Sepatu ini cantik sekali, batinku. Berwarna coklat tua seperti kue brownis, sekali lagi kupandang sepatu pantofel.
Pemiliknya pasti seorang yang tampan, gagah, dan tinggi, kataku dalam hati.
Kepalaku celingukan, melihat kondisi butik yang memang sudah sepi. Tersisa aku seorang, selalu menjadi yang terakhir pulang. Aku tak pernah takut, lagipula ada pak sekuriti yang selalu setia menemaniku.
Aku berdiri meregangkan badan yang sudah terlalu lama duduk, kuambil sepatu yang masih tergeletak di atas meja dan mencobanya. Walau kebesaran dan sepatu lelaki, aku selalu suka mencoba sepatu baru. Tidak salah, memang bagus sekali sepatu ini di kaki. Sekali lagi, aku melihat sepatu yang sudah terpasang di kaki mungilku. Kemudian aku berjalan ke depan cermin yang berada di tengah ruangan.
Mengapa badanku terasa lebih tinggi dan berat? Tidak kuhiraukan keanehan yang kurasakan. Saat tiba di depan cermin, mulutku berteriak kecil, tubuhku terjerembab ke belakang. Siapa sosok di cermin? Mengapa ada lelaki tampan dan gagah?Kapan lelaki itu masuk ke sini?
Aku masih menenangkan diri, menarik nafas panjang. Aku bangkit dari duduk, mematut di cermin lagi dan keanehan masih menyelimutiku. Lelaki itu masih berdiri dalam cermin, gerakannya sama persis denganku. Alam bawah sadarku mengingatkan untuk melepas sepatu, segera kakiku melepas sepatu.
Keanehan terjadi, aku kembali menjadi gadis bernama Mica. Aku mencari sepatu lain yang ada di ruangan, penglihatanku jatuh pada sepatu berhak tinggi. Aku mencobanya, dan terlihat sosok gadis tinggi, berambut panjang, bibir merah merona dan berkulit putih. Mataku terbelalak. Hahhh … siapa lagi ini?! teriakku dalam hati. Aku melepas sepatu dan kembali ke bentuk asli Mica, si gadis mungil dan imut. Tuhan, ada apa gerangan? Setahun bekerja di butik sepatu dibagian reparasi, baru kali ini aku mengalami keanehan, tanyaku.
Aku mencoba sandal wedges tebal, mulutku terbengong lagi. Kali ini seorang ibu cantik berjilbab ada di cermin, aku melepas sepatu berubah menjadi aku asli. Lepas, pakai, lepas, dan pakai lagi. Aku mencoba berulang dan selalu berganti. Akhirnya capek dan bingung, aku terduduk bersandar dinding.
Sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana mungkin? Mengapa baru sekarang setelah sekian lama bekerja di sini? Hatiku kembali bertanya-tanya tapi tetap saja belum menemukan penjelasan yang pas.
* * * *
Malam itu aku tidak bisa tidur, mengingat pengalaman pertama kali yang begitu menakjubkan. Lampu kamar gelap, aku menatap langit kamar yang berkerlap-kerlip seperti bintang padahal hanya bintang mainan. Ya Allah, kejadian apalagi yang harus aku alami besok? Semoga kejadian yang aku inginkan … aamiinn.
“Mica … bangun.” Terdengar suara lembut memasuki pendengaranku, kubuka mata dan terlihat wajah lembut ibu. Sejuk sekali melihat wajah ibu, aku segera bangun dan menuju kamar mandi.
“Jangan lupa salat, Mica,” pesan ibu saat aku berpamitan kerja. Aku mengangguk.
"Insya Allah, Bu.”
Kunaiki Scoopy hitam, menikmati udara pagi bersama jalanan yang masih sepi. Matahari pagi begitu hangat menyentuh kulit, langit biru cerah menyambutku dengan ceria. Ya Allah, semoga hari ini menjadi hari terbaik, semoga hamba bisa mewujudkan keinginan ibu … aamiinn. Suasana pagi yang ceria membuatku ingin menyapa Sang Pencipta dengan doa dalam hati.
Y
Rumah tanpa pagar berhiaskan bunga dan rerumputan hijau menghampar halaman mungil. Pohon mangga berada di sudut kiri rumah, ada plakat bertuliskan “SHOE”. Di sinilah aku bekerja setahun lebih, walau gaji tidak seberapa tapi aku sangat menyukai sepatu. Hingga aku mengambil sekolah sepatu setelah lulus SMA dan akhirnya rumah di depan ini adalah tempat bekerjaku yang pertama.
* * * *
“Mica, tolong kamu temui pelanggan di depan, ya. Beliau minta kamu yang melayani, katanya cocok dengan hasil kerjamu,” pinta ibu Rina, atasanku yang merupakan pemilik butik sepatu.
Di ruang tamu tampak seorang ibu cantik dengan setelan gamis hitam, aku memberikan senyum terbaikku. Lalu ibu yang ternyata bernama ibu Gina ini memberikan sepatu high heel dan sandal pesta yang hak-nya lepas. Beliau ingin aku memperbaiki seperti semula.
“Insya Allah, Bu Gina. Mica akan berusaha yang terbaik.”
“Mbak Mica, nanti kalau sudah selesai tolong hubungi nomor telepon saya, ya?” Bu Gina memberikan kartu namanya padaku. Aku mengangguk sambil melihat kartu nama berwarna perak.
Aku membawa dua pasang sepatu ke meja kerja, melanjutkan kembali mengeringkan lem sepatu kets yang tadi aku kerjakan. Hampir satu jam aku menghabiskan waktu bersama sepatu kets. Akhirnya selesai juga mereparasi sepatu olahraga merek terkenal ini, aku pun meletakkannya di meja sebelah.
Segera kuraih sepatu Bu Gina, aku memutar-mutar sandal pesta berkilau di tangan. Pasti mahal sandal ini. Rasa ingin tahuku kembali muncul. Aku coba dulu ahh, apakah masih berubah, batinku.
Berhenti di depan kaca, aku mencoba sandal hak tinggi Bu Gina. Lalu, keajaiban muncul, aku menjadi bu Gina. Lekas kulepas lagi. Masya Allah, aku masih saja shock. Bagaimana mungkin?
Tiga hari kemudian, saat aku sedang bergelut dengan finishing sepatu Bu Gina, terdengar suara Bu Rina memanggilku. Aku bergegas melangkah ke ruang tamu dimana Bu Rina dan seorang pelanggan sedang berbincang.
“Permisi, Bu Rina.”
“Mica, Bu Gina ingin berbicara denganmu.” Lalu, aku duduk di seberang Bu Gina yang sedang memperhatikan.
Siang yang cerah itu, aku tak mampu mendengar berita gembira dari Bu Gina. Aku hanya mengangguk-angguk dengan mata berkaca-kaca, tanpa ada kemampuan untuk mendengarkan kalimat indah yang keluar dari bibir ibu cantik dan baik hati ini. Alam pikiranku sudah membawa ke sebuah tempat yang diceritakan Bu Gina. Sebuah kota dengan cahaya Ilahi, kota yang merupakan tujuan utama umat muslim berhaji.
Bagaimana mungkin Bu Gina memberiku kejutan terindah padaku hanya karena kepuasannya atas sepatu yang kuperbaiki. Keinginan terpendam berujung keberuntungan. Keajaiban yang diberikan Sang Pencipta membuatku tak mampu berkata-kata. Labbaika allahumma labbaik (Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang).
Kupandangi sepatu Bu Gina, Tuhan berikanlah yang terbaik kepada hamba terbaikmu ini. Betapa hati Bu Gina sangat baik memberiku sebuah keajaiban hidup. Sepatu telah memberiku jalan untuk menemukan anugerah terindah.
Aku mencoba lagi sepatu Bu Gina, kali ini yang muncul adalah aku dan ibu tercinta di sampingku berbalut busana ihrom. Aku terbengong melihat cermin. Masya Allah.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar