Rabu, 29 Maret 2023

Takoyaki Uni


 Sebuah keinginan akan berarti saat bisa mewujudkannya. Lebih memiliki makna lagi saat keinginan sederhana dari orang yang telah tiada, kita bisa membantu merealisasikannya. Seperti salah satu makanan khas Jepang yang menjadi kesukaan seorang gadis bernama Uni, kegemarannya membawa pada suatu kebenaran yang selama ini hilang dari ingatannya.

 Berpuluh tahun kenangan itu pergi, bahkan tetua di rumah tidak pernah mengingatkan kenangan indah dan menyakitkan. Hingga akhirnya keberadaan yang hilang, muncul sejenak tanpa mereka sadari. Sejenak untuk asa yang hilang, berganti asa baru.

 Adalah seorang Uni, gadis cantik pecinta makanan Jepang takoyaki. Makanan yang terbuat dari adonan tepung terigu berbentuk bulat yang diisi dengan potongan gurita di dalamnya. Karena sudah masuk lidah lokal Indonesia, potongan gurita bisa diganti dengan sosis, keju atau bahan lainnya sesuai selera. Begitu cintanya terhadap takoyaki, membuat Uni ingin mempunyai kios takoyaki di depan rumah. 

Beruntung, mempunyai orang tua yang selalu mendukung keinginannya. Walaupun sebelumnya mereka kurang setuju, keduanya menghendaki Uni lebih berkonsentrasi dengan kuliahnya yang masih semester awal. Melalui penjelasan yang panjang disertai janji Uni tetap membagi waktunya antara kuliah dan takoyaki, akhirnya kedua orang tuanya meluluskan hasrat menggebunya.

 Wanita yang melahirkannya adalah pendukung utama keinginan Uni, karena dia pernah merasakan takoyaki buatan Uni. Rasa adonan yang begitu lembut saat sudah masuk ke mulut, tidak membuat enek. Saat dinginpun, takoyaki bikinan anaknya tetaplah empuk. 

Berbeda dengan takoyaki yang pernah ibunya beli. Itulah yang menjadi salah satu faktor setuju dengan keinginan anaknya.
Mulailah Uni belanja kebutuhan jualannya. Tepung terigu, susu, saos dan bahan-bahan lainnya. Membuat adonan yang pas dan enak yang disuka semua orang. Kepercayaan dirinya tumbuh karena ibunya selalu mengatakan takoyaki buatannya enak. 

Berkali-kali Uni melakukan perubahan resep untuk memperoleh rasa yang dia inginkan, yang menjadi korban uji cobanya adalah kedua orang tua dan adik lelakinya, Rio. Mereka protes diminta makan takoyaki setiap hari, sudah dibilang enak tapi Uni masih kurang puas. Rio sampai mual-mual dan ngomel sama kakak perempuannya. Uni tertawa keras melihat adiknya yang mogok makan takoyaki. 

Hingga tiba saatnya bagi Uni untuk mulai berjualan takoyaki. Dia mulai berjualan sehabis salat Asar, pada jam-jam ini banyak anak kecil yang mulai mengaji di mushola depan rumah. Tetangganya juga banyak yang berdatangan untuk membeli makanan khas Jepang yang dijualnya. Kebanyakan dari mereka memuji rasa dan kelembutan takoyaki, membuat Uni semakin bersemangat berjualan.

* * * *
 Sudah hampir sebulan ini takoyaki Uni berjalan. Sepulang mengaji anak-anak kecil selalu mampir ke Uni. Beli berapapun mereka, Uni tidak pernah menolaknya. Terkadang mereka tidak hanya jajan takoyaki, ada saja yang mereka tanyakan ke Uni dan adik lelakinya. Anak-anak itu minta diajari pelajaran sekolah yang mereka tidak bisa. Akhirnya Uni dan adiknya, Rio, meluangkan waktu untuk mengajari mereka. Bergiliran mereka mengajari, saat Uni melayani pembeli, Rio yang akan mengawasi bocah-bocah. Sehingga rumah mereka tidak pernah sepi, selalu terdengar suara berceloteh gembira. Membuat ibu dan bapaknya senang dengan keramaian ini. 

 Sebenarnya, ada yang membuat Uni penasaran dengan satu anak kecil berpeci putih. Dia selalu sendirian, tidak pernah bergabung dengan teman-temannya untuk bermain. Yang dilakukannya adalah duduk termangu di ujung tangga paling atas mushola, memandang dari jauh saat teman-teman kecilnya berkejaran dalam tawa. Menjelang maghrib anak berpeci putih itu akan meninggalkan mushola, ketika senja datang dia akan beranjak pergi. Selalu seperti itu.

 Seringkali anak berpeci putih itu menatap takoyakinya, pernah Uni melambaikan tangan padanya. Bocah kecil berpeci putih itu hanya tersenyum, melambaikan tangan juga. Uni merasa iba dengannya, baju yang dipakai selalu sama. Peci putih, baju takwa berwarna putih dan celana hitam. Tetapi wajahnya imut sekali, pipinya tembem, sangat menggemaskan.

 Uni ingin memberikan takoyaki pada bocah itu, tapi tak pernah sekalipun dia mampir ke tempatnya. Kalau tidak karena jualannya yang selalu dipenuhi dengan anak kecil, pasti dia akan menghampirinya. Entah mengapa, timbul rasa sayang padanya. Anak kecil itu selalu tersenyum melihatnya. Terlihat dia ingin mendekati Uni, tapi tidak mempunyai keberanian.

 Pernah suatu saat, sore itu sangat mendung. Rumah yang biasanya ramai menjadi sepi karena anak-anak kecil yang biasanya belajar, telah meninggalkan mushola. Awan menggantung berwarna hitam, telah siap untuk memuntahkan airnya ke bumi insani. Uni hendak bersiap membereskan dagangannya, secara tidak sengaja dia melihat ke mushola depan rumah.

 Uni terkejut melihat bocah kecil itu masih duduk di tempat yang sama, memandangnya tersenyum. Dalam pikirannya, mengapa dia masih duduk di tangga biasanya? Apakah tidak ada yang menjemputnya? Bukankah ini sudah hampir maghrib?

 Uni yang masih menyisakan sedikit adonan segera membuatkan takoyaki untuk bocah berpeci putih. Saat makanan khas Jepang itu sudah matang, dia segera beranjak ke mushola dengan membawa payung. Tetapi yang dilihat Uni hanyalah kekosongan, tangga tempat biasanya anak itu duduk sudah tidak berpenghuni.

 Cepat sekali dia pergi, padahal aku hanya sebentar ke dalam rumah untuk mengambil payung. Besok aku akan membuatkan takoyaki untuknya. Uni hanya menyisakan tanda tanya di benaknya dan sebuah tekad untuk memberinya takoyaki. Sebuah kesadaran melintas dipikirannya bahwa anak itu sering terlihat semenjak dia berjualan takoyaki. Mungkin dia yang tidak pernah menyadarinya.

 * * * *
Keesokan harinya, cuaca sore masih sama. Mendung menggantung berwana hitam, rintik hujan kecil bergerak menghampiri bumi yang sehari ini terpapar matahari yang sangat ceria parasnya. Aroma air hujan menyentuh tanah adalah keunikan yang sangat Uni suka, dia pejamkan matanya. Menarik dalam-dalam bebauan ini, menghembuskan kembali perlahan.

Uni bernapas lega, dia buka matanya perlahan. Hujan semakin deras, matanya memandang ke mushola. Betapa terkejutnya dia melihat bocah berpeci putih masih duduk tenang di ujung tangga seperti biasanya. Segera dia ambil payung dan menantang hujan yang sudah mulai deras. 

Pandangannya terhalang derasnya air hujan, dengan hati-hati dia berjalan menghampiri bocah itu. Sekali lagi dia sangat terkejut, penampakannya sudah tidak terlihat di tangga mushola. Tubuh Uni lemas melihat kekosongan di depannya, dia terduduk di anak tangga. Dia ingin menangis tapi tidak bisa. Dari mushola dia menatap rumahnya, yang hanya berjarak lima ratus meter di seberang.

Rumah sederhana berisi empat orang, setiap hari berisi kebahagiaan. Tak pernah ada hari tanpa bahagia. Rumah yang sudah ditempati berpuluh tahun semenjak dia lahir, penuh kesejukan. Senyum kasih sayang ibunya, senyum bijak ayahnya, senyum usil adiknya. Semuanya terjalin indah dalam memori Uni. Air mata Uni menetes melihat rumah dan sejarah dibaliknya.

Terlihat bapak memandangnya dari teras rumah, beliau segera menyusul. Membawa payung hitam besar, bapak berjalan pelan ke tempat Uni duduk. Duduk di sebelahnya, bapak menatapnya heran.

“Ada apa, Uni? Mengapa duduk di sini sendirian?” 

Uni menunduk dalam tangis, dia angkat kepalanya. 

“Pak, sudah sebulan Uni berjualan takoyaki. Sebulan ini juga, Uni selalu melihat anak kecil berpeci putih, baju takwa putih dan celana hitam. Umurnya sekitar tujuh atau delapan tahun, dia selalu duduk di tangga atas mushola. Selalu di sini, tidak pernah berpindah. Dia selalu memandang rumah kita, mengawasi saat Uni berjualan.”

Dengan suara yang masih sesenggukan, Uni menarik napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.

“Hari ini, Uni melihat dia di sini juga. Uni ingin memberikan takoyaki padanya, tapi saat Uni menghampiri … dia tidak ada. Sudah dua kali ini seperti itu, Pak. Melihat wajahnya, timbul rasa sayang Uni padanya. Dia sangat lucu, imut, pipi tembem.”

Air mata Uni sudah runtuh membasahi paras putihnya. Bapak menatap sendu, dia mengusap kepala anak perempuan yang sangat dibanggakannya. Mengusap air matanya, dia peluk bahu kurus anaknya.

“Uni, apakah kamu ingat ketika kamu kelas tiga sekolah dasar? Saat itu ibu hamil adikmu yang kedua , kemudian adikmu meninggal? Kandungan ibumu saat itu berjalan lima bulan?” 

Bapak menatap Uni yang masih menangis, Uni mengangguk mendengar pertanyaan bapaknya. 

“Yang kamu lihat selama sebulan ini adalah adik kecilmu, dia ingin menemanimu. Dia gembira melihat kakaknya bisa mengajari anak-anak kecil yang butuh bantuan. Dia juga ingin kakaknya mengingatnya. Maafkan bapak dan ibu, tidak pernah mengingatkan kamu dan Rio untuk mendoakannya. Besok kita bersama-sama mengunjungi makamnya, jangan lupa doakan selalu setiap sholat. Dia merindukan doa-doa kita.”

Uni menangis lebih keras mendengar cerita bapaknya, dia memeluk dan menangis tersedu-sedu.

Keesokan harinya, empat orang dewasa berjongkok di depan pusara kecil bertuliskan ‘Muhammad Poetra’. Mereka merapal doa-doa untuk penghuni pusara di depannya, air mata kerinduan luruh meresap ke dalam tanah. Doa dan air mata yang akan membasahi jiwa-jiwa yang terkubur di dalamnya. Doa dari yang hidup untuk yang mati. 
                   Tamat

   
        
     
 





Sepatu dalam Balutan Anugerah

Sepatu Berbalut Anugerah


Sepatu ini cantik sekali, batinku. Berwarna coklat tua seperti kue brownis, sekali lagi kupandang sepatu pantofel. 

Pemiliknya pasti seorang yang tampan, gagah, dan tinggi, kataku dalam hati.

Kepalaku celingukan, melihat kondisi butik yang memang sudah sepi. Tersisa aku seorang, selalu menjadi yang terakhir pulang. Aku tak pernah takut, lagipula ada pak sekuriti yang selalu setia menemaniku.

 Aku berdiri meregangkan badan yang sudah terlalu lama duduk, kuambil sepatu yang masih tergeletak di atas meja dan mencobanya. Walau kebesaran dan sepatu lelaki, aku selalu suka mencoba sepatu baru. Tidak salah, memang bagus sekali sepatu ini di kaki. Sekali lagi, aku melihat sepatu yang sudah terpasang di kaki mungilku. Kemudian aku berjalan ke depan cermin yang berada di tengah ruangan.

Mengapa badanku terasa lebih tinggi dan berat? Tidak kuhiraukan keanehan yang kurasakan. Saat tiba di depan cermin, mulutku berteriak kecil, tubuhku terjerembab ke belakang. Siapa sosok di cermin? Mengapa ada lelaki tampan dan gagah?Kapan lelaki itu masuk ke sini?

 Aku masih menenangkan diri, menarik nafas panjang. Aku bangkit dari duduk, mematut di cermin lagi dan keanehan masih menyelimutiku. Lelaki itu masih berdiri dalam cermin, gerakannya sama persis denganku. Alam bawah sadarku mengingatkan untuk melepas sepatu, segera kakiku melepas sepatu. 

Keanehan terjadi, aku kembali menjadi gadis bernama Mica. Aku mencari sepatu lain yang ada di ruangan, penglihatanku jatuh pada sepatu berhak tinggi. Aku mencobanya, dan terlihat sosok gadis tinggi, berambut panjang, bibir merah merona dan berkulit putih. Mataku terbelalak. Hahhh … siapa lagi ini?! teriakku dalam hati. Aku melepas sepatu dan kembali ke bentuk asli Mica, si gadis mungil dan imut. Tuhan, ada apa gerangan? Setahun bekerja di butik sepatu dibagian reparasi, baru kali ini aku mengalami keanehan, tanyaku. 

Aku mencoba sandal wedges tebal, mulutku terbengong lagi. Kali ini seorang ibu cantik berjilbab ada di cermin, aku melepas sepatu berubah menjadi aku asli. Lepas, pakai, lepas, dan pakai lagi. Aku mencoba berulang dan selalu berganti. Akhirnya capek dan bingung, aku terduduk bersandar dinding. 

Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana mungkin? Mengapa baru sekarang setelah sekian lama bekerja di sini? Hatiku kembali bertanya-tanya tapi tetap saja belum menemukan penjelasan yang pas.

* * * *

Malam itu aku tidak bisa tidur, mengingat pengalaman pertama kali yang begitu menakjubkan. Lampu kamar gelap, aku menatap langit kamar yang berkerlap-kerlip seperti bintang padahal hanya bintang mainan. Ya Allah, kejadian apalagi yang harus aku alami besok? Semoga kejadian yang aku inginkan … aamiinn. 

“Mica … bangun.” Terdengar suara lembut memasuki pendengaranku, kubuka mata dan terlihat wajah lembut ibu. Sejuk sekali melihat wajah ibu, aku segera bangun dan menuju kamar mandi. 

“Jangan lupa salat, Mica,” pesan ibu saat aku berpamitan kerja. Aku mengangguk.
"Insya Allah, Bu.”

Kunaiki Scoopy hitam, menikmati udara pagi bersama jalanan yang masih sepi. Matahari pagi begitu hangat menyentuh kulit, langit biru cerah menyambutku dengan ceria. Ya Allah, semoga hari ini menjadi hari terbaik, semoga hamba bisa mewujudkan keinginan ibu … aamiinn. Suasana pagi yang ceria membuatku ingin menyapa Sang Pencipta dengan doa dalam hati.
Y
Rumah tanpa pagar berhiaskan bunga dan rerumputan hijau menghampar halaman mungil. Pohon mangga berada di sudut kiri rumah, ada plakat bertuliskan “SHOE”. Di sinilah aku bekerja setahun lebih, walau gaji tidak seberapa tapi aku sangat menyukai sepatu. Hingga aku mengambil sekolah sepatu setelah lulus SMA dan akhirnya rumah di depan ini adalah tempat bekerjaku yang pertama.

* * * *

“Mica, tolong kamu temui pelanggan di depan, ya. Beliau minta kamu yang melayani, katanya cocok dengan hasil kerjamu,” pinta ibu Rina, atasanku yang merupakan pemilik butik sepatu. 

Di ruang tamu tampak seorang ibu cantik dengan setelan gamis hitam, aku memberikan senyum terbaikku. Lalu ibu yang ternyata bernama ibu Gina ini memberikan sepatu high heel dan sandal pesta yang hak-nya lepas. Beliau ingin aku memperbaiki seperti semula. 

“Insya Allah, Bu Gina. Mica akan berusaha yang terbaik.”  

“Mbak Mica, nanti kalau sudah selesai tolong hubungi nomor telepon saya, ya?” Bu Gina memberikan kartu namanya padaku. Aku mengangguk sambil melihat kartu nama berwarna perak.

Aku membawa dua pasang sepatu ke meja kerja, melanjutkan kembali mengeringkan lem sepatu kets yang tadi aku kerjakan. Hampir satu jam aku menghabiskan waktu bersama sepatu kets. Akhirnya selesai juga  mereparasi sepatu olahraga merek terkenal ini, aku pun meletakkannya di meja sebelah.

 Segera kuraih sepatu Bu Gina, aku memutar-mutar sandal pesta berkilau di tangan. Pasti mahal sandal ini. Rasa ingin tahuku kembali muncul. Aku coba dulu ahh, apakah masih berubah, batinku. 

Berhenti di depan kaca, aku mencoba sandal hak tinggi Bu Gina. Lalu, keajaiban muncul, aku menjadi bu Gina. Lekas kulepas lagi. Masya Allah, aku masih saja shock. Bagaimana mungkin?  

Tiga hari kemudian, saat aku sedang bergelut dengan finishing sepatu Bu Gina, terdengar suara Bu Rina memanggilku. Aku bergegas melangkah ke ruang tamu dimana Bu Rina dan seorang pelanggan sedang berbincang.

“Permisi, Bu Rina.” 

“Mica, Bu Gina ingin berbicara denganmu.” Lalu, aku duduk di seberang Bu Gina yang sedang memperhatikan.

Siang yang cerah itu, aku tak mampu mendengar berita gembira dari Bu Gina. Aku hanya mengangguk-angguk dengan mata berkaca-kaca, tanpa ada kemampuan untuk mendengarkan kalimat indah yang keluar dari bibir ibu cantik dan baik hati ini. Alam pikiranku sudah membawa ke sebuah tempat yang diceritakan Bu Gina. Sebuah kota dengan cahaya Ilahi, kota yang merupakan tujuan utama umat muslim berhaji.

Bagaimana mungkin Bu Gina memberiku kejutan terindah padaku hanya karena kepuasannya atas sepatu yang kuperbaiki. Keinginan terpendam berujung keberuntungan. Keajaiban yang diberikan Sang Pencipta membuatku tak mampu berkata-kata. Labbaika allahumma labbaik (Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang).

Kupandangi sepatu Bu Gina, Tuhan berikanlah yang terbaik kepada hamba terbaikmu ini. Betapa hati Bu Gina sangat baik memberiku sebuah keajaiban hidup. Sepatu telah memberiku jalan untuk menemukan anugerah terindah. 

Aku mencoba lagi sepatu Bu Gina, kali ini yang muncul adalah aku dan ibu tercinta di sampingku berbalut busana ihrom. Aku terbengong melihat cermin. Masya Allah.               
      
TAMAT 
  




    

 
 


Aroma Zingiber

Rasa rempah di lidah akan berkurang, tapi rasa pedih di hati sulit menghilang Bibirku menguarkan segaris senyum saat menunggu gi...