," gumamku sinis.

Aku pun beranjak pergi. Meninggalkan orang-orang yang tidak mau menerima kehadiranku. 

"Sudah cukup banyak aku menerima nasihat. Banyak pula garam yang sudah aku telan. Muak aku mendengarnya. Buat apa menasihati aku, nasihati saja diri kalian sendiri." Aku menggerutu sangat kesal. Kutendang kerikil tak bersalah yang membuat kakiku terpeleset.

"Mengapa kalian sukanya mengusik hidupku! Apakah kalian cukup nganggur?" geramku sambil mengusap pantat yang sedikit sakit karena membentur jalan berkerikil.

"Lagian ini jalan apa, sih, kok banyak kerikilnya? Apa yang kalian lihat, hah?" Aku berteriak di tengah racauanku pada anak sekolah yang melihatku terjatuh.

"Anak sekarang, lihat orang jatuh bukannya ditolong, malah dijadikan tontonan," omelku.

"Ka-ka-kami ingin menolong Bapak, tapi keduluan Bapak yang ngomel nggak jelas," ucap salah seorang bocah perempuan. Wajahnya terlihat gugup dan ketakutan. Dia segera menarik tangan temannya dan pergi meninggalkanku yang termangu dengan ucapan bocah tadi.

"Rupanya, masih ada yang berniat baik padaku," gumamku sambil memandang dua bocah yang telah menghilang. Ada rasa penyesalan dalam hati, mengapa aku harus berteriak pada anak kecil.

"Ah, sudahlah. Kenapa juga aku harus mikir mereka?"

Aku mengelak dari rasa bersalah. Kemudian, kembali menyusuri jalan, menikmati angin yang selalu menjadi sahabatku. Embusan angin mampu membawa pergi bermacam perasaan yang sering menggangguku. Jalanan yang kulewati telah ramai, kendaraan berseliweran. Langkahku berhenti saat aku mendengar suara yang sangat kukenal.

"Kang Waji!"

Di seberang jalan, aku melihat seorang gadis cantik. Sepertinya, aku pernah mengenalnya.

Siapa dia? Wajahnya kok mirip Murni, istri pertamaku yang sudah meninggal? batinku bertanya.

Untuk mengurangi rasa penasaran, aku pun menyeberang jalan. Terdengar sebuah teriakan peringatan, tapi aku taklagi mendengar.

* * *
"Kang Waji, maafkan Asih, ya," ucap seorang wanita yang menatapku dalam deraian air mata.

Aku mencoba membuka sedikit netra yang terasa berat. Terlihat seorang wanita menangis, tanpa sanggup mengingat siapa dia.

"Kamu siapa?" gumamku.

Buliran air semakin deras terurai dari mata lebar wanita itu. Tangan kiriku meraba kepalaku yang berbalut kain. Badanku terasa sakit semua. Pandanganku menatap ke atas, terlihat ada cairan menetes, selang, dan jarum yang disuntikkan di tangan.

Terakhir dalam ingatanku adalah seorang gadis cantik berbaju putih memanggilku. Lalu aku menyeberang jalan ingin menghampiri, tapi aku merasakan tubuhku dihantam suatu benda yang sangat keras dan sekarang aku berakhir di sini. 

Di sini, aku melihat wanita menangis beserta tubuhku berbaring di sebuah ruangan berwarna putih. Aku ingin memejamkan mata yang terasa berat. Saat mataku terpejam, terdengar sebuah alat berbunyi dan teriakan histeris wanita yang tadi mengaku bernama Asih. Kini, hanya kesunyian, kehampaan yang berteman denganku. Tidak ada lagi Slamet ataupun Boirin.

* * *


Jumat, 22 November 2024

Lolipop Andi

                                Lovepik_com


"Bunda, Andi ingin permen lolipop seperti itu." Seorang bocah lelaki tampan jarinya menunjuk permen berbentuk telapak kaki. Seorang perempuan muda berjilbab hitam itu berjongkok dan mengusap pipi gembul bocah tampan di depannya.


"Jangan sekarang, Sayang. Kalau Bunda sudah mempunyai uang, nanti Bunda belikan," bujuk sang bunda.


Si bocah yang bernama Andi hanya mengangguk, tetapi matanya masih memandang permen lolipop.


Ya Allah, semoga aku bisa membelikan permen lolipop buat anakku, batin perempuan itu sembari menatap lelaki kecilnya. Sudah kesekian kalinya dia menolak keinginan anaknya. Dia segera menggandeng anaknya dan beranjak dari toko sebelah rumah.


Rahma yang akan berangkat kerja begitu terenyuh melihat dan mendengar perkataan Mbak Asih tetangganya. Hanya sebuah permen, tapi dia menunda permintaan si anak. Beruntung Mbak Asih punya anak yang tidak rewel dan penurut.


