Pertama kali aku mengenalnya saat umurnya masih 2 mingguan. Tiba-tiba datang ke rumah. Sebelumnya, ia datang berkelompok. Namun, ia tertinggal atau ditinggal kawanannya. Entah punya siapa. Diusir, enggan pergi. Selalu datang kembali … dan tak mau pergi. Belum lagi, ternyata penglihatannya yang kurang. Itu kenapa ia tertinggal ketika teman-temannya yang lain pergi.
Saat itu, untuk makan pun, Ibu harus memberinya tepat di bibirnya agar tahu jika ada makanan. Badannya selalu menggigil. Sebenarnya, Ibu juga aku khawatir dengan kondisinya, tapi kami hanya berujar, “Kalau hidup ya hidup, kalau mati pun kami juga rela. Dia datang tanpa diundang.” Yang terpenting, kami selalu memberinya makan dan minum. Tanpa kekurangan apa pun.
Bahkan ada tetangga yang bilang, dibuang saja. Ia penyakitan. Namun, Ibu juga aku merasa iba dan kasihan. Biarlah, yang penting kita kasih makan. Alhamdulillah, sampai sekarang ia sehat dan segar bugar. Ia menjadi sosok ayak jantan yang gagah.
Ya, ia adalah Kiti. Kiti adalah nama ayam jagoku yang sekarang sudah gemoy dan gagah. Ketika masih awal tinggal di rumah, aku pernah berkata pada ayam jagoku.
“Hei, Ayam, mulai sekarang kamu aku kasih nama Kiti, ya. Dengerin ya, Ayam.” Dialogku dengan Kiti, aku ingat kukatakan itu saat hari masih sore dan hendak mandi.
Aku tahu jika Kiti adalah jantan, tapi entah mengapa aku suka memanggilnya Kiti. Lucu kalau didengar. Semenjak itu, setiap kali dipanggil Kiti, ayam jagoku akan menoleh. Ia tahu dan menyadari jika Kiti adalah namanya.
Si Kiti ini lucu dan unik. Mengapa? Ada beberapa sebab. Di antaranya adalah Kiti berbeda dengan ayam lain. Ada banyak cerita tentangnya. Tulisan berikut ini hanyalah beberapa cerita singkat tentang Kiti.
Di belakang rumahku ada tempat pembuangan kotoran burung puyuh (Omah Kohe). Di saat ayam lain mau mematuk sisa-sisa pakan burung puyuh yang bercampur dengan kotoran, maka si Kiti hanya melihat saja atau nangkring di atas pagar pembatas Omah Kohe alias mengawasi saja (maaf, belum ada fotonya). Bahkan, Pak De ku yang melihat Kiti di Omah Kohe dibuat tersenyum karena tingkah Kiti.
Kiti juga doyan telur burung puyuh, tapi yang diambil hanya bagian kuningnya. Putih telurnya dibiarkan saja. Apalagi jika telur yang kulitnya masih empuk atau telur uritan, Kiti sangat senang. Itu dulu saat Kiti masih dalam masa pertumbuhan. Sekarang Kiti sudah bosan, jadi makannya hanya beras. Meski doyan telur, Kiti tetap makan beras. Bagaimana dengan jagung? Kiti tidak suka. Ibu pernah mencoba memberi, tapi Kiti hanya mencicipnya tanpa mau melanjutkan makan.
Lucu lagi ketika Ibu dan aku terlibat obrolan di belakang rumah, Kiti pun akan mendekat dan bermain di sekitar kami. Selalu seperti itu. Setiap pagi, usai sholat Subuh, aku dan Ibu biasanya membersihkan kandang burung puyuh. Lalu, apa yang dilakukan Kiti? Ia akan ikut masuk kandang jika saja diperbolehkan. Kiti pun hanya bisa melihat dan menunggu kami di luar kandang sambil berkukuruyuk. Ketika bumi sedikit terang, Kiti akan melompat pagar untuk bertemu teman-temannya di Omah Kohe.
Ketika menjelang magrib, jika pintu dapur rumah tertutup, Kiti pun akan masih berkeliaran di luar. Namun, jika pintu dapur terbuka, Kiti tidak keluar. Ibu yang mengerti kebiasaan Kiti setelah memahami gerak-geriknya. Begitu pun saat kami pergi, Kiti pun tidak mau tinggal di rumah. Selama pintu terbuka ... Kiti ada, jika tertutup ... Kiti tak ada.
Kiti juga suka mematuk sandalku dan Ibu. Entah ia sedang menggoda kami ataukah dia kesal karena aku sering mengejarnya atau ngomel padanya karena bandel🤭. Ia kalau sedang diomeli, matanya akan melirik kami atau memberikan feedback dengan suaranya (mungkin ini hanya perasaanku saja😁).
Hewan yang bernama ayam ini jika mau naik ke peraduannya juga memiliki kebiasaan unik. Kalau kami menunggunya, ia langsung patuh dengan naik ke tempat istirahatnya. Kebalikannya, jika tidak ditunggu, ia akan tidur di sembarang tempat. Di atas meja atau di atas kursi di belakang rumah. Jika bandel seperti itu, Ibu sambil membawa kayu, memberi ancaman akan memukulnya jika tidak segera naik ke peraduannya. Kiti, Kiti, Kiti oh Kiti.
Mempunyai hewan peliharaan seperti Kiti atau hewan-hewan yang lain sangat menyenangkan. Bisa mengatasi stres alias menghibur manusia yang sering membutuhkan healing.
Itulah Kitiku
Dia ada tanpa disengaja
Pagiku lebih ceria karenanya
Hadirnya ...
Membuat hidup lebih berwarna
Tidak ada komentar:
Posting Komentar