Kamis, 21 November 2024

TUNDO RETO

                                Pic. Canva

Seorang wanita dan pria paruh baya sedang berbincang santai di teras rumah. Mereka adalah sepasang kakak adik. Sang pria merupakan kakak dari wanita itu. Hampir setiap pagi sang kakak selalu berkunjung ke rumah si adik yang hanya tinggal berdua dengan putrinya. Sebenarnya si adik kesal juga dengan kunjungannya yang rutin tiap pagi dan sore. Namun, mau bagaimana lagi. Tidak mungkin dia mengusir sang kakak.

“Permisi, Kang.”

Tiba-tiba, bincang pagi kakak beradik itu diusik oleh suara agak cempreng seorang wanita.

“Iya, Mbok Darmi, ada apa?” sahut si kakak yang bernama Siman. Dia melihat sosok Mbok Darmi yang sedang memakai caping di kepala dan baju dinas mencari rumput.

“Kang, aku boleh ambil tanaman lotes di depan itu? Buat makan kambingku.” Mbok Darmi menatap Siman dan Suli adiknya.

“Sul, boleh nggak tuh si Darmi?”

Suli menggeleng.

“Maaf, Mi, gak boleh. Kalau buat makan kamu sendiri ambil aja. Itu lotes tinggal sedikit. Biasanya Mak Inem ambil buat dibikin sayur. Kambingmu kamu ambilkan rumput atau tanaman lain yang ada di samping rumah saja. Tuh, banyak yang ijo-ijo.” Suli berdiri dan menunjuk pohon mahoni yang masih beranjak remaja dan banyak daun muda. Mbok Darmi mengikutinya.

“Nah, banyak ‘kan daun mudanya kayu mahoni,” cetus Suli. 
Tangan Suli menunjuk jajaran bekas potongan pohon mahoni yang telah tumbuh daun-daun. Potongan pohon itu dijadikan semacam pagar pembatas antara rumah Suli dan tetangganya yang bernama Mbah Nem. Sekarang, potongan pohon itu telah banyak tumbuh daun. Biasanya juga diminta orang-orang yang membutuhkan untuk makanan hewan piaraan mereka. Tidak hanya mahoni, tapi ada juga pohon lamtoro.

“Apalagi daun muda beneran tambah mantap, Sul,” celetuk Mbok Darmi.

Suli mengerut keningnya mendengar celetukan wanita pekerja keras di depannya.
Mbok Darmi menggeleng melihat kepolosan Suli.
“Daun muda, Sul. Masak nggak ngerti, sih?!”
“Duh, Mbok Darmi, aku masih gak paham.” Suli geleng-geleng kepala.
“Ah, sudah Sul gak usah dipikir." Mbok Darmi tidak melanjutkan pembahasan daun muda lagi.

"Eh, Sul, kamu sudah tahu belum kalau pengajian emak-emak besok Jumat pindah tempat?”

Sekali lagi Suli menggeleng.

Mbok Darmi menepuk keningnya.
“Aduh, Sulll, makanya jadi orang jangan sembunyi terus di gua. Sekali-sekali main ke tetangga kenapa.”

“Males, isinya gosip,” ucap Suli cuek.

“Ya tidak semuanya lah. Eh, Sul, dengerin, ya. Jumat besok tuh, pengajiannya pindah ke rumah Parti karena permintaan anaknya yang baru datang dari Malaysia,” ungkap Mbok Darmi.

“Seharusnya di rumah si Kom, kan?”

“Betul. Denger-denger sih, anaknya Parti yang minta. Ia ingin didoakan biar pekerjaannya lancar jaya. Ini ‘sih tundo reto, Sul. Belum semua anggota pengajian tahu,” ungkap Mbok Darmi lagi.

“Makasih informasinya, Mbok. Monggo kalau mau ambil daun mudanya.” Suli mempersilakan Mbok Darmi untuk meneruskan pekerjaannya, sementara dia kembali menemani kakaknya-Siman yang masih betah di rumahnya.

***
Sepeninggal kakaknya, Suli masuk rumah sambil membawa gelas kopi yang isinya telah habis.

“Bu, tadi Minar dengar kalau pengajiannya pindah ya?”

Suli terkejut mendengar suara Minar-anaknya yang tiba-tiba muncul dari pintu belakang.

“Eh, betul, Min. Kamu dengar juga omongan si Darmi. Tundo reto katanya, Min. Jadi belum semua anggota pengajian tahu.”

Minar yang baru setahun tinggal di desa jelas saja bingung. Dahinya mengernyit.

Tundo reto?” gumamnya dalam tanya.
Wah, kosakata baru lagi, nih, celetuknya dalam hati.

“Bu, Minar gak ngerti tundo reto itu apa?”

Suli tersenyum memaklumi dengan ketidakmengertian anaknya. Maklum saja, ini anak baru tinggal di desa setahun karena semenjak lulus TK dibawa bapaknya ke kota.
Minar menghampiri ibunya yang duduk di kursi dapur, tempat mereka berdua bercengkrama setiap harinya.

“Jadi, Minar Sayang, tundo reto itu artinya adalah informasi yang disampaikan dari satu orang ke orang lain.” Suli memberikan penjelasan yang singkat dan padat.

“Ohhh, dari mulut ke mulut, Bu?”

“Iya benar.”

“Alias mouth to mouth,” ucap Minar.

Opo maneh iku, Minar?” Ganti Suli yang bingung dengan ucapan anaknya.

Mouth to mouth sama dengan mulut ke mulut, Bu.” Minar meringis melihat tatapan aneh ibunya. 

***
Siapa yang pernah mengalami kebingungan kosakata baru di daerah baru? Banyak pasti yang pernah. Termasuk saya yang baru pindah ke daerah asal Ibu dan tempat lahir saya. Membutuhkan penyesuaian lumayan lama buat saya untuk mengerti dengan hal-hal baru.

Ketika ada orang berbicara, saya lebih banyak diam untuk mendengar. Kalau misalnya bahasa Jawanya tidak terlalu aneh mungkin bisa memahami, tapi jika sudah terdengar kata aneh, saya diam dan menyimpannya. Kemudian, tanya pada Ibu apa artinya kalau memang Bu Google tidak bisa menjawab pertanyaan saya.

Tinggal di tempat baru, membutuhkan adaptasi bahasa, manusia, lingkungan, dan lain-lain, serta risiko yang tidak pernah tahu. 

Semangat adaptasi lagi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aroma Zingiber

Rasa rempah di lidah akan berkurang, tapi rasa pedih di hati sulit menghilang Bibirku menguarkan segaris senyum saat menunggu gi...