Dia menatap tubuh ringkih wanita yang baru saja melintas. Kasihan sekali Mbak Asih, janda beranak tiga, semenjak ditinggal pergi selamanya oleh sang suami, harus menghidupi ketiga anaknya sendiri. 


Semoga Allah selalu menguatkannya, batin Rahma.


Rahma masih saja memikirkan nasib Mbak Asih dan ketiga anaknya yang masih kecil. Bagaimana tetangganya itu tidak mampu membelikan sebuah permen lolipop yang harganya tidak sampai dua ribu. Tidak terasa matanya berkaca-kaca, Rahma teringat bagaimana dia dan kakaknya ditinggalkan Ayah saat berumur 3 tahun. Ibunya harus bekerja keras menghidupi kedua putrinya, hingga sekarang alhamdulillah sudah bisa membahagiakan sang ibu. Ibu tidak perlu lagi bekerja keras, sekarang jika ada jahitan tinggal meminta anak buahnya yang mengerjakan. 


"Apa yang kamu lamunkan, Rahma? Katanya mau berangkat kerja, tapi kok masih termangu di situ," tanya ibu. 


"Kasihan Mbak Asih, Bu. Tadi, Si Kecil ingin lolipop, tapi sama Mbak Asih masih dijanjikan," tutur Rahma, netranya berkaca-kaca.


"Apakah kamu teringat masa kecilmu saat ditinggal Ayah?" tanya ibu lagi. Rahma mengangguk.


"Sekarang kamu berangkat kerja saja. Nanti kita pikirkan sama-sama."

* * * 

"Andi, di mana Bunda dan Kakak? Kok main sendiri?" tanya Rahma sambil berjongkok di samping Andi yang sedang bermain air di depan rumahnya.


"Bunda sedang membuat kue dibantu Kakak. Kata Bunda, kuenya nanti mau dititipkan di warung-warung," tutur Andi dengan senyum polos dan mata yang selalu ceria. Rahma gemas dengan tingkah bocah di depannya.


"Andi, ini apa?" tanya Rahma sambil menunjukkan permen lolipop yang dia pegang. Mata Andi pun terbelalak dan berbinar.


"Kak Rahma, Andi mau. Tapi kata Bunda, nanti dibelikan kalau Bunda sudah punya uang. Sekarang uangnya buat bikin kue dulu," ucap Andi polos, tetapi netranya masih melirik permen di tangan tetangganya itu. 


Rahma yang sedang berjongkok agar menyamai tinggi Andi terharu, lalu mencubit pipi tembam bocah itu.


“Nanti biar Kak Rahma yang bilang Bunda. Ayo, ambil permennya kalau mau!”


Rahma segera berdiri dan berlari pelan. Andi pun mengejarnya. Mereka berdua berkejar-kejaran. Andi berusaha merebut permen di tangan Rahma, tapi belum berhasil. Dia berusaha keras sampai akhirnya Rahma lelah sendiri dan mengulurkan permen pada bocah lucu nan menggemaskan itu.


Andi segera memasukkan permen ke mulut dan menikmati permen yang sudah lama dia idamkan. Permen lolipop membuat hidup Andi semakin ceria, walau tidak demikian dengan yang dewasa.


“Makasih, Kak Rahma.”


Gadis manis itu mengangguk sambil mengelus kepala Andi.


“Andi, dapat dari mana lolipopnya? Bunda sudah bilang tunggu Bunda ada uang kalau mau permen.” Suara sang bunda membuat Andi mengeluarkan permen dari mulut.


“Mbak Asih, saya yang memberinya. Tolong jangan marahi Andi.”


“Eh, ada kamu Rahma. Maaf, Mbak gak lihat,” sapa Mbak Asih agak kikuk.


“Mbak, sebenarnya saya ada perlu. Sekarang ketemu di sini, lebih baik saya tanyakan saja. Mbak, apa Mbak Asih bisa menjahit?”


“Alhamdulillah sedikit-sedikit bisa.”


“Mbak, Ibu butuh penjahit. Kalau Mbak Asih mau bisa langsung kerja. Lagian tempat kerjanya dekat, Mbak Asih bisa mengawasi anak-anak.”


Mbak Asih termangu, tidak bisa berkata-kata. Netranya pun berkabut. Begitu cepat doanya dikabulkan Sang Maha Pemberi. Disaat dia memulai usaha kue, disaat bersamaan ada tawaran pekerjaan dari tetangga depan rumah. Memang Tuhan tidak pernah tidur. Selalu ada untuk hambanya.


Dia bertekad akan ambil pekerjaan itu, selama bisa menghasilkan uang dan halal. Demi masa depan ketiga buah hatinya. Tak terasa, bulir-bulir air mata mengalir di pipinya yang tirus. Alhamdulillah.



Aroma Zingiber

Rasa rempah di lidah akan berkurang, tapi rasa pedih di hati sulit menghilang Bibirku menguarkan segaris senyum saat menunggu gi...