Aksaraku
Rabu, 03 Juni 2026
Aroma Zingiber
Kamis, 12 Februari 2026
Pertembungan
Wingko
Senin, 25 November 2024
Menjelang Magrib
Minggu, 24 November 2024
Setetes Air Ujang
Di sebuah kamar yang masih benderang, diiringi musik malam, alunan suara merdu jangkrik saling bersahutan. Seorang bocah lelaki terlihat asyik bermain bersama sang kakek yang sedang membujuk agar mau tidur.
"Adek, sudah malam. Ayo tidur," bujuk si kakek. Bocah yang dipanggil Adek hanya menyunggingkan senyum, tapi jemarinya masih memegang mainan sambil menirukan suara mirip mobil. Kakek mengusap penuh kasih sayang pada cucunya.
"Adek belum mengantuk, Kek," rajuk si cucu.
"Bagaimana kalau Kakek mendongeng?" bujuk kakek lagi. Adek menatap sorot mata lembut sang kakek sambil berpikir, akhirnya dia menganggukkan kepala. Kakek pun menuntun Adek ke tempat tidur, membaringkannya, dan akan menyelimuti tubuh cucunya. Namun, mendapat penolakan karena bocah kecil itu bersikukuh ingin duduk. Kakek tersenyum lembut sembari mengusap rambut legam cucunya.
Kemudian, dari bibir kakek mengalirlah sebuah cerita ….
* * *
Di sebuah desa yang sejuk dan damai, bernama Desa Pucuk. Tersebutlah seorang bocah bernama Ujang, dia hidup bersama seorang nenek yang biasa dipanggil penduduk setempat dengan Nenek Uti. Ibunya telah meninggal saat Ujang baru berumur setahun. Hampir lima tahun Ujang diasuh sang nenek karena bapaknya yang bernama Kang Dadang harus bekerja di ibukota kerajaan.
Ujang adalah anak yang pintar dan rajin, setiap hari dia bangun pagi, membantu sang nenek untuk menyiapkan makanan yang akan dijual di warung. Walaupun perawakan Ujang kecil, tetapi dia sangat cekatan. Mondar-mandir dari dapur ke warung yang ada di depan rumah, mengambilkan yang dibutuhkan nenek. Ujang tidak pernah mengeluh capek, semuanya dijalani dengan gembira.
Nenek sangat bangga pada cucu satu-satunya yang selalu tersenyum, rajin, dan patuh. Dia selalu berkata, Ujang bantu apalagi, Nek. Banyak teman-temannya yang ingin mengajak Ujang bermain, tetapi selalu ditolak. Dia akan mengatakan sedang membantu nenek.
Pengunjung warung pun terkagum dan iba dengan sosok kecilnya. Keadaan yang membuat Ujang menjadi pekerja keras dan jujur dalam menghadapi hidup. Terkadang, Ujang pun ikut meladeni pembeli saat sedang ramai.
Hingga di suatu siang yang panas, saat warung sepi dan sang nenek sedang salat. Ujang menjaga warung sendirian, terlihatlah seorang kakek menghampiri warung.
"Assalamualaikum," salam seorang tua berambut putih dengan setelan putih dan juga bersorban putih. Wajahnya bersih disertai mata yang begitu bening.
"Wa'alaikumsalam. Silakan masuk, Kek. Kakek mau minum apa?" tanya Ujang dengan ramah.
Sang Kakek terpesona dengan keramahan Ujang. Dia tersenyum dan berjongkok di depan Ujang. Tangannya mengusap rambut dan pipinya. Perlakuan sang kakek membuat Ujang mundur gentar karena tidak mengenal kakek berbaju putih. Si kakek menatap mata bulat Ujang.
"Ada yang Ujang bisa bantu, Kek?" tanya Ujang lagi, walau suaranya agak bergetar takut. Dia melihat keringat bercucuran di wajah bersih sang kakek.
"Kamu tidak perlu takut cucuku. Kakek hanya ingin minum, tetapi tidak membawa uang," ujar si kakek dengan suara lembut.
Ujang mengangguk dan tanpa mengeluarkan suara, dia segera mengambil segelas air putih dan mengulurkan pada kakek.
"Silakan, Kek."
Lalu Ujang berbalik mengambil kendi lagi, siapa tahu kakek masih kehausan.
"Alhamdulillah, segar sekali airnya. Terima kasih. Ujang di sini dengan siapa?"
Kakek menatap dengan wajah bijak, sementara Ujang masih memegang kendi di tangan.
"Ujang tinggal bersama Nenek Uti, Bapak bekerja di kota. Ujang membantu Nenek menjaga warung." Ujang menjelaskan pada kakek yang menatapnya kagum.
"Kakek rumahnya di mana?" tanya Ujang
"Rumah Kakek jauh sekali." Kakek sekali lagi mengusap kepala Ujang.
Tiba-tiba, terdengar suara nenek dari dapur.
"Ujang! Kamu bicara dengan siapa?"
Ujang pun menoleh.
"Dengan Kakek, Nek," sahut Ujang.
Nenek berjalan menghampiri cucunya dengan terheran, karena tidak ada siapa pun.
"Mana? Kakek siapa? Kamu mimpi, ya?" gurau Nenek. Ujang kebingungan karena kakek berbaju putih telah lenyap, gelas yang tadi dipegang pun sudah kembali ke tempat semula.
'* * *
"Lalu, kakek yang menghilang pergi kemana, Kek?" tanya Adek yang mendengarkan cerita kakek dengan antusias. Kakek hanya menyunggingkan senyum menatap sang cucu sambil melanjutkan cerita.
* * *
Menjelang pagi, saat cakrawala merona dengan indah, terdengar ketukan di sebuah rumah sederhana. Nenek yang sedang sibuk di dapur segera beranjak untuk membuka pintu. Tampaklah seorang prajurit yang gagah disertai senyum ramah.
"Permisi, Nek. Apakah benar ini rumah Ujang?" tanya sang prajurit.
Nenek mengangguk karena masih terkejut melihat sosok prajurit gagah yang berdiri di depan rumah kecilnya.
"Nek, kami mendapat tugas dari Baginda untuk membawa Nenek dan Ujang ke istana," ucap prajurit.
Nenek termangu mendengar tugas yang diemban.
Ada apa ini? batin Nenek Uti.
“A-a-apa salah kami? Mengapa harus ke istana?” Tanya Nenek gugup. Sementara prajurit suruhan hanya tersenyum misterius.
Meskipun hati Nenek Uti dilanda kegundahan, dia dan Ujang tetap berangkat ke istana. Karena rasa ingin tahu lebih besar daripada rasa takutnya. Nenek tidak takut karena merasa tidak berbuat salah.
Setibanya di depan Baginda, Ujang sangat terkejut melihat raut muka yang sangat dikenalnya. Namun, dia segera membungkuk, memberi hormat.
"Kakek. Ampun, Baginda." Ujang tergagap. Bingung harus memanggil apa pada seseorang yang sedang duduk di singgasana.
'* * *
"Kek, kakek yang diberi Ujang minum berarti seorang raja? Membantu orang lain tidak boleh pilih-pilih, ya, Kek. Siapa pun yang membutuhkan harus dibantu, selama kita mampu."
"Cerdas sekali, Cucuku," puji Kakek sambil menyentil hidung cucunya.
"Kek, doakan Adek, biar bisa menjadi anak yang saleh, patuh pada orang tua, jujur, dan suka membantu orang lain, ya," tegas Adek bersemangat.
"Alhamdulillah, tentu saja Kakek akan selalu mendoakan yang terbaik. Cucu kakek memang sangat pintar, sudah memahami inti cerita ini. Sekarang, waktunya tidur." Kakek menyelimuti tubuh sang cucu seraya berbaring di samping dan memeluk tubuh mungilnya dengan penuh kasih.
* * *
Perjalanan Lelakiku
Jumat, 22 November 2024
Lolipop Andi
"Bunda, Andi ingin permen lolipop seperti itu." Seorang bocah lelaki tampan jarinya menunjuk permen berbentuk telapak kaki. Seorang perempuan muda berjilbab hitam itu berjongkok dan mengusap pipi gembul bocah tampan di depannya.
"Jangan sekarang, Sayang. Kalau Bunda sudah mempunyai uang, nanti Bunda belikan," bujuk sang bunda.
Si bocah yang bernama Andi hanya mengangguk, tetapi matanya masih memandang permen lolipop.
Ya Allah, semoga aku bisa membelikan permen lolipop buat anakku, batin perempuan itu sembari menatap lelaki kecilnya. Sudah kesekian kalinya dia menolak keinginan anaknya. Dia segera menggandeng anaknya dan beranjak dari toko sebelah rumah.
Rahma yang akan berangkat kerja begitu terenyuh melihat dan mendengar perkataan Mbak Asih tetangganya. Hanya sebuah permen, tapi dia menunda permintaan si anak. Beruntung Mbak Asih punya anak yang tidak rewel dan penurut.
Dia menatap tubuh ringkih wanita yang baru saja melintas. Kasihan sekali Mbak Asih, janda beranak tiga, semenjak ditinggal pergi selamanya oleh sang suami, harus menghidupi ketiga anaknya sendiri.
Semoga Allah selalu menguatkannya, batin Rahma.
Rahma masih saja memikirkan nasib Mbak Asih dan ketiga anaknya yang masih kecil. Bagaimana tetangganya itu tidak mampu membelikan sebuah permen lolipop yang harganya tidak sampai dua ribu. Tidak terasa matanya berkaca-kaca, Rahma teringat bagaimana dia dan kakaknya ditinggalkan Ayah saat berumur 3 tahun. Ibunya harus bekerja keras menghidupi kedua putrinya, hingga sekarang alhamdulillah sudah bisa membahagiakan sang ibu. Ibu tidak perlu lagi bekerja keras, sekarang jika ada jahitan tinggal meminta anak buahnya yang mengerjakan.
"Apa yang kamu lamunkan, Rahma? Katanya mau berangkat kerja, tapi kok masih termangu di situ," tanya ibu.
"Kasihan Mbak Asih, Bu. Tadi, Si Kecil ingin lolipop, tapi sama Mbak Asih masih dijanjikan," tutur Rahma, netranya berkaca-kaca.
"Apakah kamu teringat masa kecilmu saat ditinggal Ayah?" tanya ibu lagi. Rahma mengangguk.
"Sekarang kamu berangkat kerja saja. Nanti kita pikirkan sama-sama."
* * *
"Andi, di mana Bunda dan Kakak? Kok main sendiri?" tanya Rahma sambil berjongkok di samping Andi yang sedang bermain air di depan rumahnya.
"Bunda sedang membuat kue dibantu Kakak. Kata Bunda, kuenya nanti mau dititipkan di warung-warung," tutur Andi dengan senyum polos dan mata yang selalu ceria. Rahma gemas dengan tingkah bocah di depannya.
"Andi, ini apa?" tanya Rahma sambil menunjukkan permen lolipop yang dia pegang. Mata Andi pun terbelalak dan berbinar.
"Kak Rahma, Andi mau. Tapi kata Bunda, nanti dibelikan kalau Bunda sudah punya uang. Sekarang uangnya buat bikin kue dulu," ucap Andi polos, tetapi netranya masih melirik permen di tangan tetangganya itu.
Rahma yang sedang berjongkok agar menyamai tinggi Andi terharu, lalu mencubit pipi tembam bocah itu.
“Nanti biar Kak Rahma yang bilang Bunda. Ayo, ambil permennya kalau mau!”
Rahma segera berdiri dan berlari pelan. Andi pun mengejarnya. Mereka berdua berkejar-kejaran. Andi berusaha merebut permen di tangan Rahma, tapi belum berhasil. Dia berusaha keras sampai akhirnya Rahma lelah sendiri dan mengulurkan permen pada bocah lucu nan menggemaskan itu.
Andi segera memasukkan permen ke mulut dan menikmati permen yang sudah lama dia idamkan. Permen lolipop membuat hidup Andi semakin ceria, walau tidak demikian dengan yang dewasa.
“Makasih, Kak Rahma.”
Gadis manis itu mengangguk sambil mengelus kepala Andi.
“Andi, dapat dari mana lolipopnya? Bunda sudah bilang tunggu Bunda ada uang kalau mau permen.” Suara sang bunda membuat Andi mengeluarkan permen dari mulut.
“Mbak Asih, saya yang memberinya. Tolong jangan marahi Andi.”
“Eh, ada kamu Rahma. Maaf, Mbak gak lihat,” sapa Mbak Asih agak kikuk.
“Mbak, sebenarnya saya ada perlu. Sekarang ketemu di sini, lebih baik saya tanyakan saja. Mbak, apa Mbak Asih bisa menjahit?”
“Alhamdulillah sedikit-sedikit bisa.”
“Mbak, Ibu butuh penjahit. Kalau Mbak Asih mau bisa langsung kerja. Lagian tempat kerjanya dekat, Mbak Asih bisa mengawasi anak-anak.”
Mbak Asih termangu, tidak bisa berkata-kata. Netranya pun berkabut. Begitu cepat doanya dikabulkan Sang Maha Pemberi. Disaat dia memulai usaha kue, disaat bersamaan ada tawaran pekerjaan dari tetangga depan rumah. Memang Tuhan tidak pernah tidur. Selalu ada untuk hambanya.
Dia bertekad akan ambil pekerjaan itu, selama bisa menghasilkan uang dan halal. Demi masa depan ketiga buah hatinya. Tak terasa, bulir-bulir air mata mengalir di pipinya yang tirus. Alhamdulillah.
Aroma Zingiber
Rasa rempah di lidah akan berkurang, tapi rasa pedih di hati sulit menghilang Bibirku menguarkan segaris senyum saat menunggu gi...
-
MEMBACA DISAAT YANG TEPAT Membaca…siapa yang suka membaca? Semua orang pasti membaca saat ini, mulai membaca pesan masuk ke hp ataup...
-
Pertama kali aku mengenalnya saat umurnya masih 2 mingguan. Tiba-tiba datang ke rumah. Sebelumnya, ia datang berkelompok. Namun, ia tertingg...
-
Foto: by me Gambar apakah di atas? Makanan iya, tapi apakah itu? Seperti tempe mendol (tempe ya...