Foto: by me
"Bu, tokonya dibuka sekarang? Sudah jam delapan." Pertanyaan ini kuberikan pada Ibu yang masih berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan. Aku bersiap membantu Ibu untuk membuka toko serba ada sebelum berangkat kuliah. Inilah rutinitas pagiku.
"Oke, Bim, buka saja! Ibu membersihkan dapur sebentar!" teriak Ibu.
Bergegas aku membuka pintu toko yang masih terkunci, lalu merapikan dagangan Ibu sambil bersenandung lirih. Jalanan depan toko Ibu sudah ramai berseliweran kendaraan dan orang-orang yang mulai beraktivitas.
Di depan rumah sekaligus toko, ada beberapa mahasiswa sedang berdiri menantikan bus antar kota. Bus yang biasa melintasi jalanan di sini adalah jurusan Malang. Banyak temanku yang kuliah dan rela setiap hari pulang pergi Kediri-Malang karena dekat, tapi jauh kalau menurutku. Karena perjalanan yang harus ditempuh kurang lebih 4 jam. Cukup melelahkan harus di bus 8 jam.
Teman-temanku bilang sekalian healing. Bahkan, banyak juga teman-temanku yang menggunakan motor, padahal jalannya berliku-liku. Belum lagi harus bertemu dengan bus, truk, mobil, dan kendaraan lainnya. Sudah capek membayangkannya
"Mas, beli air mineralnya!" Suara imut manja seorang gadis mengagetkan kesibukan dan anganku. Saat aku menatap si pemilik suara, sontak hatiku berdegup kencang hingga kutepuk dadaku pelan.
"Tuhan, manis dan imut sekali gadis ini!" batinku berteriak. Jariku mencubit kulit tangan, ternyata sakit dan ternyata lagi, aku tidak sedang bermimpi.
"Ini kenyataan, Bima," tegur batinku sambil meraih pesanan si gadis.
"I-ini, Mbak." Aku mengulurkan air mineral botol dengan sedikit gemetar. Rupanya gadis imut itu menyadari kegugupanku.
"Mas, jangan grogi, dong," goda gadis manis berambut panjang itu.
Aku tersipu malu.
"Tuhan, aku ingin mengenalnya," batinku berteriak lagi.
"Namaku Galuh." Gadis yang mengaku bernama Galuh itu mengulurkan tangan padaku yang membuatku sekali lagi terkesima.
"Begitu cepat Tuhan menjawab permintaanku." Aku membatin lagi.
Dalam kegugupan, aku hanya mampu menatap jemari lentik itu.
"Ihh … Mas-nya nggak mau kenalan. Ya sudah, aku pergi saja." Suara gadis bernama Galuh terdengar kesal, lalu dia menghilang seiring datangnya bus jurusan Malang.
Aku hanya diam menatap kepergian gadis langsing berambut panjang yang telah membuka hariku dengan indah
"Apakah dia kuliah di Malang? Jelas saja, dia naik bus Malang. Kamu jangan menjadi bodoh, Bim," gumamku. Aku tenggelam dalam bayangan Galuh yang menari indah dalam pikiran dan lamunan.
"Galuh. Namanya Galuh," ucapku lirih sambil menatap kosong jemari yang dihinggapi penyesalan karena tidak menyalami gadis yang telah mengulurkan jemarinya untuk mengawali sebuah perkenalan..
"Bima! Bima!" Sebuah cubitan keras dan menyakitkan kurasakan di lengan. Kuusap sakitnya yang masih terasa dan melihat siapa pelakunya. Ternyata Ibu.
Pandanganku masih tertuju pada jalanan yang semakin riuh. Seperti riuhnya Galuh dalam pikiranku.
"Semoga Tuhan memberiku kesempatan bisa berjumpa lagi dengannya," doaku dalam hati.
"Apa yang kamu lamunkan Bimaku Sayang?" Ibu menggugah kembali pikiranku.
"Nggak apa-apa, Bu. Pagi-pagi begini, paling enak minum yang manis biar hariku semakin manis," ucapku tanpa sadar. Sekilas wajah manis itu muncul kembali.
"Kamu nyindir atau apa, Bim? Tiap pagi Ibu buatkan teh hangat, apa kamu melupakannya?" ucap Ibu gemas sambil mengulurkan tangan ke arah telingaku.
Aku pun lekas menjauh dari Ibu, menghindari cubitan sayangnya.
* * *
Hari ini, semangatku sangat menggebu untuk membantu Ibu. Tanpa bertanya lagi, aku segera membuka toko dan menata dagangan ibu.
"Semoga, hari ini bisa bertemu dia lagi," harapku dalam hati. Jantungku sudah berdenyut saat mengingat paras manis Galuh.
"Semoga bisa ketemu dia lagi, ya, Bim." Ibu mengungkapkan keinginan terpendamku.
Kulayangkan pandang ke wajah cantik Ibu.
"Ketemu dia siapa, Bu?"
"Bukankah kemarin ada gadis manis bernama Galuh beli air mineral. Kamu diam saja saat dia ngajak kamu salaman," ucap Ibu.
Mataku mengerjap mendengar ucapan Ibu yang rupanya tahu urutan kejadian kemarin. Namun kubiarkan saja Ibu, aku kembali membersihkan depan toko yang terlihat kotor.
"Memang Ibu mengintip?" tuduhku.
"Ibu punya banyak mata di sini. Hati-hati kamu," desis Ibu sambil tidak lupa melakukan hobinya, menjewer telingaku.
"Sakit, Bu. Nggak heran telinga Bima tambah panjang karena sering dijewer Ibu." Aku mengusap telingaku yang mungkin sudah memerah. Ibu akan melanjutkan ucapan, tetapi terhenti oleh suara yang sudah kunantikan.
"Wah, Mas-nya rajin membantu Ibu, ya!"
"Suara ini …." Aku menoleh ke sumber suara.
Berdirilah seorang gadis manis dengan senyum yang membuatnya makin menawan.
"Rambut sebahu tergerai indah dengan setelan baju sederhana. Tuhan, cantik sekali ciptaan-Mu," teriakku dalam hati lagi.
Bola mataku menatap keindahan di depan mata, enggan berpaling.
"Mas-nya dari kemarin bengong melulu," cetus Galuh mengagetkanku.
"Galuh, anakku Bima itu pendiam dan malu-maluin," seloroh Ibu yang diiringi tawa renyah Ibu dan Galuh.
Sementara aku segera menghampiri Ibu dan berdiri di sampingnya. Tanganku pun terulur pada Galuh.
"Aku Bima, kuliah semester akhir jurusan komputer," ucapku pelan. Rasa maluku telah kusingkirkan dengan rasa ingin mengenalnya lebih jauh.
Mungkin sekarang parasku sudah memerah, menahan malu atas kenekatanku berkenalan dengan seorang gadis. Ini adalah sejarah baru seorang Bima. Ibu paling tahu untuk memancing keberanianku keluar dari sarangnya karena aku merasakan usapan lembut Ibu di punggung.
Semenjak momen aku melupakan rasa malu, hubungan Galuh dan aku makin akrab. Apalagi setelah bertukar nomor telepon, dunia seolah hanya milik kami berdua. Pagi, siang hingga menjelang terlelap pun ponsel akan bersanding dengan indah di telinga kami.
Hingga pernah suatu saat, ponselku disembunyikan Ibu karena begitu kesalnya dengan aku yang diselimuti kabut asmara hingga selalu membawa ponsel kemana-mana. Seharian itu, aku kebingungan mencari ponsel yang raib. Komunikasi ke Galuh pun terhenti. Duniaku seolah kosong, hampa karena tidak bisa konek ke Galuh.
Sorenya, Galuh mampir ke rumah untuk mencari tahu keberadaanku yang hilang sehari. Di situlah, kami berdua disidang Ibu dan Bapak. Ibu mengeluarkan unek-uneknya.
Katanya, boleh saja kami jatuh cinta, tapi jangan melupakan orang sekitar. Memangnya dunia ini milik kalian berdua, ada Ibu dan Bapak di sini. Ibu cemburu. Beliau juga mengakui kalau menyembunyikan ponselku.
Aku geli sekaligus merasa terharu menyadari Ibu yang melahirkanku ternyata cemburu. Spontan aku memeluk Ibu dan meminta maaf atas kekhilafanku. Sementara Bapak hanya mengangguk-angguk saja menatap kami.
* * *
Ibu dan Galuh puas sekali menertawakan aku. Mereka saat ini sedang mengolokku saat mengenang aku dan Galuh pertama kali bertemu.
"Bu, lihat, wajah Mas Bima merah seperti buah tomat dan seperti inilah ketika dia berkata namaku Bima," olok Galuh.
"Tapi, kamu juga ingat 'kan, Sayang, saat ponselku hilang. Terus kita disidang ibuku yang cemburu," balasku sambil menatap Ibu yang sekarang melotot ke arahku.
Galuh tidak bernyali untuk membalas ucapanku karena sudah menyangkut Ibu mertua.
"Kalau Ibu nggak menyidang, kalian tidak akan cepat menikah juga 'kan," cetus Ibu.
Kami pun tergelak mengingat masa awal perkenalan hingga menikah. Momen lucu yang menjadi bagian dari kenangan indah hidup. Aku menoleh ke Galuh yang telah menjadi pendamping hidupku. Wanita cantik yang menjadi makin cantik karena memutuskan berhijab setelah menikah. Tidak memedulikan Ibu yang menatap, kuusap pipi halus dan putih istriku.
"Yang penting, kamu sekarang sudah jadi istriku, Galuh Sayang," ucapku lirih.
"Demi menjadi istriku, kamu rela kursus masak sebulan sebelum kita menikah. Terima kasih, Sayang," ungkapku lagi.
Sekarang aku yang puas karena bisa membuat istriku terdiam dan pipinya merona. Kuraih jemari rampingnya yang kini telah bertengger cincin pernikahan kami. Ibu geleng-geleng kepala melihat aku yang semakin berani menunjukkan keromantisan setelah menikah.
Dari jendela dapurku, kutatap senja yang hendak menyelimuti bumi. Senja yang berdampingan dengan mendung tampak memesona insan bumi. Seperti hidupku bersama Galuh yang masih akan menempuh perjalanan panjang. Akan kutempuh perjalanan dengan beragam rasa kehidupan bersamanya.
Aku tersenyum, meresapi rasa manis cinta yang dianugerahkan Tuhan. Ternyata sangat manis saat sudah menemukan orang yang tepat di saat yang tepat pula. Tuhan akan selalu menepati janjinya untuk mempertemukan dengan belahan jiwa terbaik. Tuhan tahu yang terbaik untuk hamba-Nya dan tahu apa yang dibutuhkan. Itulah yang aku yakini selama ini.
Terima kasih, Tuhan atas anugerah terindah-Mu.
* Pertembungan menurut KBBI adalah pertemuan, perjumpaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar