Sebuah keinginan akan berarti saat bisa mewujudkannya. Lebih memiliki makna lagi saat keinginan sederhana dari orang yang telah tiada, kita bisa membantu merealisasikannya. Seperti salah satu makanan khas Jepang yang menjadi kesukaan seorang gadis bernama Uni, kegemarannya membawa pada suatu kebenaran yang selama ini hilang dari ingatannya.
Berpuluh tahun kenangan itu pergi, bahkan tetua di rumah tidak pernah mengingatkan kenangan indah dan menyakitkan. Hingga akhirnya keberadaan yang hilang, muncul sejenak tanpa mereka sadari. Sejenak untuk asa yang hilang, berganti asa baru.
Adalah seorang Uni, gadis cantik pecinta makanan Jepang takoyaki. Makanan yang terbuat dari adonan tepung terigu berbentuk bulat yang diisi dengan potongan gurita di dalamnya. Karena sudah masuk lidah lokal Indonesia, potongan gurita bisa diganti dengan sosis, keju atau bahan lainnya sesuai selera. Begitu cintanya terhadap takoyaki, membuat Uni ingin mempunyai kios takoyaki di depan rumah.
Beruntung, mempunyai orang tua yang selalu mendukung keinginannya. Walaupun sebelumnya mereka kurang setuju, keduanya menghendaki Uni lebih berkonsentrasi dengan kuliahnya yang masih semester awal. Melalui penjelasan yang panjang disertai janji Uni tetap membagi waktunya antara kuliah dan takoyaki, akhirnya kedua orang tuanya meluluskan hasrat menggebunya.
Wanita yang melahirkannya adalah pendukung utama keinginan Uni, karena dia pernah merasakan takoyaki buatan Uni. Rasa adonan yang begitu lembut saat sudah masuk ke mulut, tidak membuat enek. Saat dinginpun, takoyaki bikinan anaknya tetaplah empuk.
Berbeda dengan takoyaki yang pernah ibunya beli. Itulah yang menjadi salah satu faktor setuju dengan keinginan anaknya.
Mulailah Uni belanja kebutuhan jualannya. Tepung terigu, susu, saos dan bahan-bahan lainnya. Membuat adonan yang pas dan enak yang disuka semua orang. Kepercayaan dirinya tumbuh karena ibunya selalu mengatakan takoyaki buatannya enak.
Berkali-kali Uni melakukan perubahan resep untuk memperoleh rasa yang dia inginkan, yang menjadi korban uji cobanya adalah kedua orang tua dan adik lelakinya, Rio. Mereka protes diminta makan takoyaki setiap hari, sudah dibilang enak tapi Uni masih kurang puas. Rio sampai mual-mual dan ngomel sama kakak perempuannya. Uni tertawa keras melihat adiknya yang mogok makan takoyaki.
Hingga tiba saatnya bagi Uni untuk mulai berjualan takoyaki. Dia mulai berjualan sehabis salat Asar, pada jam-jam ini banyak anak kecil yang mulai mengaji di mushola depan rumah. Tetangganya juga banyak yang berdatangan untuk membeli makanan khas Jepang yang dijualnya. Kebanyakan dari mereka memuji rasa dan kelembutan takoyaki, membuat Uni semakin bersemangat berjualan.
* * * *
Sudah hampir sebulan ini takoyaki Uni berjalan. Sepulang mengaji anak-anak kecil selalu mampir ke Uni. Beli berapapun mereka, Uni tidak pernah menolaknya. Terkadang mereka tidak hanya jajan takoyaki, ada saja yang mereka tanyakan ke Uni dan adik lelakinya. Anak-anak itu minta diajari pelajaran sekolah yang mereka tidak bisa. Akhirnya Uni dan adiknya, Rio, meluangkan waktu untuk mengajari mereka. Bergiliran mereka mengajari, saat Uni melayani pembeli, Rio yang akan mengawasi bocah-bocah. Sehingga rumah mereka tidak pernah sepi, selalu terdengar suara berceloteh gembira. Membuat ibu dan bapaknya senang dengan keramaian ini.
Sebenarnya, ada yang membuat Uni penasaran dengan satu anak kecil berpeci putih. Dia selalu sendirian, tidak pernah bergabung dengan teman-temannya untuk bermain. Yang dilakukannya adalah duduk termangu di ujung tangga paling atas mushola, memandang dari jauh saat teman-teman kecilnya berkejaran dalam tawa. Menjelang maghrib anak berpeci putih itu akan meninggalkan mushola, ketika senja datang dia akan beranjak pergi. Selalu seperti itu.
Seringkali anak berpeci putih itu menatap takoyakinya, pernah Uni melambaikan tangan padanya. Bocah kecil berpeci putih itu hanya tersenyum, melambaikan tangan juga. Uni merasa iba dengannya, baju yang dipakai selalu sama. Peci putih, baju takwa berwarna putih dan celana hitam. Tetapi wajahnya imut sekali, pipinya tembem, sangat menggemaskan.
Uni ingin memberikan takoyaki pada bocah itu, tapi tak pernah sekalipun dia mampir ke tempatnya. Kalau tidak karena jualannya yang selalu dipenuhi dengan anak kecil, pasti dia akan menghampirinya. Entah mengapa, timbul rasa sayang padanya. Anak kecil itu selalu tersenyum melihatnya. Terlihat dia ingin mendekati Uni, tapi tidak mempunyai keberanian.
Pernah suatu saat, sore itu sangat mendung. Rumah yang biasanya ramai menjadi sepi karena anak-anak kecil yang biasanya belajar, telah meninggalkan mushola. Awan menggantung berwarna hitam, telah siap untuk memuntahkan airnya ke bumi insani. Uni hendak bersiap membereskan dagangannya, secara tidak sengaja dia melihat ke mushola depan rumah.
Uni terkejut melihat bocah kecil itu masih duduk di tempat yang sama, memandangnya tersenyum. Dalam pikirannya, mengapa dia masih duduk di tangga biasanya? Apakah tidak ada yang menjemputnya? Bukankah ini sudah hampir maghrib?
Uni yang masih menyisakan sedikit adonan segera membuatkan takoyaki untuk bocah berpeci putih. Saat makanan khas Jepang itu sudah matang, dia segera beranjak ke mushola dengan membawa payung. Tetapi yang dilihat Uni hanyalah kekosongan, tangga tempat biasanya anak itu duduk sudah tidak berpenghuni.
Cepat sekali dia pergi, padahal aku hanya sebentar ke dalam rumah untuk mengambil payung. Besok aku akan membuatkan takoyaki untuknya. Uni hanya menyisakan tanda tanya di benaknya dan sebuah tekad untuk memberinya takoyaki. Sebuah kesadaran melintas dipikirannya bahwa anak itu sering terlihat semenjak dia berjualan takoyaki. Mungkin dia yang tidak pernah menyadarinya.
* * * *
Keesokan harinya, cuaca sore masih sama. Mendung menggantung berwana hitam, rintik hujan kecil bergerak menghampiri bumi yang sehari ini terpapar matahari yang sangat ceria parasnya. Aroma air hujan menyentuh tanah adalah keunikan yang sangat Uni suka, dia pejamkan matanya. Menarik dalam-dalam bebauan ini, menghembuskan kembali perlahan.
Uni bernapas lega, dia buka matanya perlahan. Hujan semakin deras, matanya memandang ke mushola. Betapa terkejutnya dia melihat bocah berpeci putih masih duduk tenang di ujung tangga seperti biasanya. Segera dia ambil payung dan menantang hujan yang sudah mulai deras.
Pandangannya terhalang derasnya air hujan, dengan hati-hati dia berjalan menghampiri bocah itu. Sekali lagi dia sangat terkejut, penampakannya sudah tidak terlihat di tangga mushola. Tubuh Uni lemas melihat kekosongan di depannya, dia terduduk di anak tangga. Dia ingin menangis tapi tidak bisa. Dari mushola dia menatap rumahnya, yang hanya berjarak lima ratus meter di seberang.
Rumah sederhana berisi empat orang, setiap hari berisi kebahagiaan. Tak pernah ada hari tanpa bahagia. Rumah yang sudah ditempati berpuluh tahun semenjak dia lahir, penuh kesejukan. Senyum kasih sayang ibunya, senyum bijak ayahnya, senyum usil adiknya. Semuanya terjalin indah dalam memori Uni. Air mata Uni menetes melihat rumah dan sejarah dibaliknya.
Terlihat bapak memandangnya dari teras rumah, beliau segera menyusul. Membawa payung hitam besar, bapak berjalan pelan ke tempat Uni duduk. Duduk di sebelahnya, bapak menatapnya heran.
“Ada apa, Uni? Mengapa duduk di sini sendirian?”
Uni menunduk dalam tangis, dia angkat kepalanya.
“Pak, sudah sebulan Uni berjualan takoyaki. Sebulan ini juga, Uni selalu melihat anak kecil berpeci putih, baju takwa putih dan celana hitam. Umurnya sekitar tujuh atau delapan tahun, dia selalu duduk di tangga atas mushola. Selalu di sini, tidak pernah berpindah. Dia selalu memandang rumah kita, mengawasi saat Uni berjualan.”
Dengan suara yang masih sesenggukan, Uni menarik napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.
“Hari ini, Uni melihat dia di sini juga. Uni ingin memberikan takoyaki padanya, tapi saat Uni menghampiri … dia tidak ada. Sudah dua kali ini seperti itu, Pak. Melihat wajahnya, timbul rasa sayang Uni padanya. Dia sangat lucu, imut, pipi tembem.”
Air mata Uni sudah runtuh membasahi paras putihnya. Bapak menatap sendu, dia mengusap kepala anak perempuan yang sangat dibanggakannya. Mengusap air matanya, dia peluk bahu kurus anaknya.
“Uni, apakah kamu ingat ketika kamu kelas tiga sekolah dasar? Saat itu ibu hamil adikmu yang kedua , kemudian adikmu meninggal? Kandungan ibumu saat itu berjalan lima bulan?”
Bapak menatap Uni yang masih menangis, Uni mengangguk mendengar pertanyaan bapaknya.
“Yang kamu lihat selama sebulan ini adalah adik kecilmu, dia ingin menemanimu. Dia gembira melihat kakaknya bisa mengajari anak-anak kecil yang butuh bantuan. Dia juga ingin kakaknya mengingatnya. Maafkan bapak dan ibu, tidak pernah mengingatkan kamu dan Rio untuk mendoakannya. Besok kita bersama-sama mengunjungi makamnya, jangan lupa doakan selalu setiap sholat. Dia merindukan doa-doa kita.”
Uni menangis lebih keras mendengar cerita bapaknya, dia memeluk dan menangis tersedu-sedu.
Keesokan harinya, empat orang dewasa berjongkok di depan pusara kecil bertuliskan ‘Muhammad Poetra’. Mereka merapal doa-doa untuk penghuni pusara di depannya, air mata kerinduan luruh meresap ke dalam tanah. Doa dan air mata yang akan membasahi jiwa-jiwa yang terkubur di dalamnya. Doa dari yang hidup untuk yang mati.
Tamat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar