Ting! Mendengar bunyi notifikasi, otomatis tanganku merogoh saku celana dan membuka ponsel.
Dewi
[Ra, nggak ada orang di rumah. Nanti kamu masuk aja, pagarnya nggak aku kunci. Aku masih ke minimart. Jangan lupa nyalakan lampu teras]
Aku membaca pesan dari Dewi, temanku, si empunya rumah. Segera saja aku membuka pintu pagar, melangkah ke teras dan mencari tombol lampu.
"Gelap banget? Mana sepi juga. Sudah tahu sore, kenapa lampunya nggak langsung dinyalakan sekalian sama Si Dewi?" gerutuku saat sudah menyalakan lampu.
Aku sedikit takut melihat rumah Dewi yang begini luas, sepi, ditambah lagi ada pohon beringin besar dekat taman yang membuat bulu kudukku makin meremang. Belum lagi sekarang menjelang magrib. Duduk di kursi kayu, aku membuka ponsel ingin membaca novel online.
Akan tetapi, tiba-tiba saja terdengar suara gamelan di ruang depan dekat taman. Ruang itu adalah tempat biasanya Dewi, aku, dan teman-teman ibunya berlatih karawitan. Karena penasaran, aku berjalan menuju sumber suara di sebelah kanan teras.
Kakiku berhenti saat melihat ada bayangan seorang perempuan berkonde dengan baju kebaya motif bunga warna biru masuk ke ruang karawitan.
"Katanya belum ada yang datang, tapi lampu depan ruangan sudah menyala. Sepertinya pelatih karawitan juga sudah datang," gumamku.
Berdiri di depan ruang karawitan yang terlihat remang, karena hanya lampu depan yang terang. Di antara keremangan, aku melihat perempuan berkebaya ada di dalam, sedang memainkan salah satu gamelan. Tanganku bergerak ingin membuka pintu saat terdengar suara Dewi.
"Ra! Kamu ngapain berdiri di situ!" teriak Dewi mendekati dan menarik kuat tanganku yang sudah memegang handle pintu. Aku hampir terjengkal oleh tarikan Dewi.
Aku berusaha melepas, tapi tak mampu karena Dewi mencengkram begitu kuat. Tanganku dilepas saat sudah tiba di teras. Aku menatap Dewi bingung.
"Aku tadi mau masuk ruangan karena melihat pelatih karawitan sudah datang," ucapku pelan.
"Ra, ruang karawitan ada di sebelah kanan kita. Kamu tadi berdiri di depan pohon beringin besar samping pos sekuriti," gusar Dewi.
Aku menoleh pohon beringin yang dikatakan Dewi, terlihat perempuan berkebaya berdiri di depannya dan menyeringai seram padaku.
Deg. Jantungku berdegup tidak beraturan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar