Terlihat dua sosok dewasa sedang bercengkerama di sebuah ruang tengah sederhana, yang berisikan televisi tabung 14”. Di tengah ruangan ada tikar yang biasanya difungsikan tempat makan sembari ngobrol. Seorang wanita setengah baya tengah mengomel pada seorang lelaki, tetapi lelaki yang berstatus anak dari wanita itu suka menarik ulur emosi wanita yang notabenenya adalah sang emak. Ada sedikit perselisihan kata, tetapi tidak terbawa emosi berlebihan.
"Mengapa, Mak? Karji kebetulan saja bertemu Wati di jalan. Dia habis belanja, sendirian di jalan dan panas lagi. Bawa belanjaan lumayan banyak. Dia 'kan teman Karjo, juga Karji. Memang tidak boleh ya bantu teman, apalagi kami se-desa dan teman dari kecil," bantah Karji pelan, dia masih kesal dengan omelan Emak yang enggan berhenti jika membahas tentang Wati.
Emaknya mendengarkan pembelaan Karji, menatap anak lelakinya yang sudah dewasa.
"Kamu tambah pintar ngomong ya sekarang. Kamu tidak tahu sakit hati yang Emak rasakan. Sakitnya 'tuh di sini," ucap Emak menunjuk dada.
"Mak! Mak! Seperti lagu saja. Sakitnya 'tuh di sini," ujar Karji cengengesan.
"Aduh!" rintih Karji terkejut saat merasakan sakit di kepalanya. Dia melihat Emak yang sudah mengacungkan gayung air di sampingnya dengan mata melotot.
"Jangan melotot, Mak. Seremm. Mirip Suzana. Bokirr minta satenya," gurau Karji menurunkan emosi Emaknya. Wajahnya cengar cengir.
Dua puluh lima tahun emak melahirkan dan membesarkan sepasang anak kembar. Air mata dan keringat menetes deras dari tubuh kurusnya, demi kelangsungan perut dan sekolah putra kembarnya. Lima tahun berjuang bersama suami, tersisa dua puluh tahun dia harus membanting tulangnya sendiri. Sang suami kepincut wanita lain yang lebih muda dan kaya. Hati wanita mana yang tidak sakit.
Mata emak berkaca-kaca, dia memalingkan muka. Lalu berdiri dan berjalan kembali ke dapur. Karji melihat air menggenang di pelupuk mata emak, hatinya sakit melihat emaknya tersakiti oleh kata-katanya. Dia menyusul emaknya ke dapur, tapi tidak ada.
Dari dapur, Karji mendengar tangis lirih seorang wanita. Dia mencari sumbernya, berasal dari halaman belakang. Dengan berjingkat Karji melihat Emak menunduk di ranjang bambu bawah pohon jambu. Biasanya di ranjang ini, mereka bertiga makan dan bercengkrama bersama.
Karji menghampiri Emak dan duduk di sebelah, dia membelai punggung emak.
"Mak, maafkan Karji, ya. Tidak ada maksud anakmu ini untuk membantah dan durhaka pada Emak. Karji harap, Emak memahami apa yang Karji bilang. Yang Karji lakukan tadi murni membantu Wati, tidak ada maksud lain," hibur Karji.
Emak membisu, tapi air matanya mengalir tanpa henti. Karji hatinya sakit, sakit untuk Emak dan Wati. Dia menatap emaknya, lalu memeluk tubuh kurus emak.
Maafkan aku, Mak, batin Karji masih mengelus punggung Emak.
Emaknya yang superwoman, sedari dia dan Karjo kecil hanya mengenal wajah wanita ini. Sang bapak tidak pernah ada dalam benak mereka, tidak ingat lagi rupa bapak. Karji teriris hatinya melihat bagaimana perjuangan wanita satu-satunya di rumah. Mulai pagi hingga petang melakukan semua sendiri, seperti lagu Om Caca Handika yang masak-masak sendiri, makan-makan sendiri.
"Maafkan Emak juga, Ji. Terlalu emosional melihat kamu dan Wati," ujar Emak dengan suara gemetar menahan emosi.
"Karji minta maaf belum bisa membahagiakan Emak. Masih saja suka merepotkan Emak."
Karji meraih kedua tangan surga emak dan menciumnya, lalu dia memeluk.
"Emak kamu apakan, Ji? Habis nangis, ya?"
Suara Karjo mengagetkan Karji, dia mendekati Emak dan adik kembarnya.
"Tidak apa-apa, hanya salah paham sedikit,"kata Karji
"Kamu dari mana saja? Kita berangkat bareng, tapi tiba-tiba kamu lenyap," tanya Karji curiga.
"Akuuu ... ada janjian sama temanku," jawab Karjo terbata.
"Mengapa kamu gugup? Apa yang kamu sembunyikan?" Selidik Karji, matanya menatap tajam sang kakak kembar.
Karjo tersenyum simpul, dia segera melarikan diri dari cecaran Karji yang bakalan panjang dan tak berujung. Dia sudah sangat mengenal mengenal sifat si adik, begitu menemukan sedikit keanehan, akan dikejar sampai menemukan jawabnya. Memang susah punya adik pintar, pikir Karjo sambil masuk ke kamarnya. Salahnya juga tadi menghilang tanpa pamit. Untungnya dia dan Wati tidak berbarengan pulangnya.
Di dalam kamar, Karjo membaringkan tubuh dan menatap langit kamar bersama imajinasi senyum manis seseorang yang enggan beranjak. Tuhan, begini ya rasanya jatuh cinta. Berdebar, bahagia dan teringat senyumnya adalah sejuta bahagia.
Wajah Wati tertata dengan rapi di barisan imajinya, sedari kecil pesona Wati sedikit menyentil hati polos Karjo. Rambut hitamnya yang lurus sebahu selalu harum, mata cerahnya, dan dagu terbelahnya.
Wati … Wati, engkau memakai ramuan apa sehingga aku terpesona olehmu. Karjo menutup mata dengan tangan kanan, menggali kembali wajah jelita Wati.
* * *
"Kalian berdua ini, ya, seperti tidak ada perempuan lain saja. Mengapa harus menyukai wanita yang sama?"
Emak mengacungkan jari telunjuk ke wajah anak kembarnya. Si kembar menunduk, lalu Karjo mendongak.
"Mak, aku lebih tua, seharusnya aku lebih dulu suka Wati. Enak saja aku harus mengalah sama Karji. Dia 'kan lebih kecil, ngalah dong, Ji," ujar Karjo. Karji tersenyum.
"Atas dasar apa aku harus ngalah dari kamu, Mas. Hanya karena kamu lebih dulu lahir, lalu aku harus ngalah? Maaf ya, Mas. Ini cinta bukan krupuk yang gampang dibeli," balas Karji tidak mau kalah.
"Kalian berdua sudah dewasa, kok, ya, masih rebutan gadis. Lihat. Gadis yang kalian perebutkan hanya diam dan tersenyum melihat kebodohan kalian," sahut Emak gemas.
"Wati, mengapa kamu tersenyum? Tidak bisakah kamu memilih satu di antara kami?" tanya Karjo.
Emak langsung meraih sebatang sapu yang berdiri manis di sebelah dan akan memukul Karjo.
"Mak, jangan dipukul. Mereka sudah besar, tapi, Mak, saya tidak bisa jika disuruh pilih salah satu karena saya suka kedua anak Emak yang ganteng," kata Wati menunduk. Dia menggigit jemarinya.
"Lalu, apa yang kamu inginkan?" tanya Emak.
"Kalau diperbolehkan, saya ingin poliandri,Mak," jawab Wati dengan polos dan lugu.
"Whattt!! Apaaa!! Kamu jangan gila, Watiii!!" teriak Emak histeris.
Karjo pun terkejut, bangun dari tidur siangnya yang berisikan mimpi tidak jelas. Apa-apaan, kok mimpi Wati mau poliandri, Karjo menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Wati oh Wati.
Apakah adikku Karji juga menyukaimu? Mengapa dia muncul juga dalam mimpi? Apakah aku harus balapan cinta dengan adikku sendiri? Karjo mendengkus pelan, tapi mana mungkin? Beruntung itu tadi hanya mimpi indahnya, kalau benar terjadi, bagaimana reaksi Emak? Mungkin desa ini akan hancur oleh bombardir Emak, Karjo menyunggingkan senyum membayangkan imajinasinya. Walaupun sisi hati yang lain turut berkecamuk.
"Kamu kenapa, Mas? Senyum-senyum sendiri, memang di benakmu ada Tom and Jerry?" Karji tiba-tiba muncul di sebelah tempat tidur dengan membawa nama Tom and Jerry yang merupakan kartun favorit mereka berdua.
"Aku membayangkan Emak, apa yang bakal dilakukan kalau tahu aku tadi di pasar bantu Wati belanja," tanya Karjo.
"Ooo begitu. Rupanya tadi Mas sama Wati, lalu kenapa pulangnya tidak diantar sekalian?" Karjo melihat Karji dalam cemburu. Karji baru sadar jika sang kakak menghilang tadi karena membantu Wati.
"Kalau Emak tahu, kamu mungkin di suruh makan nasi putih ditemani sapi dan tidur sekalian di kandang sapi." Karji berkata dengan menahan senyum.
"Kamu tahu nggak, aku tadi sudah kena semprotan hama Emak. Gara-gara aku ketahuan ngobrol sebentar."
"Appaaa … tidak biasanya kamu bertindak bodoh, Karji?" tanya Karjo heran.
"Ceritanya, aku bertemu Wati di jalanan yang panasnya masya allah. Akhirnya aku menemani dia sampai dekat rumah. Saat mau sampai, Wati bilang terima kasih dan Emak melihat. Yah, apa daya. Akhirnya, Emak mengeluarkan senjata andalan semprotan hama dan aku pun berhasil membuat Emak termehek-mehek," jelas Karji panjang lebar.
"Ji, apa yang harus kita lakukan jika Emak tidak menyetujui kita dengan Wati? Apakah kita harus mengubur semua keinginan kita?" gerutu Karji.
"Emak tidak bakalan setuju kalian sama Wati. Cari yang lain, jangan sampai ya kalian membangkang," ujar Emak sambil mengacungkan kemoceng. Emak muncul dengan wajah membara kemarahan.
Karjo dan Karji diam membisu, keduanya saling melirik. Apa yang harus mereka lakukan? Akankah alam sudah enggan bersahabat dengannya.
"Mak, apa yang membuat bencimu semakin besar buat Wati?"
Emak tergugu, jawaban yang tidak mungkin dia ungkapkan. Karji menatap sang emak dalam beribu tanya, kalau emak tidak menjawab, siapa yang bakalan menjawab? Tanya Karjo dalam hati.
“Kalau tidak ada jawaban dari Emak, kami berdua akan tetap menikahi Wati. Dua lelaki dengan satu istri yang sama alias ... poliandri,” cetus Karji polos tanpa memandang emaknya.
Bug!
Kembar saudara melihat suara gedebug, dan terlihat tubuh emaknya tergeletak.
“Makkk!!!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar