MENGATASI
KELELAWAR DI KOS
Beberapa waktu lalu saya pernah menulis tentang
kelelawar di tempat tinggal (kos). Saat itu saya bercerita kalau kelelawar
sering datang saat malam dan membuang kotorannya sembarangan. Kami penghuni kos
yang semuanya cewek jadi kesal melihat lantai depan kamar yang selalu kotor
saat kami membuka kamar setiap pagi.
Lalu mengadulah kami ke bapak kos tercinta tentang perbuatan semena – mena kelelawar
(hehehehe). Bapak kos juga bingung bagaimana cara mengatasi kelelawar ini. Mau
diajak bernegosiasi juga nggak bisa. Lama kami menunggu solusi apa yang akan
dipakai pak kos, belum juga terpecahkan. Akhirnya setelah menunggu dua mingguan,
solusi itu sudah ditemukan.
Saat itu saya pulang kerja, terdengar suara
kresek-kresek dari atas plafon. Menengadahlah kepala saya, melihat ke atas.
Ternyata sumber suara berasal dari atap. Terlihatlah kertas kerlap kerlip warna
warni ( seperti kertas grenjeng ulang tahun ) sepanjang 1 meter menempel seperti
parasit di atap dan juga lampion berwarna merah bergelantungan dengan indahnya .
Bergoyang ceria terkena hembusan angin. Kaget saya melihatnya…wow apaan nih.
Teman saya yang baru keluar kamar berkata, “Itu penangkal kelelawar, mbak” Ooo
ternyata ini solusinya.
Saya gembira, karena semenjak terpasang penangkal ini,
si kelelawar tidak pernah mampir lagi. Lantaipun jadi awet bersihnya. Hidup pun
jadi tambah damai karena tidak harus mengepel lantai setiap hari.
Tetapi kedamaian ini Alhamdulillah hanya berjalan
kira-kira 1 bulan saja. Seiring akan
datangnya Tahun Baru Imlek, maka hujan dan anginpun menyapa kami setiap hari.
Kertas penangkal yang sudah menempel dengan indahnya di atap, pada akhirnya
harus menyerah pada kekuasaan angin yang berteriak dengan keras. Sehingga
penangkal kertas itu lepas setengahnya alias bergelantungan minta tolong untuk
ditempelkan lagi. Tetapi apalah daya kami, karena atapnya yang begitu tinggi.
Jadi ya sudah kami biarkan saja kertasnya menggelantung.
Hingga suatu malam saat sedang membaca, saya mendengar suara ceplok-ceplok di depan kamar. Hati saya sudah tidak enak, waduh jangan-jangan si kelelawar mampir lagi. Tangan saya membuka tirai jendela dan terlihatlah pemandangan lantai yang kotor. Ya Alloh kelelawar ini lagi dan lagi mengulangi perbuatannya.

Kami kembali harus merelakan lantai kotor lagi. Ya
sudahlah harus sabar dan ikhlas menghadapinya.
2 minggu berlalu dengan perasaan campur aduk, akhirnya
pak kos dan anak lelakinya memasang lagi penangkal lainnya. Kali ini dengan
penangkal model lain. Yang kertas kerlap kerlip dan lampion merah dibiarkan
tetap ada, kemudian tambahannya adalah pesawat dari kertas berjumlah 5 buah
bewarna putih. Ada lagi 1 dream catcher, warna putih juga.

Alhamdulillah, malamnya kelelawar tidak datang lagi.
Sebenarnya cara untuk mengatasi kelelawar ada banyak,
saya mencari dan membaca di Google bermacam-macam caranya. Tetapi setelah
membaca beberapa solusi kok tidak banyak yang sesuai dengan kondisi kos saya.
Karena kondisi lingkungan kos saya dibelakang adalah sungai dan pohon-pohon
yang lebat sekali daunnya. Akhirnya setelah melalui pemikiran yang mendalam, beberapa
cara yang sesuai dengan kondisi kos saya diantaranya adalah :
1. Memangkas
Pohon
Pohon-pohon (terutama pohon keres) ditepi sungai
belakang kos berdaun lebat sekali. Lebatnya daun dan buah pohon-pohon tersebut
membuat kelelawar kerasan. Sehingga harus sering-sering dipangkas.
2. Menutup
Jalan Masuk Kelelawar
Menutup Jalan masuk kelelawar bisa menggunakan
jaring/net. Bahkan teman-teman ada yang menyarankan dikasih tirai kain atau
rotan yang bisa ditarik keatas. Jadi saat pagi tirai ditarik ke atas, saat
malam diturunkan. Karena biasanya kelelawar berkunjung sekitar jam 19.00. Akses
masuk kelelawar ke tempat kos sangat mudah alias terbuka, sehingga kelelawar
mudah sekali masuk.
3. Memasang
Mainan Gantung
Mainan gantung bisa berupa kertas kerlap kerlip,
lampion, pesawat-pesawatan dari kertas (terserah bahannya), ataupun dream
catcher. Mainan yang digantung ini menjadi salah satu cara yang bisa diandalkan
karena dengan dipasang berjejer, bisa mengalihkan konsentrasi kelelawar. Karena
lokasi yang biasanya didiami kelelawar menjadi ramai dari mainan gantung tadi.
Dari ketiga solusi diatas, yang bisa diwujudkan dikos
saya adalah nomor 1 dan 3. Yang nomor 1 dilakukan oleh Pemkot Surabaya, yang
nomor 3 oleh pak kos sendiri. Cara tersebut yang paling efekstif dan efisien.
Karena semenjak solusi tersebut diterapkan kelelawar sampai sekarang belum
mampir lagi.
Dari pengalaman itu baru tersadari bahwa solusi akan
muncul dengan sendirinya saat kita mengalami sendiri. Walaupun membaca banyak
referensi belum tentu referensi yang kita baca itu sesuai dengan solusi yang
dibutuhkan. Tetapi referensi bisa menambah kekayaan wawasan dan ilmu, karena
suatu saat pasti akan bermanfaat buat
kita sendiri dan lingkungan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar