Kini, parasmu terukir kebahagiaan. Wajah berseri, merona, dan nada suara riangmu senantiasa terdengar indah. Hari-harimu pun kembali ceria karena keberhasilanmu menyunting seseorang yang selama ini seharusnya tidak engkau idamkan. Mengabaikan sebuah norma yang takbiasa. Tidak seharusnya seperti itu. Namun, apalah daya, itu diluar kehendakmu. Diluar nalarmu.
Di suatu pagi yang cerah lagi ceria.
Sebuah tatapan tajam dari sepasang mata berwarna hitam, sedang memandang seorang kecantikan yang setiap hari berputar di kesehariannya. Sosok yang telah menghadirkanmu di ruang bumi.
"Bu, Bapak kemana?" Kamu menanyakan seseorang yang setiap hari mengais rezeki untuk keluarga. Sorot kekaguman tersirat dari bola matamu saat mengingat bapakmu.
"Bapak berangkat kerja. Mencari rezeki untuk kamu, biar cepat besar," sahut ibu yang sedang sibuk membersihkan beras dari kerikil.
"Mengapa Bapak nggak ajak Kevin, Bu?" tanyamu.
Wanita cantik di depanmu tersenyum, mengusap kepala gundul yang kamu miliki.
"Kevin masih kecil, nanti kalau sudah besar boleh membantu Bapak mencari makan buat kita," tutur lembut ibumu.
Kamu pun mengangguk, sembari membuka mulut untuk minta suapan dari ibu yang selalu telaten meladeni segala kecerewetanmu. Usai menyantap makanan, kaki pendekmu mulai berlari menyusul teman-teman yang telah menunggu di halaman.
Bermain bersama anak-anak tetangga yang seumuran adalah salah satu kegiatan favoritmu. Namun, ada satu kegiatan yang kamu hindari saat bersama mereka. Kegiatan yang kurang kamu suka adalah bermain air di got yang airnya kotor dan bau.
Wajahmu menunjukkan rasa jijik saat melihat mereka bersenda gurau atau bahkan saling mengejar di antara air comberan berceceran. Kakimu berusaha menghindar atau melompat saat dihadapkan dengan keruhnya air. Tubuhmu selalu engkau jaga agar jangan sampai tersentuh sesuatu yang kotor.
Pernah juga kamu sangat kesal ketika tubuhmu terkena cipratan air yang menurutmu sangat kotor dan berwarna gelap. Jika sudah seperti itu, engkau akan bergegas pulang ke rumah dan berteriak pada ibumu minta mandi. Ibumu hanya tersenyum melihat tingkahmu. Itu yang membedakan dirimu dengan teman-temanmu.
"Sudah, di rumah saja, nggak usah main. Kamu tunggu Bapak, nanti kita makan bareng." Itu yang dikatakan ibu saat engkau sudah menyelesaikan mandi.
Kamu mengangguk diam dan duduk manis di depan rumah menyaksikan keramaian teman-temanmu yang masih larut dalam permainan. Suasana yang hiruk pikuk dengan tubuh bersih usai mandi, ditambah desir angin membelai wajah, membuatmu akhirnya tertidur nyenyak.
"Kevin, bangun. Kevin, Bapak sudah pulang. Ayo makan dulu, tidurnya dilanjutkan lagi nanti." Ibu mengguncang tubuh rampingmu. Engkau pun perlahan membuka mata, menatap sebentuk paras cantik dengan sorot mata lembut yang sanggup menggetarkan hatimu. Ibu.
Kamu menggerakkan badan, melangkah menuju tempat Bapak dan Ibu yang sudah menunggu bersama makanan lezat.
"Vin, ini nasi jagung kesukaanmu. Bapak membawakannya untukmu. Katanya, kamu sudah lama tidak makan jagung," tutur bapak sambil memandang anaknya yang masih terlihat mengantuk.
Kamu menganggukkan kepala kecilmu dengan malas. Mata pun serasa hanya ingin terpejam. Namun, laparmu menahan laju mata kantukmu.
* * *
Beberapa bulan kemudian ….
Engkau berdiri gagah dengan membusungkan dada. Jalanmu tegap dan lurus ke depan, kau angkat sedikit dagumu. Terkesan sombong dan percaya diri tinggi bagi yang melihat. Meskipun perawakanmu ramping, tapi sebenarnya engkau mempunyai tubuh yang liat dan kuat. Tubuhmu pun bersih karena engkau senang dengan kebersihan.
Berbeda dengan teman seumuranmu yang tidak pernah memperhatikan penampilan. Semakin bertambah umur, performamu makin memesona. Banyak mata wanita yang menatap dan ingin mendapatkanmu.
"Kevin, kamu jadi ikut Bapak? Katanya mau ikut kerja," tanya bapak.
Tanpa banyak aksara, kamu pun mengikuti orang tua lelakimu. Mengekori kemanapun ia melangkah. Walau ada rasa kesal melihat bapakmu yang gemar berkeliling kampung.
"Vin, lihatlah. Banyak cewek melirikmu penuh hasrat. Anakku memang rupawan parasnya." Bapak menatap penuh kebanggaan melihat anaknya dipandang wajah-wajah cantik. Akan tetapi, kamu hanya diam, enggan mengungkapkan perasaan. Senyum tipis engkau perlihatkan untuk bapak. Engkau menundukkan kepala, tidak ada niatan untuk membalas tatapan makhluk yang bernama wanita. Sebab, hatimu telah dibutakan dan ditaklukkan seorang wanita.
"Bapak mengajak Kevin kesini untuk membantu kerja atau pamer kegantengan anak?" tanyamu bernada kesal.
"Bapak tidak bermaksud seperti itu. Kamu bisa melihat sendiri 'kan, aura yang kamu pancarkan membuat mereka tergoda untuk memelototimu," canda bapak padamu.
Wajahmu serius, tanpa ekspresi, saat mendengar canda bapakmu.
"Sudah ada perempuan yang aku suka, Pak," balasmu. Bapak tersenyum mendengar perkataan yang kamu lontarkan.
Kamu mengedikkan bahu dan kembali melangkah dengan gaya cuek. Tidak engkau pedulikan sorot mata lawan jenis yang ingin mendekati.
"Sombong sekali. Untung cakep," bisik salah seorang pengagummu.
"Terima kasih," jawabmu. Dadamu semakin membusung, dagumu semakin engkau tinggikan.
"Hati-hati kalau jalan, lihat ke bawah. Jangan sampai menginjak tahi," cemooh seseorang yang kelihatannya sebal melihat kecongkakanmu.
Benar saja, kamu merasa sepasang kakimu menginjak yang lembek dan sedikit hangat. Kamu pun berteriak kencang saat melihat ke bawah. Jari kakimu menginjak cairan berwarna hitam dan berbau alias tahi.
"Pak! Kevin pulang dulu!" Kamu berlari kencang menuju rumah dan segera membersihkan badan.
* * *
Tiada penyesalan di wajahmu saat kamu berhasil membunuh bapak yang memiliki peran besar dalam keberadaanmu di di dunia ini. Engkau dan bapakmu bertarung sengit saat bibirmu melontarkan kalimat bahwa kau menyukai ibumu. Lelaki mana yang ingin memberikan kesayangannya pada orang lain. Meski itu buah hati sendiri. Ibumu hanya bisa menerima takdir ini.
"Papiii!! Papi lihat! Si Kevin membunuh bapaknya. Sekarang dia mengawini ibunya. Ini namanya incest, Pi!. Aduh! Bikin pusing saja. Lihat, Pi!" Seorang wanita cantik berhijab hitam berteriak melihat ulahmu saat bertarung dengan bapakmu.
"Biarkan saja, Mi. Itu sudah biasa terjadi di dunia per-ayam-an. Kalau kamu yang direbut, akan aku libas orang yang merebutmu," cetus bapak berbaju batik yang geli dengan sikap sang istri. Pasangan suami istri itu pun kembali memandang pertarunganmu.
Kamu yang masih muda, mengeluarkan segenap kemampuan untuk bisa mengalahkan bapakmu. Kalian saling mematuk, mengembangkan sayap agar terlihat perkasa. Lalu beradu tatapan tajam, bergerak, dan saling mengawasi hingga kamu yang berjiwa muda dengan emosi meletup, menyerang pejantan senior yang kamu kenal sebagai bapakmu.
Akhirnya, kamu pun berdiri tegak sebagai pemenang dari pertarungan sengitmu. Sementara lawanmu terkapar tak berdaya, dan meregang nyawa di tanah. Luka yang kamu torehkan cukup banyak. Betina yang kamu kenal sebagai ibumu pun tak mampu berbuat banyak. Menyaksikan dalam diam karena kamu mendorongnya ke tepi agar tidak terlibat dalam pertikaianmu.
Hanya ada kepuasan menggurat parasmu ketika menatap bapakmu terbaring lemah tanpa daya dan taklagi bernapas. Engkau memandang ibumu yang berdiri mematung dengan ekspresi datar.
"Kevin jahat, Pi. Tadi, dia mematuk bapaknya berkali-kali hingga lemas dan mati." Wanita berhijab itu menceritakan keganasanmu dengan nada ngeri.
"Sudahlah, Mi. Biarkan saja. Untung saja Kevin bukan anak kita, tapi anak ayam. Sudah biasa anak ayam membunuh bapaknya, lalu mengawini ibunya. Yang terpenting, mereka bisa beranak pinak dan melanjutkan keturunan," jawab suami wanita berhijab yang segera mengangkat bangkai bapakmu. Senyum geli lelaki pemilikmu tersirat di wajahnya saat mendengar ocehan sang istri tentangmu.
"Inilah dunia ayam," jawabmu dengan suara merdu petokan.
"Uhhh dasar Si Kevin. Kamu ngomong apa? Ngapain kamu petok-petok? Lihat! Bahkan kamu langsung mendekati emakmu. Dasar ayam!"
Wanita cantik itu berjongkok, masih menatapmu dalam heran dan gemas. Kamu yang terkurung dalam kandang kayu mengabaikan pandangannya. Kebanggaan masih menyelimuti. Takada sedih ataupun luka dihatimu. Begitupun dengan ibu yang telah menjadi ratu dalam hidupmu.
Pulaumu, 09 Februari 2020
#cerpen
#cerita #puan #ayam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar