Rabu, 20 November 2024

Melepas Rindu



Akhirnya, sampai juga di tempat yang paling ingin aku kunjungi. Bertahun menantimu. Saat berpasang bibir saling pamer akan keindahanmu, aku hanya diam. Aku menanti luangku diantara padatnya aktivitasku. Menanti dalam jemu untuk melepas temu dan rindu.


Aku menarik napas lalu kuembuskan lagi. Terlihat sedikit uap menguar dari sepasang bibirku yang beku akan dinginmu. Ketebalan jaketku pun hanya sedikit mengurangi. Sarung tangan yang membungkus erat jemari masih menembus pori kulitku.


Padang pasir membentang ditemani barisan mobil jip warna-warni bersama ratusan manusia yang berlomba mencari kehangatan di jajaran warung. Di depan parkir mobil, berderet warung-warung menyediakan aneka menu. Benakku tidak beranjak dari sebuah menu dengan asap mengepul, kehangatan semangkuk kuah dengan mi dan segelas susu coklat hangat. 


Hmmm … salivaku sudah meleleh di gua mulut yang menanti masuknya kuah berasa kari atau ayam bawang ataupun yang lain. Tidak bisa menahan, aku segera masuk ke sebuah warung, memesan apa yang kuimajinasikan. 


Menunggu dengan kesabaran suhu 7⁰ Celcius, aku meraih perkedel tahu mix bihun yang panas. Tidak terasa menghabiskan dua perkedel tahu yang lezat. Beberapa menit berlalu, ibu pemilik warung memberiku semangkuk mi kuah ayam bawang.


Kupandangi mi kuah dengan kepulan uap seperti asap kawah Gunung Bromo yang membumbung ke angkasa. Uapnya menyeruak, menyelusup, menyentuh bulu-bulu penciumanku. Menyeruput kuah hangat, hmmm … sangat nikmat. Nikmat manalagi yang perlu engkau dustakan, batinku.


Hangatnya mi mampu menghangatkan jiwa ragaku yang telah terkoyak oleh dinginnya suhu Bromo semenjak dini hari. Jemariku tak lagi beku, berganti dengan hangat  yang mendekap erat raga dan sukmaku.


Saat hangat telah menyelimuti, kembali kulangkahkan kaki, menikmati segenap keindahan alamnya. Bromo, kuakan selalu mengingat jelitamu. Engkaulah keindahan. Terima kasih Bromo untuk rupawanmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Aroma Zingiber

Rasa rempah di lidah akan berkurang, tapi rasa pedih di hati sulit menghilang Bibirku menguarkan segaris senyum saat menunggu gi...